Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Faculty of Psychology
Center for Life-Span Development (CLSD)
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • [Update 2026] Publikasi
  • Beranda
  • Life-Span Development
  • Life-Span Development
Arsip:

Life-Span Development

Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Friday, 27 February 2026

Halo, Sobat CLSD! Pada November 2024 sampai dengan Juli 2025, Senior School Husnul Khotimah BIAS (Bina Anak Sholeh) mengundang tim Center for Life-Span Development (CLSD) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadi mitra dan narasumber dalam kelas psikologi khusus lansia. Kegiatan ini menyajikan edukasi untuk menghadapi tantangan usia lanjut, dilaksanakan di Sekolah BIAS cabang Wirosaban dan Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mau tau cara apa saja yang diungkapkan dalam Senior School? Yuk simak artikel berikut ini!

Kegiatan Senior School ini dilaksanakan sebagai upaya CLSD untuk menuntun lansia yang menghadapi perubahan fisik, emosional, dan sosial yang tidak terhindarkan. Perubahan ini dapat membuat ketidaknyamanan kepada lansia, namun CLSD hadir untuk memfasilitasi mereka dengan strategi menghadapinya. Dalam kerja sama ini, program psikoedukasi lansia ini mendukung terjaganya kesehatan kognitif dan spiritual lansia melalui pembelajaran interaktif dengan senam otak, aktivitas photovoice, worksheet menyenangkan, pembacaan Al-Quran, dan diskusi tentang kesehatan.

Pertemuan ke-1 dengan Bapak Drs. Haryanto, M.Si., Psikolog

Rangkaian kelas ini terdiri dari berbagai materi yang disampaikan oleh narasumber ahli yang merupakan dosen purna dan dosen aktif dari Fakultas Psikologi UGM. Dengan ini, Senior School diharapkan untuk memberikan wadah kepada semua untuk berbagi cerita tentang pengalaman mereka dan saling memahami. Dengan bantuan ahli dari Bapak Drs. Haryanto, M.Si., Psikolog, Ibu Dr. Aisah Indati, M.S., Psikolog, Bapak Drs. Fauzan Heru Santhoso, M.Si., Ph.D., Psikolog, Ibu Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S., Psikolog, dan Ibu Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog sebagai narasumber, program ini pun berjalan dengan lancar.

Senior School dibuka dengan materi pertama, yaitu “Memahami Diri di Masa Lansia” yang mengupas perubahan kognitif, fisik, sosial, dan emosional, beserta strategi mencapai successful aging. Dengan pemaparan ini, peserta belajar mengenali hal-hal tersebut agar siap menghadapinya dan menjadikannya peluang untuk berkembang. Senior School juga memberikan materi “Kesehatan Mental Lansia” pada sesi selanjutnya. Materi ini membahas permasalahan kesehatan mental yang sering terjadi di masa lansia, termasuk definisi, kriteria, penyebabnya, dan juga cara mengatasinya.

Pada materi “Mengenal dan Mengelola Emosi di Masa Lansia”, peserta diajak untuk mengidentifikasi emosi dasar, memahami emosi mereka, dan cara respons yang sehat dengan worksheet interaktif. Selain itu, Senior School juga mencakup materi “Komunikasi Positif” yang membahas pondasi komunikasi, tantangannya dalam sehari-hari, serta tips praktis pertahankan hubungan harmonis. Dalam materi ini, peserta mengerjakan worksheet yang melatih cara berkomunikasi secara positif juga lho, Sobat!Peserta juga diajarkan untuk mencegah penurunan kemampuan kognitif pada materi “Menjaga Ingatan dan Kecerdasan” dengan aktivitas stimulasi otak. Peserta dapat belajar bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, berubah, dan berkembang. Walaupun otak kita ada kemungkinan untuk mengalami penurunan, kita tetap bisa membuatnya berkembang, lho! Sobat CLSD juga bisa nih, mempraktikkannya di rumah dengan melakukan latihan sederhana seperti senam otak, teka-teki, membaca, atau menyelesaikan masalah dengan berdiskusi.

Suasana bahagia peserta Senior School

Senior School ditutup dengan materi “Kebermaknaan Hidup”, di mana peserta diajak untuk refleksi perjalanan hidup, mencari sumber makna, dan konsep generativitas, yaitu memberi warisan positif bagi generasi muda. Setiap sesi Senior School dilengkapi ice breaking, diskusi, dan aktivitas seru seperti photovoice yang mengajak peserta untuk menerapkan ilmunya. Ujar peserta pada refleksi akhir sesi, “Kelas ini tuh bermanfaat, belajar hal-hal yang sebelumnya tidak dipelajari secara formal”.

Terima kasih kami ucapkan kepada Senior School Husnul Khotimah BIAS, para narasumber, peserta, dan tim CLSD yang berhasil menyukseskan kegiatan ini. Dengan ini, Senior School diharapkan untuk memberikan dukungan psikologis kepada lansia yang dapat meningkatkan emosi positif dan wellbeing mereka. Semoga para peserta dapat merasakan manfaat dari Senior School ini, dan semoga kita semua juga mendapatkan ilmu yang berharga dari semua ini. Sampai jumpa di kegiatan CLSD berikutnya, Sobat!

Penulis: Naafia Halia
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Tuesday, 24 February 2026

Hai, Sobat CLSD! Pada Agustus 2025 hingga Desember 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) sukses melaksanakan rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Kegiatan ini adalah bentuk kerja sama dengan Ruang Literasi Kaliurang yang dilaksanakan selama empat kali dengan frekuensi satu bulan sekali. Melalui kegiatan ini, sebanyak 37 anak-anak dari kelompok usia 3 – 4 tahun didampingi oleh orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan membaca nyaring interaktif. Selain itu, kegiatan ini juga diwarnai dengan permainan edukatif sesuai dengan tema buku yang dibawakan, mulai dari cara menjaga kebersihan sampai pengenalan bahan makanan. Kegiatan ini merupakan upaya CLSD untuk menanamkan kesadaran pentingnya literasi pada anak usia dini. Ingin telisik lebih lanjut bagaimana keseruan rangkaian kegiatannya? Yuk, simak liputan di bawah ini!

The Reading Buddies: On the Go pertama diadakan pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Guna menunjang keberlangsungan acara, CLSD menghadirkan beberapa fasilitator yang terdiri atas Irrine Puspa Pertiwi, Rifda Amira Mulika, Regia Zahra Humaira, dan Ulul Ilmi. Para fasilitator kemudian membacakan Awan Lalat, buku cerita yang mengisahkan tentang rumah seorang gadis yang dihinggapi sekumpulan lalat karena kurang menjaga kebersihan diri. Menariknya, setelah sesi baca nyaring dilaksanakan, peserta berkesempatan untuk berpartisipasi dalam empat permainan kreatif yang diadaptasi dari buku cerita tersebut. Adapun permainan ini terdiri dari membersihkan meja makan, membuang sampah pada tempatnya, mencuci piring dan tangan, dan isi piringmu. Melalui kegiatan “isi piringmu”, anak-anak belajar membuat kerajinan tangan berupa bahan makanan secara kreatif. Kegiatan ini diharapkan dapat mengajarkan anak-anak terkait pentingnya menghargai makanan dan mengelola sampah berupa sisa-sisa makanan dengan baik.

Antusiasme The Reading Buddies: On the Go kedua kembali menggema di Ruang Literasi Kaliurang pada Sabtu, 27 September 2025. Acara ini membawakan buku cerita Mimpi Loni dalam kegiatan membaca nyaring yang dipandu oleh Rahmita Laily Muhtadini, Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, dan Irrine Puspa Pertiwi. Jalan cerita Mimpi Loni berfokus pada pengalaman seekor bunglon yang berubah menjadi aneka binatang dalam mimpinya sebagai perjalanan menerima diri sendiri. Kegiatan membaca nyaring kemudian disambung dengan pelaksanaan bookish play di mana anak-anak mengikuti kegiatan mencocokkan warna lingkungan dengan warna bunglon. Masih dalam permainan kreasi binatang serupa, anak-anak kemudian berkesempatan untuk mengisi dan menempel benda-benda bertekstur pada pola binatang yang telah disajikan. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mengenal ragam binatang melalui rangkaian permainan yang penuh makna serta memahami bahwa tiap binatang dikaruniai dengan masing-masing karakteristik yang sesuai dengan habitatnya. 

