Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, berkesempatan mengikuti program mobilitas internasional ke University of Sydney, Australia. Program ini merupakan bagian dari proyek yang didanai hibah Australian Alumni Grants 2025, yang diraih oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., dosen sekaligus peneliti CLSD, yang akan turut berpartisipasi bersama Seto dalam kegiatan tersebut.
Life-Span Development
Center for Life-Span Development (CLSD) UGM merupakan wadah bagi interns yang memiliki potensi luar biasa dan inspiratif. Salah satunya adalah Christopher Florensco Raditya Setadewa atau lebih akrab disapa Seto. Di tahun 2025 ini, Seto yang merupakan individu disabilitas intelektual, telah berkesempatan menjadi intern di CLSD UGM. Hadirnya Seto sebagai bagian dari CLSD UGM merupakan bukti keterbukaan dan wujud komitmen CLSD UGM terhadap inklusivitas untuk penyandang disabilitas di lingkungan kerja.
Oleh: Muhammad Iqbal Fakhrul Firdaus | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.
Masa remaja menjadi periode yang cukup menantang mengingat adanya perubahan di berbagai domain perkembangan, yaitu fisik, emosi, dan sosial (Santrock, 2020). Perubahan fisik dan hormon sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan bagi remaja. Perubahan emosi yang intens juga menjadi penanda khas dari periode ini. Selain itu, remaja banyak melakukan eksplorasi identitas diri dan ingin menjadi bagian dari suatu kelompok. Remaja akan lebih sering menghabiskan waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua. Bagi remaja, penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya adalah sumber penting dari rasa harga diri dan keterikatan sosial, yang erat kaitannya dengan perkembangan psikologis yang sehat (Lin & Guo, 2024).
Oleh: Lisa Angela | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Siapa sangka, dibalik serunya permainan petak umpet tersembunyi potensi besar untuk membentuk keterampilan sosioemosional anak usia dini?
Oleh: Fitria | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.
“By speaking your childs’s own love language, you can fill his “emotional tank” with love. When your child feels loved, he is much easier to discipline and train than when his “emotional tank” is running near empty.”
Oleh: Arifatul Alawiyah | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A
Saat ini, komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan mulai menjadi sebuah trend dalam tatanan masyarakat yang tercermin pada berbagai aspek kehidupan. Tidak terbatas pada kebijakan pemerintah maupun aksi global, peningkatan kepedulian terhadap isu lingkungan terjadi di berbagai lapisan masyarakat, termasuk dalam komunitas keluarga. Tekanan dari budaya konsumsi global serta kesadaran akan risiko lingkungan mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pangasuhan secara luas (Shrum dkk., 2023). Sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang lebih peduli terhadap keberlanjutan, banyak keluarga mulai beralih untuk menerapkan konsep baru terkait pola asuh yang disebut eco-conscious parenting.
Oleh: Olyn Silvania | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Dan Schechtman, seorang peraih penghargaan Nobel pada bidang kimia tahun 2011 pernah berkata, “Pembangunan berkelanjutan membutuhkan kecerdasan manusia, sehingga manusia adalah sumber daya terpenting.” Perkataan tersebut mengarah pada pentingnya mencapai Sustainable Development Goals (SDG-4) Pendidikan yang Berkualitas (SDGS Bappenas, n.d.). Oleh karena itu, pemerintah, institusi pendidikan, organisasi non-pemerintah, pemilik usaha, komunitas, dan influencer perlu berkontribusi dalam menerapkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau education for sustainable development (ESD) (UNESCO, 2024).
Oleh: Lana Savira Kusuma Dewi | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A
Di tengah percepatan dunia digital, masyarakat modern sering terjebak dalam rutinitas kaku dan tekanan pekerjaan yang tinggi sehingga perlahan kehilangan keseimbangan antara produktivitas dan kebahagiaan (Gupta, 2023). Rutinitas yang kaku serta minimnya ruang untuk bermain dapat memicu stres dan menurunkan kesejahteraan mental (Kirkham et al., 2022)—merujuk pada kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial seseorang yang memengaruhi cara berpikir, berperasaan, dan bertindak dalam menjalani kehidupan (Gautam et al., 2024). Oleh sebab itu, perlu menciptakan masyarakat yang lebih playful. Bukan hanya menambah waktu luang untuk bersenang-senang, tetapi menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan waktu luang. Dengan memberi ruang untuk bermain dalam kehidupan sehari-hari, kita bukan hanya membantu meningkatkan kesehatan mental individu tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan bahagia secara keseluruhan. Artikel ini akan membahas pentingnya peran bermain dalam kehidupan sehari-hari, upaya kolektif yang dapat kita lakukan, serta mengapa perubahan ini mendesak untuk meningkatkan kesejahteraan mental.
Oleh: Nur Diana Indrawati | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.
Akhir-akhir ini, jagat media sosial Indonesia sedang gandrung dengan edukasi pengasuhan anak. Menjamurnya akun media sosial tentang edukasi pengasuhan, seperti Tentang Anak, Parentalk.id, Rabbitholeid, dan Momscorner menjadikan ilmu pengasuhan semakin terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Salah satu topik yang sering dibahas akhir-akhir ini adalah mengenai perkembangan anak usia dini. Menjadi orang tua tidak dimulai ketika seorang anak lahir di dunia, tapi dimulai ketika perencanaan kehamilan. Fase kehamilan sampai fase anak usia dini merupakan dasar yang akan menjadi penentu keterampilan dan pembelajaran pada fase berikutnya sampai anak tumbuh dewasa, sehingga permasalahan perkembangan yang dialami pada fase usia dini akan memiliki efek multigenereasi (Black dkk., 2017).