
International Dental Summer Course (IDSC) 2025 merupakan program yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UGM bekerja sama dengan Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi UGM sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan layanan kesehatan gigi masa kini. Mengusung tema besar “Transforming Oral Health Care: Implementing Digital Dentistry for Special Needs Communities”, IDSC 2025 mengangkat topik pembahasan mengenai berbagai aspek kedokteran gigi digital, khususnya penerapannya bagi individu dengan disabilitas fisik, perkembangan, dan intelektual. Program ini juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap aspek psikologis dalam pelayanan pasien serta pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas dan hasil klinis.

IDSC 2025 diikuti oleh mahasiswa sarjana dan pascasarjana internasional dari Fakultas Kedokteran Gigi, Teknik, dan Psikologi di kawasan Asia, seperti Filipina, Rumania, Mesir, Pakistan, dan Qatar. Program ini berlangsung selama dua pekan, yakni pada tanggal 1-4 Juli untuk rangkaian kegiatan pre-event yang dilaksanakan secara daring dan 7-14 Juli untuk rangkaian kegiatan main-event yang dilaksanakan secara luring. Rangkaian kegiatan mencakup sesi panel akademik, kunjungan laboratorium dan fakultas, proyek praktik langsung (hands-on), pengabdian masyarakat, serta kompetisi pitching yang dirancang untuk mendorong peserta memahami peran teknologi digital, pendekatan multidisipliner, serta aspek psikososial dalam mendukung layanan kesehatan gigi yang inklusif, khususnya bagi individu dengan kebutuhan khusus.
Pada Jumat, 4 Juli 2025, Center for Life-Span Development (CLSD), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, turut berpartisipasi dalam rangkaian acara IDSC 2025 dengan menghadirkan Prof. David Evans dari The University of Sydney sebagai pemateri pada sesi panel akademik Lecture 9 pada pre-event daring. Dalam sesi tersebut, Prof. David Evans membawakan topik Understanding People with Disabilities and Building Respectful Relationships in Health Care. Selanjutnya, CLSD juga mengisi sesi hands-on yang dilaksanakan pada Senin, 7 Juli 2025. Sesi ini dibawakan oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi UGM, dengan topik Foundations and Ethical Best Practices on Engaging Individuals with Disabilities. Baik sesi Lecture 9 maupun hands-on dimoderatori oleh Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi UGM.

Sesi panel akademik bersama Bapak Prof. David Evans dari University of Sydney
Pada sesi panel akademik Lecture 9, Bapak Prof. David Evans mengangkat isu bahwa hambatan yang dialami penyandang disabilitas kerap muncul bukan karena kondisi individu, melainkan akibat lingkungan dan fasilitas yang belum dirancang secara inklusif. Hal ini beliau sampaikan melalui pernyataan, “Disability is in the environment—consider how we design the environment to be barrier free and inclusive.” Dalam konteks layanan kedokteran gigi, perhatian terhadap akses fisik, pola komunikasi, serta pengalaman pasien menjadi penting agar tidak menimbulkan hambatan tambahan bagi penyandang disabilitas. Bapak David juga menyoroti digital dentistry yang berkembang untuk menggantikan metode tradisional dengan teknik yang lebih canggih dan minim tindakan invasif. Melalui pemaparan ini, peserta diajak untuk membangun relasi yang lebih setara, menghargai individu dengan disabilitas, serta memahami bahwa layanan kesehatan yang inklusif berangkat dari empati, kesadaran, dan perubahan cara pandang.

Sesi hands-on bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Pada sesi hands-on, Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. mengajak peserta memahami dasar-dasar penting dalam berinteraksi dengan individu penyandang disabilitas. Melalui pemaparannya, beliau memperkenalkan berbagai model disabilitas, termasuk Biopsychosocial Model yang memandang disabilitas sebagai hasil interaksi antara kondisi kesehatan, faktor individu, dan lingkungan, sebagaimana Ibu Elga menyampaikan bahwa “Disability is understood as the result of interactions between health conditions, individual factors, and environmental context.” Selain itu, dibahas pula Human Rights Model yang menempatkan disabilitas dalam kerangka hak asasi manusia dengan penekanan pada kesetaraan, martabat, dan partisipasi penuh dalam masyarakat, yang sejalan dengan pernyataan Ibu Elga dalam materi, yakni “Disability is a matter of equality, dignity, and full participation in society as human rights.” Pemaparan ini dilengkapi dengan penjelasan mengenai berbagai jenis disabilitas serta pentingnya menerapkan prinsip-prinsip etika, seperti autonomy, beneficence, justice, dan dignity dalam praktik profesional.
Kemudian, materi tersebut diterapkan secara langsung melalui sesi hands-on yang terdiri dari tiga aktivitas interaktif. Aktivitas pertama, “Seeing Through Their Eyes”, menggunakan pendekatan photovoice reflection untuk mengajak peserta menganalisis foto dan narasi agar dapat memahami pengalaman hidup penyandang disabilitas, termasuk jenis disabilitas, emosi yang muncul, serta hambatan lingkungan yang sering luput disadari. Aktivitas kedua dilanjutkan dengan sesi ethical role-play “What Would You Do?” yang menghadirkan berbagai skenario nyata dalam layanan kesehatan gigi, seperti komunikasi dengan pasien non-verbal, penanganan pasien dengan autisme, persoalan persetujuan tindakan medis, dan perlindungan privasi pasien dengan disabilitas guna melatih peserta menerapkan prinsip etika dalam situasi sehari-hari. Sesi ini kemudian ditutup dengan aktivitas ketiga, “Inclusive Design Quick Challenge”, yakni peserta diberikan tantangan untuk merancang ulang bagian tertentu dari pengalaman pasien, seperti alur ruang tunggu, formulir persetujuan, atau proses pendaftaran agar lebih inklusif bagi individu, baik dengan disabilitas fisik, intelektual, maupun neurodivergen. Seluruh rangkaian aktivitas diakhiri dengan diskusi dan refleksi bersama sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan praktik nyata.
Melalui rangkaian kegiatan IDSC 2025, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepekaan, empati, serta kesadaran akan pentingnya layanan kesehatan gigi yang inklusif bagi seluruh individu. Kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Teknik UGM menjadi fondasi dalam mendorong praktik layanan kesehatan gigi yang tidak hanya ramah terhadap keberagaman, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan mengintegrasikan pendekatan psikologis dan pemanfaatan inovasi teknologi, IDSC 2025 diharapkan dapat berkontribusi dalam memperluas wawasan serta pengembangan layanan kesehatan gigi yang modern dan inklusif, baik di tingkat nasional maupun global.
Penulis: Hisha Latifah Daniswara
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi



