Berbeda dengan konsep acara sebelumnya, The Reading Buddies: On the Go ketiga membawakan Tiju si Pemburu Keju dalam kegiatan membaca nyaring pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Buku cerita ini mengajak anak-anak untuk menelusuri perjalanan seekor tikus yang berburu keju untuk mengisi rasa laparnya. Antusiasme anak-anak meningkat seiring mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu rangkaian permainan berupa pengenalan bahan makanan yang dipandu oleh Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, Nabila Jauza, dan Rafidatul Hikam. Pengenalan bahan makanan dikemas melalui kegiatan mencari keju dan membuat roti dengan playdough. Selayaknya koki sesungguhnya, anak-anak sebelumnya juga diajak untuk membuat topi koki yang akan digunakan selama pembuatan bahan makanan. Pemakaian atribut sebagai koki menjadi salah satu alasan terbentuknya nuansa permainan ini terasa lebih nyata dan menyenangkan. 

Pengenalan bahan makanan melalui buku kembali disemarakkan melalui The Reading Buddies: On the Go yang dilaksanakan pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kegiatan dimulai dengan membaca nyaring buku cerita Kue Lapis Harimau tentang seekor harimau yang gemar membuat kue, yaitu hobi yang berbeda dari teman-teman binatang lainnya. Keseruan kegiatan kemudian dilanjut dengan bookish play, seperti belanja dan mengenali bahan kue. Dalam kesempatan kali ini, anak-anak belajar untuk mengenal bahan pembuatan kue, seperti tepung, garam, gula, daun pandan dan lain-lain. Tidak hanya itu, rasa penasaran mereka terkait cara membuat kue terjawab melalui praktik bersama. Keseruan acara ini tentu tidak lepas dari berbagai ide kreatif dan inovatif dari fasilitator, yaitu Rahmita Laily Muhtadini, Osi Livia S, Pandu Adyatma Ramadhani, dan Adelio Helga Martansyah, yang berhasil membuat rangkaian acara mengukir senyum pada wajah anak-anak.

Semangat untuk terus belajar dan dan bertumbuh bersama menjadi nilai utama yang tercermin dalam Rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Hal ini turut ditunjukkan dengan meningkatnya antusiasme anak di setiap pertemuannya. Acara ini diharapkan dapat mendorong orang tua untuk berpartisipasi secara aktif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan imajinasi anak melalui literasi.

Penasaran dengan keseruan The Reading Buddies lainnya? 
Yuk, pantau terus informasi terbaru melalui laman resmi CLSD!

Penulis: Daveisha Pavita Kirana
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Peduli Isu Disabilitas, International Dental Summer Course 2025 Soroti Layanan Kesehatan Inklusif

ArtikelArtikelArtikel Liputan KegiatanSummer Course Monday, 23 February 2026

International Dental Summer Course (IDSC) 2025 merupakan program yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UGM bekerja sama dengan Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi UGM sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan layanan kesehatan gigi masa kini. Mengusung tema besar “Transforming Oral Health Care: Implementing Digital Dentistry for Special Needs Communities”, IDSC 2025 mengangkat topik pembahasan mengenai berbagai aspek kedokteran gigi digital, khususnya penerapannya bagi individu dengan disabilitas fisik, perkembangan, dan intelektual. Program ini juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap aspek psikologis dalam pelayanan pasien serta pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas dan hasil klinis.

IDSC 2025 diikuti oleh mahasiswa sarjana dan pascasarjana internasional dari Fakultas Kedokteran Gigi, Teknik, dan Psikologi di kawasan Asia, seperti Filipina, Rumania, Mesir, Pakistan, dan Qatar. Program ini berlangsung selama dua pekan, yakni pada tanggal 1-4 Juli untuk rangkaian kegiatan pre-event yang dilaksanakan secara daring dan 7-14 Juli untuk rangkaian kegiatan main-event yang dilaksanakan secara luring. Rangkaian kegiatan mencakup sesi panel akademik, kunjungan laboratorium dan fakultas, proyek praktik langsung (hands-on), pengabdian masyarakat, serta kompetisi pitching yang dirancang untuk mendorong peserta memahami peran teknologi digital, pendekatan multidisipliner, serta aspek psikososial dalam mendukung layanan kesehatan gigi yang inklusif, khususnya bagi individu dengan kebutuhan khusus.

Pada Jumat, 4 Juli 2025, Center for Life-Span Development (CLSD), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, turut berpartisipasi dalam rangkaian acara IDSC 2025 dengan menghadirkan Prof. David Evans dari The University of Sydney sebagai pemateri pada sesi panel akademik Lecture 9 pada pre-event daring. Dalam sesi tersebut, Prof. David Evans membawakan topik Understanding People with Disabilities and Building Respectful Relationships in Health Care. Selanjutnya, CLSD juga mengisi sesi hands-on yang dilaksanakan pada Senin, 7 Juli 2025. Sesi ini dibawakan oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi UGM, dengan topik Foundations and Ethical Best Practices on Engaging Individuals with Disabilities. Baik sesi Lecture 9 maupun hands-on dimoderatori oleh Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi UGM.

Sesi panel akademik bersama Bapak Prof. David Evans dari University of Sydney

Pada sesi panel akademik Lecture 9, Bapak Prof. David Evans mengangkat isu bahwa hambatan yang dialami penyandang disabilitas kerap muncul bukan karena kondisi individu, melainkan akibat lingkungan dan fasilitas yang belum dirancang secara inklusif. Hal ini beliau sampaikan melalui pernyataan, “Disability is in the environment—consider how we design the environment to be barrier free and inclusive.” Dalam konteks layanan kedokteran gigi, perhatian terhadap akses fisik, pola komunikasi, serta pengalaman pasien menjadi penting agar tidak menimbulkan hambatan tambahan bagi penyandang disabilitas. Bapak David juga menyoroti digital dentistry yang berkembang untuk menggantikan metode tradisional dengan teknik yang lebih canggih dan minim tindakan invasif. Melalui pemaparan ini, peserta diajak untuk membangun relasi yang lebih setara, menghargai individu dengan disabilitas, serta memahami bahwa layanan kesehatan yang inklusif berangkat dari empati, kesadaran, dan perubahan cara pandang.

Sesi hands-on bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada

Pada sesi hands-on, Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. mengajak peserta memahami dasar-dasar penting dalam berinteraksi dengan individu penyandang disabilitas. Melalui pemaparannya, beliau memperkenalkan berbagai model disabilitas, termasuk Biopsychosocial Model yang memandang disabilitas sebagai hasil interaksi antara kondisi kesehatan, faktor individu, dan lingkungan, sebagaimana Ibu Elga menyampaikan bahwa “Disability is understood as the result of interactions between health conditions, individual factors, and environmental context.” Selain itu, dibahas pula Human Rights Model yang menempatkan disabilitas dalam kerangka hak asasi manusia dengan penekanan pada kesetaraan, martabat, dan partisipasi penuh dalam masyarakat, yang sejalan dengan pernyataan Ibu Elga dalam materi, yakni “Disability is a matter of equality, dignity, and full participation in society as human rights.” Pemaparan ini dilengkapi dengan penjelasan mengenai berbagai jenis disabilitas serta pentingnya menerapkan prinsip-prinsip etika, seperti autonomy, beneficence, justice, dan dignity dalam praktik profesional. 

Kemudian, materi tersebut diterapkan secara langsung melalui sesi hands-on yang terdiri dari tiga aktivitas interaktif. Aktivitas pertama, “Seeing Through Their Eyes”, menggunakan pendekatan photovoice reflection untuk mengajak peserta menganalisis foto dan narasi agar dapat memahami pengalaman hidup penyandang disabilitas, termasuk jenis disabilitas, emosi yang muncul, serta hambatan lingkungan yang sering luput disadari. Aktivitas kedua dilanjutkan dengan sesi ethical role-play “What Would You Do?” yang menghadirkan berbagai skenario nyata dalam layanan kesehatan gigi, seperti komunikasi dengan pasien non-verbal, penanganan pasien dengan autisme, persoalan persetujuan tindakan medis, dan perlindungan privasi pasien dengan disabilitas guna melatih peserta menerapkan prinsip etika dalam situasi sehari-hari. Sesi ini kemudian ditutup dengan aktivitas ketiga, “Inclusive Design Quick Challenge”, yakni peserta diberikan tantangan untuk merancang ulang bagian tertentu dari pengalaman pasien, seperti alur ruang tunggu, formulir persetujuan, atau proses pendaftaran agar lebih inklusif bagi individu, baik dengan disabilitas fisik, intelektual, maupun neurodivergen. Seluruh rangkaian aktivitas diakhiri dengan diskusi dan refleksi bersama sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan praktik nyata.

Melalui rangkaian kegiatan IDSC 2025, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepekaan, empati, serta kesadaran akan pentingnya layanan kesehatan gigi yang inklusif bagi seluruh individu. Kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Teknik UGM menjadi fondasi dalam mendorong praktik layanan kesehatan gigi yang tidak hanya ramah terhadap keberagaman, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan mengintegrasikan pendekatan psikologis dan pemanfaatan inovasi teknologi, IDSC 2025 diharapkan dapat berkontribusi dalam memperluas wawasan serta pengembangan layanan kesehatan gigi yang modern dan inklusif, baik di tingkat nasional maupun global.

Penulis: Hisha Latifah Daniswara
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Webinar Hari Anak 2025: Sehat Mental di Era Digital

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 19 February 2026

Poster registrasi webinar untuk Festival Hari Anak 2025

Dalam rangka memperingati Hari Anak 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang dibuka oleh Webinar Hari Anak. Mengangkat tema “Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital”, webinar tersebut dilaksanakan dalam tiga episode yang diselenggarakan secara daring dan bertahap pada 2, 9, dan 16 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan psikolog dan akademisi Fakultas Psikologi UGM sebagai narasumber pada setiap episodenya. Ditujukan pada orang tua, pendidik, serta masyarakat luas, webinar ini mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang serta kesehatan mental anak di era digital dengan lebih dalam.Kegiatan ini diselenggarakan sebagai tanggapan atas meningkatnya tantangan pada tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Pemakaian gadget sejak usia dini, perubahan pola interaksi sosial, serta risiko terhadap kesehatan mental menjadi masalah yang relevan untuk dibahas bersama. Maka dari itu, CLSD UGM berupaya untuk membuat ruang edukasi yang dapat diakses oleh orang tua, pendidik, dan masyarakat luas terwujud. Dilakukan secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, serta sesi tanya jawab, webinar ini tidak hanya ditunjukkan agar peserta menerima informasi, tetapi juga dapat merefleksikan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Episode 1, oleh Ibu Raninta Wulanwidanti, M.Psi., Psikolog, dalam “Pendampingan Tumbuh Kembang Anak di Era Digitalisasi”

Episode pertama dibawakan oleh Ibu Raninta Wulanwidanti, M.Psi., Psikolog dan mengangkat topik “Pendampingan Tumbuh Kembang Anak di Era Digitalisasi”. Potensi baik dari teknologi, dampaknya jika digunakan secara berlebihan, dan juga strategi untuk menavigasi berbagai dinamika yang sedang terjadi dipaparkan pada episode pertama. Dalam episode ini, Ibu Raninta menyampaikan, “Era digitalisasi ini membuka peluang baru, dan ini adalah tantangan baru untuk kita. Kuncinya adalah dalam penggunaan digital yang bijak dan bertanggungjawab”.

Episode 2, oleh Ibu Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, dalam “Buku di Tengah Gadget: Menumbuhkan Literasi Anak di Era Digital”.

Pada episode kedua, webinar ini menghadirkan Ibu Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog dengan topik “Buku di Tengah Gadget: Menumbuhkan Literasi Anak di Era Digital”. Episode ini memaparkan tantangan dan strategi praktis dalam mengembangkan literasi anak di tengah dominasi perangkat digital, termasuk bagaimana cara menggunakan gadget sebagai alat yang dapat membantu menumbuhkan minat baca anak, bukan menghalanginya. Pada episode ini, strategi yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak tanpa mengabaikan konteks digital yang ada dan penyesuaiannya dengan tahapan perkembangan anak juga dipaparkan. Salah satu strateginya adalah dengan metode read aloud, yaitu dengan membacakan buku dengan nyaring dan ekspresif, seperti mendongeng tertulis kepada anak.

Episode 3, oleh Ibu Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam “Mendampingi Anak dan Remaja untuk Sehat Mental di Era Digital”

Episode ketiga ditutup dengan topik “Mendampingi Anak dan Remaja untuk Sehat Mental di Era Digital” yang disampaikan oleh Ibu Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Materi pada episode ini berfokus pada isu kesehatan mental anak dan remaja, termasuk dampak dari adiksi digital, risikonya, serta peran orang tua dalam pengawasan penggunaan teknologi digital pada anak. Selain itu, peserta juga diajak memahami tanda-tanda awal seseorang mengalami stres dan langkah yang dapat dilakukan secara tepat. Ibu Zahra menambahkan dalam episode yang dibawakannya, “Orang tua dapat memberikan tameng pada anak-anaknya dengan menyosialisasikan apa saja nilai-nilai penting dalam keluarga untuk dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari sedari kecil”.

Melalui penyelenggaraan webinar episode 1, 2, dan 3 ini, CLSD UGM berupaya mendorong masyarakat agar semakin memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai pendampingan anak di era digital. Kegiatan ini sekaligus menekankan upaya Fakultas Psikologi UGM dalam memberikan psikoedukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kedepannya, CLSD UGM berencana untuk terus menghadirkan program serupa sebagai upaya berkelanjutan dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak di Indonesia.

Penulis: Naafia Halia
Reviewer: Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi

Di Balik Niat Baik: Risiko Tersembunyi dalam Kegiatan Relawan di Panti Asuhan

ArtikelArtikelCLSDPedia Thursday, 12 February 2026

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari, S.Psi., M.A., Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A., Zararah Yusri Nasution, S.Psi., M.A., Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A.

Saat ini kegiatan relawan (volunteer) telah menjadi kegiatan yang semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Kegiatan relawan dipandang sebagai sarana untuk menciptakan perubahan positif dan sarana yang dapat menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) bagi berbagai negara (Koirala & Harsamto, 2024). Di Indonesia, budaya “gotong royong” yaitu saling tolong menolong, saling membantu, dan bekerja sama telah mengakar kuat dan mencerminkan kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Budaya inilah yang mendorong dan mendukung adanya kegiatan relawan di Indonesia (Alfatih et al., 2025). Secara spesifik, kegiatan relawan adalah suatu kegiatan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan tertentu demi kepentingan orang lain yang dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental, baik bagi sukarelawan maupun komunitas (Famdale et al., 2025).

Motivasi individu atau kelompok melakukan kegiatan relawan sangatlah beragam. Altruisme kerap kali menjadi motivasi utama yang mendorong individu atau kelompok untuk menjadi sukarelawan. Motivasi ini umumnya sering kali berakar dari empati yang tinggi, yang kemudian memunculkan keinginan kuat untuk membantu orang lain (Unger, 1991). Altruisme mendorong sukarelawan untuk fokus pada kesejahteraan anak-anak. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Proyrungroj (2017) bahwa keinginan untuk membantu anak-anak adalah motivasi yang paling menonjol dengan berbagai ungkapan seperti untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak dan untuk membuat hidup anak-anak lebih baik. Penelitian Luping (2011) mengungkapkan bahwa motivasi sukarelawan juga berasal dari rasa tanggung jawab bahwa mereka merasakan rasa bersalah ketika melihat kesedihan yang dialami orang-orang yang membutuhkan tetapi tidak memperoleh bantuan. 

Secara umum, tindakan sukarela merupakan aktivitas kontribusi yang tidak mencari imbalan atau kompensasi. Namun kenyataannya, para sukarelawan sering kali memiliki harapan atau ekspektasi ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan relawan (Luping, 2011). Selain ada rasa tanggung jawab ingin membantu orang lain, para sukarelawan juga menyebutkan berbagai motif yang berkaitan dengan pengembangan diri mereka. Contohnya adalah ingin menemukan potensi diri, memperluas relasi, memperkaya makna hidup, meningkatkan keterampilan, rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, keterampilan interpersonal, dan lain sebagainya (Luping, 2011; Proyrungroj, 2017).  Salah satu kegiatan relawan yang paling sering ditemui adalah kegiatan relawan terhadap anak-anak dan remaja rentan yang tinggal di panti asuhan (Zeanah et al., 2019).

Beberapa contoh aktivitas relawan yang dilakukan di panti asuhan, yaitu berkunjung melihat kondisi anak-anak, memberikan bantuan uang atau barang, serta bermain dan belajar bersama anak (Van Doore & Nhep, 2023). Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya terjadi dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, sukarelawan juga dapat berkontribusi membantu panti asuhan merawat anak-anak, bahkan dapat tinggal di panti asuhan selama periode waktu tertentu (Van Doore & Nhep, 2023). Meskipun sebagian besar sukarelawan memiliki niat ingin memberikan kontribusi untuk mendukung kehidupan anak-anak di panti asuhan, kegiatan relawan ternyata juga berisiko dapat merugikan anak-anak.

Kegiatan relawan dapat berisiko bagi anak jika pihak panti asuhan maupun para relawan tidak mempertimbangkan tantangan etika yang muncul serta tidak melihat dari sudut pandang anak. Sebagai contoh, relawan biasanya berekspektasi bahwa anak-anak panti asuhan akan selalu menemani aktivitas relawan bahkan anak terkadang harus membolos sekolah dengan tujuan untuk menghibur relawan yang datang (Havens, 2018). Selanjutnya, dalam penelitian Guiney (2018) pihak panti asuhan juga mendorong anak untuk menunjukkan kesan miskin tetapi bahagia agar dapat memunculkan empati dari para relawan dan donatur. Hal seperti ini tentunya juga memunculkan kemungkinan eksploitasi karena memanfaatkan emosi dan empati anak agar memperoleh donasi. Risiko juga muncul ketika kegiatan relawan lebih berorientasi pada pengalaman pribadi sukarelawan dalam mengisi waktu liburan daripada kebutuhan berkelanjutan anak di panti asuhan, yang diistilahkan dengan orphanage voluntourism (Van Doore & Nhep, 2023). Tidak hanya itu, relawan terkadang hanya berfokus untuk bermain dengan anak di panti asuhan dan tidak sepenuhnya memahami cara menyelenggarakan program dengan tepat, padahal hal tersebut berpotensi memicu permasalahan kelekatan anak.

Pada umumnya, anak-anak dapat berada di panti asuhan dikarenakan orang tua atau pengasuh utama mereka tidak mampu menyediakan pengasuhan dan perlindungan yang layak bagi anak. Ketidakmampuan orang tua dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kemiskinan ekstrem (orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak), kematian orang tua, perceraian orang tua, kasus penelantaran, kekerasan, atau keterbatasan mental (Whetten et al., 2011). Kondisi-kondisi tersebut membuat anak harus terpisah dengan orang tua atau pengasuh utama yang seharusnya menjadi sumber utama rasa aman sebagai dasar pembentukan perkembangan emosional yang sehat (Van Doore & Nhep, 2023). Pengalaman berpisah dengan orangtua atau pengasuh utama menyebabkan anak sulit meregulasi emosi ketika kembali mengalami perpisahaan atau disebut juga sebagai respons atas trauma perpisahan (trauma of separation) (Ismayilova et al., 2023).Tidak hanya itu, anak yang tinggal di panti asuhan juga rentan mengalami kesepian.

Ketika sukarelawan datang ke panti asuhan hanya untuk bermain tanpa tujuan yang terarah dan spesifik, hal tersebut justru dapat lebih sulit bagi anak-anak dalam jangka panjang. Meskipun bagi sukarelawan mungkin tampak seperti tindakan kasih sayang, tetapi anak-anak dapat dengan cepat terikat dengan para sukarelawan (Bott, 2021). Jika sukarelawan pergi tanpa interaksi lanjutan lalu digantikan oleh sukarelawan baru, anak-anak dapat semakin terluka secara psikologis akibat pengalaman perpisahan yang berulang. Hal ini memberikan efek psikologis yang buruk pada anak yang membuat anak-anak merasa bahwa pada akhirnya mereka akan ditinggalkan lagi (Van Doore & Nhep, 2023). Dapat disimpulkan bahwa kegiatan relawan berpotensi memperparah masalah emosional (Frimpong-Manso, 2021) dan gangguan kelekatan (Richter & Norman, 2010) jika tidak memiliki tujuan yang spesifik dan terarah untuk perkembangan anak. 

Anak-anak juga dapat berada dalam posisi rentan jika panti asuhan tidak memiliki kebijakan perlindungan anak atau jika pihak panti asuhan tidak melakukan penyaringan atau pemeriksaan latar belakang terhadap seluruh sukarelawan yang berkunjung (Lyneham & Facchini, 2019). Ketika panti asuhan memberikan akses tanpa batas kepada sukarelawan, hal ini dapat menempatkan anak-anak pada risiko eksploitasi oleh pihak-pihak yang berniat jahat, masalah perlindungan anak yang serius, kekerasan fisik dan seksual terhadap anak, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia (Van IJzendoorn et al., 2020). Kurangnya penegakan skrining yang tepat dan pembekalan keterampilan profesional terhadap relawan dapat memberikan kesempatan bagi pelanggar seks anak (Johnson, 2014). Hal ini adalah masalah yang perlu menjadi perhatian serius bagi pihak panti asuhan yang mungkin secara tidak sengaja mengekspos anak-anak pada risiko yang mengancam kesejahteraan seksual anak.

Berdasarkan pemaparan di atas, para pihak yang terkait dengan anak-anak di panti asuhan perlu memastikan bahwa kegiatan relawan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Banyak hal perlu dipertimbangkan secara cermat terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan anak-anak. Pertimbangan tersebut perlu memastikan adanya persetujuan yang jelas dari anak, menjamin perlindungan anak, tidak mengganggu hak anak, serta menempatkan tahapan perkembangan anak sebagai prioritas utama di dalam program. Tentunya, kegiatan relawan tidak boleh berfokus semata-mata sebagai sarana hiburan bagi relawan apalagi sebagai sarana panti asuhan untuk hanya memperoleh donasi. 

Sikap bertanggung jawab saat berkunjung ke panti asuhan dimulai jauh sebelum kunjungan dilakukan, yaitu melalui persiapan yang matang. Relawan perlu melakukan riset dan komunikasi proaktif dengan pihak panti untuk memahami kebutuhan anak, bukan sekadar memberikan hiburan sesaat (Al Jazeera, 2025). Prioritasnya adalah kontribusi berkelanjutan, seperti menawarkan keahlian (skill-based volunteering) atau membangun komitmen jangka panjang yang konsisten (Unicef, 2019). Komitmen ini perlu dipastikan untuk berlanjut bahkan setelah kegiatan selesai. Sukarelawan perlu menjaga komunikasi untuk proses evaluasi kegiatan, serta memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi donatur tetap demi keberlanjutan program sehingga dukungan tidak berhenti pada satu kunjungan saja.

Selama interaksi dengan anak, etika dan batasan menjadi kunci utama. Relawan harus menghormati privasi anak dengan tidak menanyakan masa lalu mereka dan selalu berfokus pada kebutuhan anak di atas pengalaman pribadi. Hal-hal yang berpotensi mengganggu anak secara emosional, seperti membuat janji palsu atau menunjukkan favoritisme, harus dihindari secara tegas. Selain itu, perlindungan identitas anak juga menjadi hal yang krusial. Sukarelawan perlu memastikan bahwa proses dokumentasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan serta perlu adanya konsensus dari anak serta izin yang jelas dari pihak yang berwenang jika akan melakukan publikasi wajah anak di media sosial (UNHCR Europe, n.d.). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, niat baik yang menjadi dasar kerelawanan dapat tersalurkan menjadi dampak positif yang nyata dan terhindar dari potensi bahaya yang tidak disadari oleh para sukarelawan.

Referensi

Alfatih, M. I., Rizal, E., Sjafirah, N. A., & Rusmana, A. (2025). Community volunteers and literacy activism in rural Indonesia: A phenomenological study from West Java. International Journal of Innovative Research and Scientific Studies, 8(5), 394–407. https://doi.org/10.53894/ijirss.v8i5.8673 

Bott, E. (2021). ‘My dark heaven’: Hidden voices in orphanage tourism. Annals of Tourism Research, 87, 103110. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.103110 

Dos and don’ts for volunteers: How to support refugees in a responsible and ethical manner. (n.d.). UNHCR Europe. Retrieved September 18, 2025, from https://www.unhcr.org/europe/ 

Famdale, C. C., Widyarini, L. A., & Louis, A. W. (2025). Intention to Stay Indonesian Volunteers: The Effect of Autonomy, Competence, Relatedness, Satisfaction and Spirituality. Indonesian Journal of Advanced Research, 4(1), 61–74. https://doi.org/10.55927/ijar.v4i1.12360 

Frimpong-Manso, K. (2021). Funding orphanages on donations and gifts: Implications for orphans in Ghana. New Ideas in Psychology, 60, 100835. https://doi.org/10.1016/j.newideapsych.2020.100835 

Guiney, T. (2018). “Hug‐an‐orphan vacations”: “Love” and emotion in orphanage tourism. The Geographical Journal, 184(2), 125–137. https://doi.org/10.1111/geoj.12218 

Havens, H. (2018). The Harms of Orphanage Voluntourism: Misperceptions among Volunteers [Graduate Thesis, Columbia University]. https://academiccommons.columbia.edu/doi/10.7916/D8C553BS 

Ismayilova, L., Claypool, E., & Heidorn, E. (2023). Trauma of separation: The social and emotional impact of institutionalization on children in a post-soviet country. BMC Public Health, 23(1), 366. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15275-w 

Johnson, A. K. (2014). Protecting Children’s Rights in Asian Tourism. The International Journal of Children’s Rights, 22(3), 581–617. https://doi.org/10.1163/15718182-02201001 

Koirala, N., & Harsamto, V. (2024). Studi mendalam untuk memahami kerelawanan dan praktik-praktik kerelawanan di Indonesia. Empatika, Indorelawan, dan Australian Volunteers. 

Luping, W. (2011). Motivations for Youth Volunteer Participation: Types and Structure—An Analysis of Interviews with Twenty-Four Young Volunteers. Chinese Education & Society, 44(2–3), 176–192. https://doi.org/10.2753/CED1061-1932440215 

Lyneham, S., & Facchini, L. (2019). Benevolent harm: Orphanages, voluntourism and child sexual exploitation in South-East Asia. Australian Institute of Criminology. https://doi.org/10.52922/ti09999 

Orphanage volunteering: The Do’s and Don’ts. (2025). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/video/people-power/2012/5/24/orphanage-volunteering-the-dos-and-donts 

Proyrungroj, R. (2017). Orphan Volunteer Tourism in Thailand: Volunteer Tourists’ Motivations And On-Site Experiences. Journal of Hospitality & Tourism Research, 41(5), 560–584. https://doi.org/10.1177/1096348014525639 

Richter, L. M., & Norman, A. (2010). AIDS orphan tourism: A threat to young children in residential care. Vulnerable Children and Youth Studies, 5(3), 217–229. https://doi.org/10.1080/17450128.2010.487124 

Unger, L. S. (1991). Altruism as a motivation to volunteer. Journal of Economic Psychology, 12(1), 71–100. https://doi.org/10.1016/0167-4870(91)90044-T 

Van Doore, K. E., & Nhep, R. (2023). Orphanage tourism and orphanage volunteering: Implications for children. Frontiers in Sustainable Tourism, 2, 1177091. https://doi.org/10.3389/frsut.2023.1177091 

Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M. J., Duschinsky, R., Fox, N. A., Goldman, P. S., Gunnar, M. R., Johnson, D. E., Nelson, C. A., Reijman, S., Skinner, G. C. M., Zeanah, C. H., & Sonuga-Barke, E. J. S. (2020). Institutionalisation and deinstitutionalisation of children 1: A systematic and integrative review of evidence regarding effects on development. The Lancet Psychiatry, 7(8), 703–720. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30399-2 

Volunteering in orphanages. (2019). Unicef. https://www.unicef.org/rosa/what-we-do/child-protection/volunteering-orphanages 

Whetten, K., Ostermann, J., Whetten, R., O’Donnell, K., Thielman, N., & The Positive Outcomes for Orphans Research Team. (2011). More than the loss of a parent: Potentially traumatic events among orphaned and abandoned children. Journal of Traumatic Stress, 24(2), 174–182. https://doi.org/10.1002/jts.20625

Zeanah, C. H., Wilke, N. G., Shauffer, C., Rochat, T., Howard, A. H., & Dozier, M. (2019). Misguided altruism: The risks of orphanage volunteering. The Lancet Child & Adolescent Health, 3(9), 592–593. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30213-5

Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Selasa, 25 Oktober 2025, CLSD sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi”. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga 16.30 WIB. Adapun acara ini diikuti oleh 111 peserta yang merupakan orang tua mahasiswa.

Webinar ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dalam menjaga keharmonisan hubungan secara psikologis dengan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Acara ini dikemas dalam bentuk talk show inspiratif dan interaktif. Acara diawali dengan pemberian sambutan oleh Ibu Aisha Sekar Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Kepala CLSD sekaligus moderator acara. Kemudian, Bapak Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM turut serta menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan talk show dengan kedua pembicara, yaitu Ibu Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Alissa Wahid sebagai psikolog keluarga.

Selama berlangsungnyatalk show, peserta berkesempatan untuk menelisik lebih jauh pengalaman kedua pembicara dalam membangun hubungan yang sehat secara psikologis dengan anak yang berada di perantauan. Ibu Elga menegaskan bahwa mengatur jarak komunikasi dan jarak emosional penting dilakukan oleh orang tua sehingga kemampuan anak dalam menghadapi masa pendewasaan selama merantau dapat lebih terasah. Adapun membangun jarak yang sehat dengan anak tentu tidak lepas dari tantangan yang muncul. Dalam hal ini, Ibu Alissa turut menceritakan tantangan yang dialaminya dalam menghadapi peralihan kehidupan anak ke masa perantauan. “Tantangan bagi banyak orang tua adalah harapannya anak mau cerita, harapannya kita selalu tahu apa yang terjadi pada anak, kemungkinan tidak akan mudah, tidak akan terpenuhi seperti gambaran kita,” ujar Ibu Alissa Wahid. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya penyesuaian komunikasi dengan karakter anak dalam menghadapi tantangan tersebut.

Pengalaman yang dibagikan oleh kedua pembicara sontak menggugah rasa penasaran peserta saat sesi tanya jawab. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan didasarkan pada pengalaman pribadi peserta dalam menghadapi proses transisi hubungan antara orang tua dan anak selama masa perkuliahan di perantauan. Melalui sesi tanya jawab, pemahaman dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak di perantauan terbentuk dengan lebih mendalam. 

Webinar “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi” merupakan wadah untuk berbagi informasi dalam meningkatkan kesadaran dan memupuk pemahaman orang tua terkait proses adaptasi dan transisi relasi antara orang tua dan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Melalui webinar ini, harapannya peserta dapat memahami dan menerapkan ilmu yang diberikan dalam membangun hubungan yang sehat dan bermakna dengan anak ke depannya.

Penulis: Daveisha Pavita Kirana
Reviewer: Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi

CLSD Onboarding in Wonderland: Memulai Perjalanan Internship dengan Semangat dan Kreativitas

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Jumat, 12 September 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan onboarding interns dengan tema “CLSD Onboarding in Wonderland” yang dilaksanakan di ruang K-203 Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Acara ini dihadiri oleh 45 peserta, terdiri dari para interns,  koordinator divisi, koordinator unit, peneliti, serta asisten CLSD. “CLSD Onboarding in Wonderland” dilaksanakan sebagai langkah awal para interns CLSD untuk mengenal lebih dalam visi, misi, serta dinamika kerja di CLSD.

Rangkaian acara dibuka oleh I Marannu Andi Khalisha, S.Psi selaku asisten CLSD sebagai master of ceremony. Selanjutnya, sesi pengenalan CLSD disampaikan oleh Ibu Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Koordinator CLSD, yang memberikan gambaran umum mengenai struktur keanggotaan, hak dan kewajiban interns, serta pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui program-program di CLSD. Pada sesi ini, para koordinator divisi juga memberikan penjelasan mengenai penugasan di divisi piket serta pengenalan interns yang tergabung di tiap divisi. 

Memasuki materi inti, Rahmita Laily Muhtadini, S.Psi., selaku koordinator Divisi E: Pengembangan Intern memaparkan materi “Day to Day as Intern” yang membahas aktivitas harian para interns selama terlibat di berbagai program dan aktivitas di CLSD. Pemaparan ini kemudian dilengkapi dengan pengenalan sejumlah program CLSD yang sedang berjalan, dengan tujuan memberikan gambaran kepada para intern mengenai berbagai program yang dapat mereka ikuti ke depannya. Pengenalan program disampaikan oleh Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A. serta Siti Afifa Choirunissah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku asisten CLSD. Rangkaian materi ditutup oleh Ibu Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Ph.D., Psikolog, selaku peneliti CLSD, yang menyampaikan materi mengenai value dan work ethics serta menekankan pentingnya menjunjung dan menerapkan CLSD values, meliputi nilai saling menghormati, profesionalisme, keadilan dan kesetaraan, kepedulian, sikap terbuka untuk berkompromi, komunikasi yang efektif, inisiatif, serta berpikir secara terbuka.

Acara ini juga menghadirkan sesi ice breaking sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan antarpeserta. Kebersamaan tersebut juga diperkuat melalui sharing session dari masing-masing divisi untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai fungsi dan aktivitas tiap divisi di CLSD. Selanjutnya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi awarding Kompetisi Buku Cerita Anak CLSD 2025, yaitu ajang yang diselenggarakan oleh CLSD untuk mendorong lahirnya karya cerita anak yang kreatif, imajinatif, dan bermakna, sekaligus dapat menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap literasi pada anak-anak Indonesia sejak usia dini. Dalam kompetisi ini, dipilih enam karya terbaik sebagai pemenang, yakni Debrinna Tryanan Asmaradhani, Regia Zahra Humaira, Khalishah Aulia Izzati, Rahmita Laily Muhtadini, Anindya Reva Tabina, Irrine Puspa Pertiwi. Acara ditutup dengan awarding untuk dresscode terbaik yang dikenakan peserta “CLSD Onboarding in Wonderland”.

Acara ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan onboarding ini diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi para interns untuk berkontribusi secara optimal dan berproses secara profesional selama menjalani program internship di CLSD. Melalui rangkaian kegiatan yang interaktif dan inspiratif, para interns tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang visi, misi, serta nilai-nilai CLSD, tetapi juga membangun ikatan kebersamaan yang kuat antaranggota.

Penulis: Hisha Latifah Daniswara
Reviewer: Naafia Halia & I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Kolaborasi Antar Pihak untuk Menyelamatkan Hak Anak: Putus Rantai Perkawinan Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 19 November 2025

Oleh: Rahmita Laily Muhtadini | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A

Perkawinan anak merupakan salah satu isu serius negara Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih.  Sebab, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbesar mencapai 25,53 juta jiwa (UNICEF, 2023). Berdasarkan data Kemen PPPA (2021) jumlah perempuan indonesia yang menikah sebelum berusia 18 tahun mencapai 10,35%. Artinya, 1 dari 10 perempuan di Indonesia pernah melakukan perkawinan anak. Tingginya angka perkawinan anak ini, menjadi isu yang perlu untuk disorot dan diselesaikan.

Berbagai risiko tinggi dari perkawinan anak dapat mengancam kesehatan, keselamatan, masa depan, dan hak hidup anak. Perkawinan anak dapat meningkatkan kehamilan berisiko tinggi, kelahiran prematur, keguguran, pendarahan hingga kematian pada ibu (Puspasari & Pawitaningtyas, 2020). Selain itu, perkawinan anak akan membuat kesempatan anak melanjutkan pendidikan menjadi terhenti, kehilangan kesempatan bekerja, meningkatkan resiko perceraian dan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta memunculkan kemungkinan hidup di bawah garis kemiskinan (Kemen PPPA, 2021).

Melihat tingginya kasus perkawinan anak di Indonesia dan risiko buruk yang harus dihadapi, maka perlu adanya langkah dan kerja sama berbagai pihak untuk memutus rantai perkawinan anak. Mewujudkan kehidupan anak yang terbebas dari bayangan perkawinan anak, tidak dapat dilakukan hanya dengan berpusat pada pemerintah saja. Namun juga, membutuhkan kolaborasi antar pihak dan seluruh elemen dari lapisan masyarakat. Kolaborasi bisa dilakukan mulai dari orang tua, tokoh masyarakat, pihak sekolah, masyarakat sipil, serta para ahli.

Orang tua berperan penting dalam peningkatan kasus perkawinan anak karena  mereka yang menjadi penentu utama arah kehidupan anak di masa depan. Beberapa motivasi orang tua yang mendasari keputusan menikahkan anak di bawah umur antara lain: adanya kesalah pola pikir yang menganggap menikahkan anak akan membuat mereka terhindar dari pergaulan dan seks bebas, adanya ketakutan orang tua jika anak mendapatkan  label ‘tidak laku’ maupun ‘perawan tua’ karena belum menikah, dan orang tua memutuskan menikahkan anak jika terjadi kehamilan di luar nikah (Syalis & Nurwati, 2020; Desiyanto, Fajar, & Risqi, 2022;  Taher, 2022). Selain itu, terdapat orang tua yang menganggap menikahkan anak sedini mungkin, akan membebaskan mereka dari beban tanggung jawab membesarkan dan membiayai anak (Chae & Ngo, 2017). Pemikiran-pemikiran orang tua yang salah, serta adanya pengaruh budaya di lingkungan sekitar anak, akan memperbesar kemungkinan terjadinya keputusan perkawinan dini (Kemen PPPA, 2021).

Orang tua perlu bijaksana untuk tidak menikahkan anak di usia dini. Mencegah hal tersebut, orang tua perlu mendapatkan dan memberikan edukasi tentang bahaya dan risiko melakukan perkawinan anak, serta edukasi kesehatan reproduksi yang dianggap selama ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan porno oleh budaya setempat (Taher, 2022). Pemberian edukasi ini, sangat diperlukan agar orang tua dapat menjadi tameng bagi anak, serta memberikan kesadaran pada anak untuk mempertimbangkan sendiri risiko negatif dari pernikahan dini.

Selain itu, keberadaan tokoh masyarakat sangat penting dalam mencegah perkawinan anak. Penelitian Mauludi (2023) menemukan para tokoh masyarakat ini dapat memberikan penjelasan tentang syarat-syarat pernikahan menurut agama, serta memberikan edukasi pentingnya mematuhi aturan hukum perkawinan di Indonesia. Tokoh masyarakat juga dapat memberikan pemahaman kepada anak mengutamakan pendidikan dan melakukan pengembangan diri sebelum menikah.

Pihak sekolah juga berkontribusi membentuk cara pikir anak dalam memandang pentingnya meraih pendidikan. Sebagai institusi yang menjadi rumah kedua bagi anak, sekolah perlu memberikan fasilitas agar anak bisa melakukan pengembangan diri, memberikan edukasi kesehatan reproduksi, dan membekali anak dengan hard skill dan soft skill, sehingga anak bisa berdaya dalam menentukan masa depannya. Sekolah juga dapat memberikan pemahaman, agar anak berusaha menyelesaikan pendidikannya, karena pemahaman yang salah meningkatkan kemungkinan anak melakukan perilaku berisiko dan pernikahan dini (Rosyidah & Fajriyah, 2013).

Selanjutnya, masyarakat sekitar perlu untuk mendorong anak agar bisa memaksimalkan potensinya, mencegah anak masuk ke dalam lingkungan yang buruk, dan mematahkan stigma negatif ketika anak tidak segera tentang  pernikahan. Sebab, anak dan remaja selalu hidup berdampingan dengan sistem di sekitarnya, seperti: keluarga, tetangga, sekolah, komunitas, dan juga negara (McWhirter et al, 2017). Apabila lingkungan terdekat anak memegang nilai-nilai yang salah tentang perkawinan, maka segala usaha untuk mencegah perkawinan anak akan sia-sia.

Namun, apabila perkawinan anak telah terjadi, maka perlu memberikan penangan yang sifatnya memperbaiki atau mengembalikan situasi menjadi lebih baik. Ugboha dan Namo (2019) menemukan bahwa pusat konseling, rehabilitasi, dan pelayanan pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu korban perkawinan anak bisa pulih dan belajar menjalani kehidupan bersama masyarakat. Para konselor juga dapat melakukan konseling keluarga untuk memberikan dukungan emosional, mengatasi keluarga yang disharmoni, meminimalisir KDRT, serta mengurangi bercerai pada kasus perkawinan nak (Rohman & Annajih, 2021).

Menyelamatkan hak hidup anak dari perkawinan di usia dini harus dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi ini dibutuhkan agar membentuk lingkungan yang mendukung anak mendapatkan hak-haknya dan memfasilitasi anak agar dapat memaksimalkan potensi dirinya. Sehingga, anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, menjadi generasi penerus bangsa yang bebas dari bayang-bayang perkawinan anak. Sebab, setiap anak memiliki hak untuk bisa menggapai impian dan membuat masa depannya cerah, tanpa harus direnggut kebebasannya dengan menikah sebelum menginjak usia yang matang.

Referensi

Chae, S., & Ngo, T. (2017). The global state of evidence on interventions to prevent child marriage. GIRL Center Research Brief no. 1. New York: Population Council. https://knowledgecommons.popcouncil.org/cgi/viewcontent.cgi?article=1540&context=departments_sbsr-pgy 

Desiyanto, J., Fajar, A., & Risqi, R. (2022). Pendidikan Orang Tua terhadap Pernikahan Dini Akibat Pemalsuan Umur. Progressive of Cognitive and Ability, 1(2), 167-175.https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.41 

Mauludi, S. (2023). Pendidikan Agama sebagai prevensi pernikahan dini: analisis terhadap pemahaman dan praktik agama dalam mengatasi fenomena pernikahan dini di Pekanbaru. Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, Dan Humaniora, 2(1), 13-22. https://doi.org/10.56113/takuana.v2i1.69

McWhirter, J. J., McWhirter, B. T., McWhirter, A. M., & McWhirter, E. H. (1994). High and low-risk characteristics of youth : The five Cs of competency. Elementary School Guidance & Counseling, 28(3), 188-196. https://www.jstor.org/stable/42869153 

Kemen PPPA. (2021). Profil anak indonesia 2018. Jakarta: KPPA. https://dispppa.lampungtengahkab.go.id/upload/dokumen/8ebef-profil-anak-indonesia-2019.pdf 

Puspasari, H. W., & Pawitaningtyas, I. (2020). Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Pada Pernikahan Usia Dini Di Beberapa Etnis Indonesia: Dampak Dan Pencegahannya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 23(4), 275-283. https://doi.org/10.22435/hsr.v23i4.3672  

Rosyidah, I., & Fajriyah, I. M. D. (2013). Menebar Upaya, Mengakhiri Kelanggengan: Problematika Perkawinan Anak di Nusa Tenggara Barat. Harmoni, 12(2), 59-71. https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/175/149

Syalis, E. R., & Nurwati, N. N. (2020). Analisis dampak pernikahan dini terhadap psikologis remaja. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 3(1), 29-39. https://doi.org/10.24198/focus.v3i1.28192 

Taher, S. L. (2022). Hubungan Antara Budaya, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi Dengan Pernikahan Dini. Indonesia. Journal of Midwifery Sciences, 1(3), 100-110. https://doi.org/10.53801/ijms.v1i3.46Ugboha, G. O., & Namo, I. S. (2019). Effect of Early Marriage on Girl-Child’s Further Education in Okpokwu Local Government Area, Nigeria: Implications for Counseling. KIU Journal of Humanities, 4(1), 65-72. https://ijhumas.com/ojs/index.php/niuhums/article/view/461

Pembelajaran Inklusif dan Pengalaman Global: Presentasi Seto dalam Program Mobilitas Internasional bersama University of Melbourne

ArtikelArtikel Thursday, 6 November 2025

Pada 6 Oktober 2025, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk mempresentasikan pengalaman dan hasil pembelajaran dari program mobilitas internasional di University of Sydney, Australia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam forum diskusi bersama kelompok riset dari University of Melbourne yang dipimpin oleh Dr Annie Gowing.

Di kesempatan yang sama, Rema Vara Indry Dubu, salah satu alumni Fakultas Psikologi UGM, juga turut berbagi hasil penelitian tesisnya berjudul “Kesehatan Mental Remaja dengan HIV Perinatal: Studi Photovoice”, yang menggambarkan realitas psikologis dan sosial kelompok remaja dengan HIV perinatal di Indonesia.

Belajar tentang Kesempatan dan Inklusi di University of Sydney

Pada sesi pertama, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto membagikan kisah inspiratifnya selama mengikuti kegiatan Uni2Beyond di the University of Sydney, sebuah program yang mendukung partisipasi mahasiswa dengan disabilitas intelektual di lingkungan kampus. Seto menyiapkan presentasinya menggunakan prinsip co-design dan easy read yang ia kembangkan bersama Ibu Elga Andriana dan mentor Mlathi Anggayuh Jati, mahasiswa Master of Education di University of New South Wales (UNSW).

Seto menceritakan kebahagiaannya dalam berinteraksi dengan teman-teman baru dan menyaksikan bagaimana setiap individu, termasuk mereka dengan disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berkuliah, bekerja, dan berkarya sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Setelah kembali ke Indonesia, saya ingin bisa ikut seminar-seminar dan membagikan pengalaman saya, supaya bisa memotivasi orang dengan disabilitas di sini,” ujar Seto dengan semangat.

Dalam sesi tanya jawab, Seto juga menekankan pentingnya membangun relasi personal di tempat kerja yang inklusif. “Kalau orang ingin bekerja dengan orang dengan disabilitas intelektual, harus belajar untuk dekat dan berteman. Jadi tidak hanya bekerja saja, karena kalau berteman itu kan jadi senang,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Annie Gowing menyoroti bahwa pengalaman Seto mencerminkan penerapan cara pandang yang berfokus pada kekuatan individu (strength-based view), yang idealnya menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan sosial dan profesional.

Membuka Ruang Dialog tentang Kesejahteraan Psikologis Remaja dengan HIV Perinatal

Tidak kalah menarik, pada sesi berikutnya Rema Vara Indry Dubu memaparkan proses dan hasil penelitiannya mengenai kesejahteraan psikologis remaja dengan HIV perinatal. Melalui pendekatan Photovoice, penelitian ini memberikan ruang bagi para remaja untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka secara langsung.

Rema menyampaikan bahwa isu kesejahteraan psikologis pada kelompok remaja ini masih jarang dieksplorasi, sehingga sering kali luput dari perhatian. “Melalui penelitian ini, saya berharap semakin banyak pihak yang mulai memperhatikan isu ini dan menciptakan program yang dapat mendukung kesejahteraan psikologis remaja dengan perinatal HIV,” jelasnya.

Menumbuhkan Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan

Forum diskusi ini menjadi ajang penting untuk mempererat kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan University of Melbourne, serta memperluas wawasan tentang pembelajaran dan riset lintas budaya. Kegiatan ini tidak hanya membuka ruang berbagi pengalaman akademik, tetapi juga memperkuat komitmen kedua institusi dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak sosial.

Ke depan, CLSD berharap program dan forum serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pertukaran ilmu pengetahuan dan memperkuat jejaring global dalam bidang psikologi dan pengembangan manusia sepanjang hayat.

Penulis: Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Carissa Azarine Delicia, Bhekti Lukita Nurcaesya
Reviewer: Bhekti Lukita Nurcaesya

Mengasah Pengendalian Diri: Sebuah Cara Untuk Hidup Lebih Sehat dan Sejahtera di Usia Dewasa Awal

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 29 October 2025

Oleh: Muhammad Nurrifqi Fuadi | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.

Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi digital terutama internet dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengatur kehidupan sehari-hari. Berbagai platform digital dan perangkat canggih telah menawarkan akses yang lebih luas sehingga kebermanfaatannya bisa dirasakan dengan baik. Namun, di tengah manfaat yang dirasakan, individu di usia dewasa awal yang sedang mencari identitas dan membangun karier menghadapi tantangan baru yaitu sulitnya memiliki pengendalian diri dengan baik (Sheppard dkk., 2020). Self-control atau pengendalian diri menjadi semakin penting khususnya dalam konteks dewasa awal karena kemajuan digital seringkali memperkenalkan godaan dan gangguan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu. Pengembangan kemampuan pengendalian diri perlu dilakukan agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan potensi dampak negatifnya dapat diminimalkan.

Terdapat beberapa dampak negatif penggunakan teknologi pada individu, khususnya di usia dewasa awal. Penelitian menunjukan bahwa peningkatan penggunaan perangkat digital berdampak pada kesehatan mental dengan meningkatkan resiko kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri (Ramadani, 2024). Fasilitas berupa internet dan media sosial membuat individu terjebak pada aktivitas seperti perilaku bermalas-malasan dengan mengakses internet (cyberloafing) di tempat kerja atau di ruang kelas (Duhita & Daellenbach, 2016); munculnya perasaan FoMO (Przybylski dkk., 2013); adiksi penggunaan media sosial (Andreassen dkk., 2017); kelelahan akibat bermedia sosial (Zhang dkk., 2021); perilaku membeli secara impulsif (Verplanken & Sato, 2011); adiksi judi online (Mcquade & Gill, 2012); dan masih banyak lagi. 

Pengendalian diri sangat berperan penting untuk menghadapi berbagai tantangan dan gangguan tersebut. Pentingnya melakukan pengendalian diri terletak pada kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan jangka pendek demi mencapai tujuan jangka panjang. Hal ini sesuai dengan definisi pengendalian diri yang dimaknai sebagai “the ability to subdue immediate desires to achieve long-term goals” (Aronson dkk., 2019). Penelitian longitudinal yang dilakukan Walter Mischel (dalam Lange dkk., 2012) menemukan bahwa partisipan yang memiliki kemampuan pengendalian diri untuk menunda kepuasan (delay gratification) menunjukan kehidupan yang lebih terarah dan sejahtera di masa depan. Hal ini ditunjukkan dengan fungsi kognitif dan sosial yang lebih baik, pendidikan dan kehidupan ekonomi yang lebih baik, tidak rentan mengalami permasalahan kesehatan mental hingga kemungkinan kecil mengalami self-esteem dan self-worth rendah.

Meskipun demikian, pengendalian diri merupakan perilaku yang tidak mudah untuk dicapai.  Menurut Branscombe dan Baron (2023), saat melakukan pengendalian diri, individu sering kali merasa kelelahan sehingga membuat perilaku pengendalian diri berikutnya terasa lebih sulit dan berat. Kondisi ini terjadi karena ego depletion, yaitu penurunan kemampuan pengendalian diri yang dialami oleh individu setelah usaha keras yang telah dilakukan untuk pengendalian diri sebelumnya. Akibatnya, individu cenderung merespons dan bertindak dengan cara yang sama, meskipun menerima pesan persuasif dengan argumen yang kuat maupun lemah. Padahal, idealnya, individu seharusnya dapat mengendalikan diri, memilih pesan persuasif yang memiliki argumen kuat, dan mengabaikan pesan dengan argumen yang lemah.

Lalu apakah pengendalian diri itu bisa dibentuk. Bagaimana proses pembentukan pengendalian diri. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar memiliki pengendalian diri yang baik menurut Branscombe dan Baron (2023): 

  1. Melakukan pelatihan pengaturan diri. Latihan dilakukan dengan meredam godaan dan mempertahankan perilaku penundaan secara adaptif hingga menjadi perilaku yang otomatis dan refleks. 
  2. Jangan lupa berikan jeda waktu untuk istirahat antara tugas pengendalian diri yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya ego depletion.
  3. Pikirkan secara abstrak tujuan yang ingin kita capai. Hal ini membantu untuk mengingat kembali rencana yang sudah kita buat dan menghindari melakukan apa yang tidak direncanakan.

Pembentukan pengendalian diri yang telah dijelaskan sebelumnya memberikan gambaran umum yang perlu diikuti dengan perilaku dan teknik yang lebih spesifik, sesuai dengan fase kehidupan individu. Setiap individu menghadapi tantangan yang berbeda, tergantung pada tugas dan fungsi perkembangannya. Satu hal yang menjadi perhatian bersama adalah kemajuan digital sering kali disertai dengan berbagai gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penerapan pengendalian diri diperlukan di tengah tantangan perkembangan digital sehingga kita dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih terarah, sehat, dan produktif. Langkah ini penting agar kita tidak hanya menghindari godaan, tetapi juga dapat mencapai tujuan dan kesejahteraan yang kita inginkan.

Referensi

Andreassen, C. S., Pallesen, S., & Griffiths, M. D. (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. Addictive Behaviors, 64, 287–293. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006

Aronson, E., Wilson, T. D., & Sommers, S. R. (2019). Social psychology (Tenth Edition). Pearson.

Branscombe, N. R., & Baron, R. A. (2023). Social psychology (Fifteenth Global). Pearson.

Duhita, S., & Daellenbach, U. (2016). “Is loafing at work necessarily detrimental? a study of loafing, job productivity and satisfaction.” Academy of Management Proceedings, 2016(1), 15471. https://doi.org/10.5465/ambpp.2016.15471abstract

Lange, P. A. M. Van, Kruglanski, A. W., & Higgins, E. T. (2012). Handbook of theories of social psychology (Vol. 2). SAGE Publications.

Mcquade, A., & Gill, P. (2012). The role of loneliness and self-control in predicting problem gambling behaviour. Gambling Research: Journal of the National Association for Gambling Studies (Australia)., 24 (1) Gambling Research, 24(1), 18–30. https://vuir.vu.edu.au/30358/

Przybylski, A. K., Murayama, K., Dehaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Ramadani, Refik. (2024). The impact of technology use on young people: A case study of social media and internet usage. Asian Journal of Research in Computer Science 17 (8):13-23. https://doi.org/10.9734/ajrcos/2024/v17i7486.

Sheppard, S., Hood, M., & Creed, P. A. (2020). An identity control theory approach to managing career identity in emerging adults. Emerging Adulthood, 8(5), 361-366. https://doi.org/10.1177/2167696819830484

Verplanken, B., & Sato, A. (2011). The psychology of impulse buying: An integrative self-regulation approach. Journal of Consumer Policy, 34(2), 197–210. https://doi.org/10.1007/s10603-011-9158-5Zhang, S., Shen, Y., Xin, T., Sun, H., Wang, Y., Zhang, X., & Ren, S. (2021). The development and validation of a social media fatigue scale: From a cognitive behavioral- emotional perspective. In PLoS ONE (Vol. 16, Issue 1 January). Public Library of Science. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0245464

123

Recent Posts

  • CLSD UGM Merefleksikan Prestasi Melalui CLSD End of Year Party 2025: Festival Dangdut Pantura
  • Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!
  • Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini
  • Peduli Isu Disabilitas, International Dental Summer Course 2025 Soroti Layanan Kesehatan Inklusif
  • Festival Hari Anak 2025: Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY