• Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
Universitas Gadjah Mada Center for Life-Span Development (CLSD)
Faculty of Psychology
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
  • Beranda
  • SDG 10: BERKURANGNYA KESENJANGAN
  • SDG 10: BERKURANGNYA KESENJANGAN
Arsip:

SDG 10: BERKURANGNYA KESENJANGAN

Di Balik Niat Baik: Risiko Tersembunyi dalam Kegiatan Relawan di Panti Asuhan

ArtikelArtikelCLSDPedia Thursday, 12 February 2026

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari, S.Psi., M.A., Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A., Zararah Yusri Nasution, S.Psi., M.A., Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A.

Saat ini kegiatan relawan (volunteer) telah menjadi kegiatan yang semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Kegiatan relawan dipandang sebagai sarana untuk menciptakan perubahan positif dan sarana yang dapat menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) bagi berbagai negara (Koirala & Harsamto, 2024). Di Indonesia, budaya “gotong royong” yaitu saling tolong menolong, saling membantu, dan bekerja sama telah mengakar kuat dan mencerminkan kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Budaya inilah yang mendorong dan mendukung adanya kegiatan relawan di Indonesia (Alfatih et al., 2025). Secara spesifik, kegiatan relawan adalah suatu kegiatan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan tertentu demi kepentingan orang lain yang dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental, baik bagi sukarelawan maupun komunitas (Famdale et al., 2025).

Motivasi individu atau kelompok melakukan kegiatan relawan sangatlah beragam. Altruisme kerap kali menjadi motivasi utama yang mendorong individu atau kelompok untuk menjadi sukarelawan. Motivasi ini umumnya sering kali berakar dari empati yang tinggi, yang kemudian memunculkan keinginan kuat untuk membantu orang lain (Unger, 1991). Altruisme mendorong sukarelawan untuk fokus pada kesejahteraan anak-anak. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Proyrungroj (2017) bahwa keinginan untuk membantu anak-anak adalah motivasi yang paling menonjol dengan berbagai ungkapan seperti untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak dan untuk membuat hidup anak-anak lebih baik. Penelitian Luping (2011) mengungkapkan bahwa motivasi sukarelawan juga berasal dari rasa tanggung jawab bahwa mereka merasakan rasa bersalah ketika melihat kesedihan yang dialami orang-orang yang membutuhkan tetapi tidak memperoleh bantuan. 

Secara umum, tindakan sukarela merupakan aktivitas kontribusi yang tidak mencari imbalan atau kompensasi. Namun kenyataannya, para sukarelawan sering kali memiliki harapan atau ekspektasi ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan relawan (Luping, 2011). Selain ada rasa tanggung jawab ingin membantu orang lain, para sukarelawan juga menyebutkan berbagai motif yang berkaitan dengan pengembangan diri mereka. Contohnya adalah ingin menemukan potensi diri, memperluas relasi, memperkaya makna hidup, meningkatkan keterampilan, rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, keterampilan interpersonal, dan lain sebagainya (Luping, 2011; Proyrungroj, 2017).  Salah satu kegiatan relawan yang paling sering ditemui adalah kegiatan relawan terhadap anak-anak dan remaja rentan yang tinggal di panti asuhan (Zeanah et al., 2019).

Beberapa contoh aktivitas relawan yang dilakukan di panti asuhan, yaitu berkunjung melihat kondisi anak-anak, memberikan bantuan uang atau barang, serta bermain dan belajar bersama anak (Van Doore & Nhep, 2023). Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya terjadi dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, sukarelawan juga dapat berkontribusi membantu panti asuhan merawat anak-anak, bahkan dapat tinggal di panti asuhan selama periode waktu tertentu (Van Doore & Nhep, 2023). Meskipun sebagian besar sukarelawan memiliki niat ingin memberikan kontribusi untuk mendukung kehidupan anak-anak di panti asuhan, kegiatan relawan ternyata juga berisiko dapat merugikan anak-anak.

Kegiatan relawan dapat berisiko bagi anak jika pihak panti asuhan maupun para relawan tidak mempertimbangkan tantangan etika yang muncul serta tidak melihat dari sudut pandang anak. Sebagai contoh, relawan biasanya berekspektasi bahwa anak-anak panti asuhan akan selalu menemani aktivitas relawan bahkan anak terkadang harus membolos sekolah dengan tujuan untuk menghibur relawan yang datang (Havens, 2018). Selanjutnya, dalam penelitian Guiney (2018) pihak panti asuhan juga mendorong anak untuk menunjukkan kesan miskin tetapi bahagia agar dapat memunculkan empati dari para relawan dan donatur. Hal seperti ini tentunya juga memunculkan kemungkinan eksploitasi karena memanfaatkan emosi dan empati anak agar memperoleh donasi. Risiko juga muncul ketika kegiatan relawan lebih berorientasi pada pengalaman pribadi sukarelawan dalam mengisi waktu liburan daripada kebutuhan berkelanjutan anak di panti asuhan, yang diistilahkan dengan orphanage voluntourism (Van Doore & Nhep, 2023). Tidak hanya itu, relawan terkadang hanya berfokus untuk bermain dengan anak di panti asuhan dan tidak sepenuhnya memahami cara menyelenggarakan program dengan tepat, padahal hal tersebut berpotensi memicu permasalahan kelekatan anak.

Pada umumnya, anak-anak dapat berada di panti asuhan dikarenakan orang tua atau pengasuh utama mereka tidak mampu menyediakan pengasuhan dan perlindungan yang layak bagi anak. Ketidakmampuan orang tua dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kemiskinan ekstrem (orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak), kematian orang tua, perceraian orang tua, kasus penelantaran, kekerasan, atau keterbatasan mental (Whetten et al., 2011). Kondisi-kondisi tersebut membuat anak harus terpisah dengan orang tua atau pengasuh utama yang seharusnya menjadi sumber utama rasa aman sebagai dasar pembentukan perkembangan emosional yang sehat (Van Doore & Nhep, 2023). Pengalaman berpisah dengan orangtua atau pengasuh utama menyebabkan anak sulit meregulasi emosi ketika kembali mengalami perpisahaan atau disebut juga sebagai respons atas trauma perpisahan (trauma of separation) (Ismayilova et al., 2023).Tidak hanya itu, anak yang tinggal di panti asuhan juga rentan mengalami kesepian.

Ketika sukarelawan datang ke panti asuhan hanya untuk bermain tanpa tujuan yang terarah dan spesifik, hal tersebut justru dapat lebih sulit bagi anak-anak dalam jangka panjang. Meskipun bagi sukarelawan mungkin tampak seperti tindakan kasih sayang, tetapi anak-anak dapat dengan cepat terikat dengan para sukarelawan (Bott, 2021). Jika sukarelawan pergi tanpa interaksi lanjutan lalu digantikan oleh sukarelawan baru, anak-anak dapat semakin terluka secara psikologis akibat pengalaman perpisahan yang berulang. Hal ini memberikan efek psikologis yang buruk pada anak yang membuat anak-anak merasa bahwa pada akhirnya mereka akan ditinggalkan lagi (Van Doore & Nhep, 2023). Dapat disimpulkan bahwa kegiatan relawan berpotensi memperparah masalah emosional (Frimpong-Manso, 2021) dan gangguan kelekatan (Richter & Norman, 2010) jika tidak memiliki tujuan yang spesifik dan terarah untuk perkembangan anak. 

Anak-anak juga dapat berada dalam posisi rentan jika panti asuhan tidak memiliki kebijakan perlindungan anak atau jika pihak panti asuhan tidak melakukan penyaringan atau pemeriksaan latar belakang terhadap seluruh sukarelawan yang berkunjung (Lyneham & Facchini, 2019). Ketika panti asuhan memberikan akses tanpa batas kepada sukarelawan, hal ini dapat menempatkan anak-anak pada risiko eksploitasi oleh pihak-pihak yang berniat jahat, masalah perlindungan anak yang serius, kekerasan fisik dan seksual terhadap anak, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia (Van IJzendoorn et al., 2020). Kurangnya penegakan skrining yang tepat dan pembekalan keterampilan profesional terhadap relawan dapat memberikan kesempatan bagi pelanggar seks anak (Johnson, 2014). Hal ini adalah masalah yang perlu menjadi perhatian serius bagi pihak panti asuhan yang mungkin secara tidak sengaja mengekspos anak-anak pada risiko yang mengancam kesejahteraan seksual anak.

Berdasarkan pemaparan di atas, para pihak yang terkait dengan anak-anak di panti asuhan perlu memastikan bahwa kegiatan relawan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Banyak hal perlu dipertimbangkan secara cermat terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan anak-anak. Pertimbangan tersebut perlu memastikan adanya persetujuan yang jelas dari anak, menjamin perlindungan anak, tidak mengganggu hak anak, serta menempatkan tahapan perkembangan anak sebagai prioritas utama di dalam program. Tentunya, kegiatan relawan tidak boleh berfokus semata-mata sebagai sarana hiburan bagi relawan apalagi sebagai sarana panti asuhan untuk hanya memperoleh donasi. 

Sikap bertanggung jawab saat berkunjung ke panti asuhan dimulai jauh sebelum kunjungan dilakukan, yaitu melalui persiapan yang matang. Relawan perlu melakukan riset dan komunikasi proaktif dengan pihak panti untuk memahami kebutuhan anak, bukan sekadar memberikan hiburan sesaat (Al Jazeera, 2025). Prioritasnya adalah kontribusi berkelanjutan, seperti menawarkan keahlian (skill-based volunteering) atau membangun komitmen jangka panjang yang konsisten (Unicef, 2019). Komitmen ini perlu dipastikan untuk berlanjut bahkan setelah kegiatan selesai. Sukarelawan perlu menjaga komunikasi untuk proses evaluasi kegiatan, serta memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi donatur tetap demi keberlanjutan program sehingga dukungan tidak berhenti pada satu kunjungan saja.

Selama interaksi dengan anak, etika dan batasan menjadi kunci utama. Relawan harus menghormati privasi anak dengan tidak menanyakan masa lalu mereka dan selalu berfokus pada kebutuhan anak di atas pengalaman pribadi. Hal-hal yang berpotensi mengganggu anak secara emosional, seperti membuat janji palsu atau menunjukkan favoritisme, harus dihindari secara tegas. Selain itu, perlindungan identitas anak juga menjadi hal yang krusial. Sukarelawan perlu memastikan bahwa proses dokumentasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan serta perlu adanya konsensus dari anak serta izin yang jelas dari pihak yang berwenang jika akan melakukan publikasi wajah anak di media sosial (UNHCR Europe, n.d.). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, niat baik yang menjadi dasar kerelawanan dapat tersalurkan menjadi dampak positif yang nyata dan terhindar dari potensi bahaya yang tidak disadari oleh para sukarelawan.

Referensi

Alfatih, M. I., Rizal, E., Sjafirah, N. A., & Rusmana, A. (2025). Community volunteers and literacy activism in rural Indonesia: A phenomenological study from West Java. International Journal of Innovative Research and Scientific Studies, 8(5), 394–407. https://doi.org/10.53894/ijirss.v8i5.8673 

Bott, E. (2021). ‘My dark heaven’: Hidden voices in orphanage tourism. Annals of Tourism Research, 87, 103110. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.103110 

Dos and don’ts for volunteers: How to support refugees in a responsible and ethical manner. (n.d.). UNHCR Europe. Retrieved September 18, 2025, from https://www.unhcr.org/europe/ 

Famdale, C. C., Widyarini, L. A., & Louis, A. W. (2025). Intention to Stay Indonesian Volunteers: The Effect of Autonomy, Competence, Relatedness, Satisfaction and Spirituality. Indonesian Journal of Advanced Research, 4(1), 61–74. https://doi.org/10.55927/ijar.v4i1.12360 

Frimpong-Manso, K. (2021). Funding orphanages on donations and gifts: Implications for orphans in Ghana. New Ideas in Psychology, 60, 100835. https://doi.org/10.1016/j.newideapsych.2020.100835 

Guiney, T. (2018). “Hug‐an‐orphan vacations”: “Love” and emotion in orphanage tourism. The Geographical Journal, 184(2), 125–137. https://doi.org/10.1111/geoj.12218 

Havens, H. (2018). The Harms of Orphanage Voluntourism: Misperceptions among Volunteers [Graduate Thesis, Columbia University]. https://academiccommons.columbia.edu/doi/10.7916/D8C553BS 

Ismayilova, L., Claypool, E., & Heidorn, E. (2023). Trauma of separation: The social and emotional impact of institutionalization on children in a post-soviet country. BMC Public Health, 23(1), 366. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15275-w 

Johnson, A. K. (2014). Protecting Children’s Rights in Asian Tourism. The International Journal of Children’s Rights, 22(3), 581–617. https://doi.org/10.1163/15718182-02201001 

Koirala, N., & Harsamto, V. (2024). Studi mendalam untuk memahami kerelawanan dan praktik-praktik kerelawanan di Indonesia. Empatika, Indorelawan, dan Australian Volunteers. 

Luping, W. (2011). Motivations for Youth Volunteer Participation: Types and Structure—An Analysis of Interviews with Twenty-Four Young Volunteers. Chinese Education & Society, 44(2–3), 176–192. https://doi.org/10.2753/CED1061-1932440215 

Lyneham, S., & Facchini, L. (2019). Benevolent harm: Orphanages, voluntourism and child sexual exploitation in South-East Asia. Australian Institute of Criminology. https://doi.org/10.52922/ti09999 

Orphanage volunteering: The Do’s and Don’ts. (2025). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/video/people-power/2012/5/24/orphanage-volunteering-the-dos-and-donts 

Proyrungroj, R. (2017). Orphan Volunteer Tourism in Thailand: Volunteer Tourists’ Motivations And On-Site Experiences. Journal of Hospitality & Tourism Research, 41(5), 560–584. https://doi.org/10.1177/1096348014525639 

Richter, L. M., & Norman, A. (2010). AIDS orphan tourism: A threat to young children in residential care. Vulnerable Children and Youth Studies, 5(3), 217–229. https://doi.org/10.1080/17450128.2010.487124 

Unger, L. S. (1991). Altruism as a motivation to volunteer. Journal of Economic Psychology, 12(1), 71–100. https://doi.org/10.1016/0167-4870(91)90044-T 

Van Doore, K. E., & Nhep, R. (2023). Orphanage tourism and orphanage volunteering: Implications for children. Frontiers in Sustainable Tourism, 2, 1177091. https://doi.org/10.3389/frsut.2023.1177091 

Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M. J., Duschinsky, R., Fox, N. A., Goldman, P. S., Gunnar, M. R., Johnson, D. E., Nelson, C. A., Reijman, S., Skinner, G. C. M., Zeanah, C. H., & Sonuga-Barke, E. J. S. (2020). Institutionalisation and deinstitutionalisation of children 1: A systematic and integrative review of evidence regarding effects on development. The Lancet Psychiatry, 7(8), 703–720. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30399-2 

Volunteering in orphanages. (2019). Unicef. https://www.unicef.org/rosa/what-we-do/child-protection/volunteering-orphanages 

Whetten, K., Ostermann, J., Whetten, R., O’Donnell, K., Thielman, N., & The Positive Outcomes for Orphans Research Team. (2011). More than the loss of a parent: Potentially traumatic events among orphaned and abandoned children. Journal of Traumatic Stress, 24(2), 174–182. https://doi.org/10.1002/jts.20625

Zeanah, C. H., Wilke, N. G., Shauffer, C., Rochat, T., Howard, A. H., & Dozier, M. (2019). Misguided altruism: The risks of orphanage volunteering. The Lancet Child & Adolescent Health, 3(9), 592–593. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30213-5

Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Universitas Gadjah Mada bersama University of Ghana, Ghana dan Universidad Técnica de Manabí, Ekuador, melaksanakan riset yang bertajuk “STRONG-YOUTH: Socio-Technical Responses to Online Neglect and Global Youth Economic Exploitation”, yakni sebuah proyek kolaboratif lintas negara yang berfokus pada perlindungan pemuda dari eksploitasi ekonomi daring di kawasan Global South. Riset ini dilaksanakan sebagai respons atas percepatan digitalisasi di negara-negara Global South yang tidak selalu diiringi dengan sistem perlindungan memadai bagi pemuda. Perkembangan platform digital membuka peluang ekonomi, namun juga menghadirkan risiko berupa penipuan dan perjudian online, praktik predatory lending (pemberian pinjaman secara tidak adil, menipu, atau bersifat memaksa), serta kurangnya pengawasan terhadap aktivitas digital pemuda. Dampak eksploitasi tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan sosial individu. 

Riset ini dilaksanakan oleh tim lintas fakultas di Universitas Gadjah Mada, terdiri dari Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Teknik diwakilkan oleh Ir. Yun Prihantina Mulyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, Ir. Fitri Trapsilawati, S.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Ir. Ardiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM. Fakultas Psikologi diwakilkan oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. dan Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sementara itu, Fakultas MIPA diwakilkan oleh Arif Nurwidyantoro, S.Kom., M.Cs., Ph.D. Selain Indonesia, Ghana dan Ekuador menjadi mitra utama dalam proyek ini, yakni University of Ghana dan Universidad Técnica de Manabí yang masing-masing diwakilkan oleh Mahmood Brobbey Oppong dan Dr. Lucia Rivadeneira sebagai partner principal investigator. Proyek ini didanai melalui hibah dari u’GOOD The National Research Foundation (NRF), Afrika Selatan, dengan pembagian pendanaan sebesar 25 persen untuk Ekuador, 25 persen untuk Ghana, dan 50 persen untuk Indonesia.

Untuk mengisi celah kajian yang selama ini cenderung berfokus pada literasi digital semata, riset ini menghadirkan pendekatan yang bersifat inklusif dan holistik dengan mengintegrasikan subjek, cara berpikir, dan praktik kerja yang bersifat relasional ke dalam kerangka Relational Well-Being (RWB). Kerangka ini dirancang untuk memahami kesejahteraan dengan mempertimbangkan faktor personal, sosial, lingkungan, serta finansial. Riset ini juga menggunakan pendekatan mixed methods, meliputi survei, text mining, serta metode partisipatif yang melibatkan pemuda, pemerintah, dan sektor swasta. Selain itu, Agent-Based Modeling (ABM) dimanfaatkan untuk mensimulasikan cara berpikir, pola interaksi sosial, dan proses pengambilan keputusan oleh pemuda dalam lingkungan tertentu.

Melalui simulasi pada Agent-Based Modeling (ABM), peneliti dapat menguji kerangka Relational Well-Being (RWB) secara empiris sekaligus menilai efektivitas berbagai strategi intervensi dengan menerapkan kerangka Relational Well-Being (RWB) yang dikembangkan ke dalam model Agent-Based Modeling (ABM) untuk menggambarkan situasi nyata yang dihadapi pemuda. Melalui model ini, peneliti dapat melihat pengaruh perubahan pada satu faktor, seperti tekanan ekonomi atau lemahnya pengawasan pada tingkat kerentanan pemuda terhadap eksploitasi daring. Dengan pendekatan tersebut, riset ini tidak hanya menjelaskan kondisi yang ada, tetapi juga memprediksi kemungkinan dampak di masa depan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program intervensi yang sesuai serta memberikan kontribusi nyata dalam melindungi generasi muda dari eksploitasi ekonomi daring di era digital.

Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada senantiasa mencatat prestasi melalui perolehan hibah internasional. Salah satu capaian terbaru adalah keberhasilan meraih hibah dari UNICEF dengan jumlah pendanaan sebesar 49,965 USD. Tim penelitian ini terdiri dari beberapa akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. selaku dosen Fakultas Psikologi UGM, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Koordinator Center for Life-Span Development (CLSD), serta Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Research Associate di CLSD. Penelitian tersebut mengusung judul “Facilitating harmonisation and trialling of disability screening tools and associated teacher training tools”. 

Penelitian ini dilaksanakan melalui kolaborasi internasional bersama Dr. Alex Robinson dan Ms. Fleur Smith dari Nossal Institute of Public Health, University of Melbourne. Fokus utama dari riset ini adalah mengevaluasi pemahaman terhadap perangkat skrining serta kelayakan penerapannya oleh para pekerja garis depan. Kelompok sasaran tersebut meliputi guru, petugas Unit Layanan Disabilitas (ULD), serta tenaga kesehatan primer di Posyandu dan Puskesmas.

Perolehan hibah dari UNICEF ini menjadi bukti nyata dari komitmen Fakultas Psikologi UGM dalam mendorong pengembangan pendidikan dan layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Pendanaan riset internasional ini juga memperkuat upaya penerapan pendekatan berbasis bukti (evidence-based practice) dalam pengembangan kebijakan dan intervensi. Melalui kolaborasi internasional, penelitian ini diharapkan untuk mempererat kapasitas para tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Indonesia dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Fakultas Psikologi UGM memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dr. Alex Robinson, dan Ms. Fleur Smith atas pencapaian ini. Keberhasilan ini menunjukkan dedikasi Fakultas Psikologi UGM dalam berkontribusi pada isu-isu di tingkat nasional maupun internasional. Hasil penelitian ini diharapkan membawa dampak positif dalam penyusunan kebijakan serta praktik pendidikan inklusif, baik di lingkungan fakultas maupun pada skala nasional.

Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Selasa, 25 Oktober 2025, CLSD sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi”. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga 16.30 WIB. Adapun acara ini diikuti oleh 111 peserta yang merupakan orang tua mahasiswa.

Webinar ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dalam menjaga keharmonisan hubungan secara psikologis dengan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Acara ini dikemas dalam bentuk talk show inspiratif dan interaktif. Acara diawali dengan pemberian sambutan oleh Ibu Aisha Sekar Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Kepala CLSD sekaligus moderator acara. Kemudian, Bapak Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM turut serta menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan talk show dengan kedua pembicara, yaitu Ibu Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Alissa Wahid sebagai psikolog keluarga.

Selama berlangsungnya talk show, peserta berkesempatan untuk menelisik lebih jauh pengalaman kedua pembicara dalam membangun hubungan yang sehat secara psikologis dengan anak yang berada di perantauan. Ibu Elga menegaskan bahwa mengatur jarak komunikasi dan jarak emosional penting dilakukan oleh orang tua sehingga kemampuan anak dalam menghadapi masa pendewasaan selama merantau dapat lebih terasah. Adapun membangun jarak yang sehat dengan anak tentu tidak lepas dari tantangan yang muncul. Dalam hal ini, Ibu Alissa turut menceritakan tantangan yang dialaminya dalam menghadapi peralihan kehidupan anak ke masa perantauan. “Tantangan bagi banyak orang tua adalah harapannya anak mau cerita, harapannya kita selalu tahu apa yang terjadi pada anak, kemungkinan tidak akan mudah, tidak akan terpenuhi seperti gambaran kita …” ujar Ibu Alissa Wahid. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya penyesuaian komunikasi dengan karakter anak dalam menghadapi tantangan tersebut.

Pengalaman yang dibagikan oleh kedua pembicara sontak menggugah rasa penasaran peserta saat sesi tanya jawab. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan didasarkan pada pengalaman pribadi peserta dalam menghadapi proses transisi hubungan antara orang tua dan anak selama masa perkuliahan di perantauan. Melalui sesi tanya jawab, pemahaman dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak di perantauan terbentuk dengan lebih mendalam. 

Webinar “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi” merupakan wadah untuk berbagi informasi dalam meningkatkan kesadaran dan memupuk pemahaman orang tua terkait proses adaptasi dan transisi relasi antara orang tua dan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Melalui webinar ini, harapannya peserta dapat memahami dan menerapkan ilmu yang diberikan dalam membangun hubungan yang sehat dan bermakna dengan anak ke depannya.

International Course on Public Mental Health 2025 – Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Monday, 29 December 2025

Registration poster for the International Course on Public Mental Health 2025

In collaboration of the Center for Public Mental Health (CPMH) and the Center for Life-Span Development (CLSD) of the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada, an International Course on Public Mental Health is organised this year. This means that this is the third time CLSD has organised an international course, with the first being held in 2021. In these international courses, excellent lecturers worldwide are invited to bring a lecture, with this year inviting professionals from Universiti Malaya, UNICEF Indonesia, University of Queensland, University of Melbourne, Marmara Üniversitesi, and many more. Taking place online from Monday to Friday, October 27th–31st 2025, the International Course for Public Mental Health 2025 holds the theme, “Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools”.

This international course aims to bring together insights and strategies to empower families for them to thrive amidst these challenges, fostering resilience, balance, and stronger intergenerational connections for healthier, more supportive societies. Using existing research, evidence-based practices, and real-world practical applications, this course provides a platform for participants to explore various approaches in fostering mental health across generations and contexts, which is connected to fulfilling the Sustainable Development Goals (SDGs), such as Good Health and Wellbeing (3) and Quality Education (4). All of the courses were conducted in English and closed captioning was provided.

Day 2, brought by Tanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. from UNICEF Indonesia, on Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental Health

For this year’s course, we invited 6 international speakers and 6 national speakers from various backgrounds and fields of expertise from all over the world, such as Australia, Malaysia, Turkey, the United Kingdom, and the United States of America. Attended by students, researchers, educators, professionals, and parents alike from 3 different countries, this course started with an opening event brought by 2 of our speakers, Prof. Dr. Süleyman Derin and Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog on October 23rd on Living Room Talks: Diana & Derin, with the topic of “Supportive Family for Youth Mental Health Development”.

“Family is a very strategic place to produce good citizens, good characters, good workers, and good assets for society. But family also only functions well if the society or the nation also helps them too. These two things need to go hand in hand, we can’t leave families alone to carry the burden, it is our collective responsibility to make an enabler factor for the families to function well.” said Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog, the speaker at our opening event and a lecturer at the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada.

This course consisted of nine different topics, with each topic commemorating the role of parents, families, educators, communities, schools, inclusive education, advocacy, mental health, and wellbeing for all in strengthening healthier, more resilient families and thriving future generations in this changing world.

DateTime (GMT +7)AgendaSpeakers
Monday, 27 October 202513:00–14:30Parenting Adolescents in a Changing WorldProf. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung
Tuesday, 28 October 202516:00–17:30Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental HealthTanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. UNICEF
Wednesday, 29 October 202513:00–14:30Designing Mental Health–Friendly School SystemsHolly Erskine
15:30–17:00Family Interventions for Mental Health PromotionProf. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si
Thursday, 30 October 202512:30–14:00Digital Well-being and Family-School CollaborationTeodora Pavkovic, M.Sc., Clin.Psy.
15:30–17:00Experiences of Youth with DisabilitiesElga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. and Christopher Florensco Raditya Setadewa
20:00–21:30Positive Discipline For EducatorsJoy Marchese
Friday, 31 October 202510:00–11:30Trauma-Informed Approaches in Schools and Families: Care, Connect, CollaborateDr. Annie Gowing
13:00–14:30Families at the Peak of Career Demands: Balancing Work and CareFuad Hamsyah, S.Psi., M.Sc., Ph.D

Day 3, Session 1, brought by Holly Erskine from The University of Queensland, Australia, on Designing Mental Health–Friendly School Systems.

With that, the International Course on Public Mental Health, held from 27–31 October 2025, with a total of 9 sessions, uniting 12 speakers from 7 countries, and 37 participants from 3 countries has come to an end. The organising committee of the International Course on Public Mental Health 2025 expresses our utmost gratitude to the speakers for sharing their valuable knowledge and insights in fostering healthier intergenerational connections among youth, families, communities, and schools. We are also extremely grateful to all participants for their active participation and contributions during this international course. We look forward to welcoming you at our upcoming events in the future!

“Let’s all be people who demystify and help build understanding,” Dr. Annie Gowing

Kolaborasi Antar Pihak untuk Menyelamatkan Hak Anak: Putus Rantai Perkawinan Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 19 November 2025

Oleh: Rahmita Laily Muhtadini | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A

Perkawinan anak merupakan salah satu isu serius negara Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih.  Sebab, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbesar mencapai 25,53 juta jiwa (UNICEF, 2023). Berdasarkan data Kemen PPPA (2021) jumlah perempuan indonesia yang menikah sebelum berusia 18 tahun mencapai 10,35%. Artinya, 1 dari 10 perempuan di Indonesia pernah melakukan perkawinan anak. Tingginya angka perkawinan anak ini, menjadi isu yang perlu untuk disorot dan diselesaikan.

Berbagai risiko tinggi dari perkawinan anak dapat mengancam kesehatan, keselamatan, masa depan, dan hak hidup anak. Perkawinan anak dapat meningkatkan kehamilan berisiko tinggi, kelahiran prematur, keguguran, pendarahan hingga kematian pada ibu (Puspasari & Pawitaningtyas, 2020). Selain itu, perkawinan anak akan membuat kesempatan anak melanjutkan pendidikan menjadi terhenti, kehilangan kesempatan bekerja, meningkatkan resiko perceraian dan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta memunculkan kemungkinan hidup di bawah garis kemiskinan (Kemen PPPA, 2021).

Melihat tingginya kasus perkawinan anak di Indonesia dan risiko buruk yang harus dihadapi, maka perlu adanya langkah dan kerja sama berbagai pihak untuk memutus rantai perkawinan anak. Mewujudkan kehidupan anak yang terbebas dari bayangan perkawinan anak, tidak dapat dilakukan hanya dengan berpusat pada pemerintah saja. Namun juga, membutuhkan kolaborasi antar pihak dan seluruh elemen dari lapisan masyarakat. Kolaborasi bisa dilakukan mulai dari orang tua, tokoh masyarakat, pihak sekolah, masyarakat sipil, serta para ahli.

Orang tua berperan penting dalam peningkatan kasus perkawinan anak karena  mereka yang menjadi penentu utama arah kehidupan anak di masa depan. Beberapa motivasi orang tua yang mendasari keputusan menikahkan anak di bawah umur antara lain: adanya kesalah pola pikir yang menganggap menikahkan anak akan membuat mereka terhindar dari pergaulan dan seks bebas, adanya ketakutan orang tua jika anak mendapatkan  label ‘tidak laku’ maupun ‘perawan tua’ karena belum menikah, dan orang tua memutuskan menikahkan anak jika terjadi kehamilan di luar nikah (Syalis & Nurwati, 2020; Desiyanto, Fajar, & Risqi, 2022;  Taher, 2022). Selain itu, terdapat orang tua yang menganggap menikahkan anak sedini mungkin, akan membebaskan mereka dari beban tanggung jawab membesarkan dan membiayai anak (Chae & Ngo, 2017). Pemikiran-pemikiran orang tua yang salah, serta adanya pengaruh budaya di lingkungan sekitar anak, akan memperbesar kemungkinan terjadinya keputusan perkawinan dini (Kemen PPPA, 2021).

Orang tua perlu bijaksana untuk tidak menikahkan anak di usia dini. Mencegah hal tersebut, orang tua perlu mendapatkan dan memberikan edukasi tentang bahaya dan risiko melakukan perkawinan anak, serta edukasi kesehatan reproduksi yang dianggap selama ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan porno oleh budaya setempat (Taher, 2022). Pemberian edukasi ini, sangat diperlukan agar orang tua dapat menjadi tameng bagi anak, serta memberikan kesadaran pada anak untuk mempertimbangkan sendiri risiko negatif dari pernikahan dini.

Selain itu, keberadaan tokoh masyarakat sangat penting dalam mencegah perkawinan anak. Penelitian Mauludi (2023) menemukan para tokoh masyarakat ini dapat memberikan penjelasan tentang syarat-syarat pernikahan menurut agama, serta memberikan edukasi pentingnya mematuhi aturan hukum perkawinan di Indonesia. Tokoh masyarakat juga dapat memberikan pemahaman kepada anak mengutamakan pendidikan dan melakukan pengembangan diri sebelum menikah.

Pihak sekolah juga berkontribusi membentuk cara pikir anak dalam memandang pentingnya meraih pendidikan. Sebagai institusi yang menjadi rumah kedua bagi anak, sekolah perlu memberikan fasilitas agar anak bisa melakukan pengembangan diri, memberikan edukasi kesehatan reproduksi, dan membekali anak dengan hard skill dan soft skill, sehingga anak bisa berdaya dalam menentukan masa depannya. Sekolah juga dapat memberikan pemahaman, agar anak berusaha menyelesaikan pendidikannya, karena pemahaman yang salah meningkatkan kemungkinan anak melakukan perilaku berisiko dan pernikahan dini (Rosyidah & Fajriyah, 2013).

Selanjutnya, masyarakat sekitar perlu untuk mendorong anak agar bisa memaksimalkan potensinya, mencegah anak masuk ke dalam lingkungan yang buruk, dan mematahkan stigma negatif ketika anak tidak segera tentang  pernikahan. Sebab, anak dan remaja selalu hidup berdampingan dengan sistem di sekitarnya, seperti: keluarga, tetangga, sekolah, komunitas, dan juga negara (McWhirter et al, 2017). Apabila lingkungan terdekat anak memegang nilai-nilai yang salah tentang perkawinan, maka segala usaha untuk mencegah perkawinan anak akan sia-sia.

Namun, apabila perkawinan anak telah terjadi, maka perlu memberikan penangan yang sifatnya memperbaiki atau mengembalikan situasi menjadi lebih baik. Ugboha dan Namo (2019) menemukan bahwa pusat konseling, rehabilitasi, dan pelayanan pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu korban perkawinan anak bisa pulih dan belajar menjalani kehidupan bersama masyarakat. Para konselor juga dapat melakukan konseling keluarga untuk memberikan dukungan emosional, mengatasi keluarga yang disharmoni, meminimalisir KDRT, serta mengurangi bercerai pada kasus perkawinan nak (Rohman & Annajih, 2021).

Menyelamatkan hak hidup anak dari perkawinan di usia dini harus dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi ini dibutuhkan agar membentuk lingkungan yang mendukung anak mendapatkan hak-haknya dan memfasilitasi anak agar dapat memaksimalkan potensi dirinya. Sehingga, anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, menjadi generasi penerus bangsa yang bebas dari bayang-bayang perkawinan anak. Sebab, setiap anak memiliki hak untuk bisa menggapai impian dan membuat masa depannya cerah, tanpa harus direnggut kebebasannya dengan menikah sebelum menginjak usia yang matang.

Referensi

Chae, S., & Ngo, T. (2017). The global state of evidence on interventions to prevent child marriage. GIRL Center Research Brief no. 1. New York: Population Council. https://knowledgecommons.popcouncil.org/cgi/viewcontent.cgi?article=1540&context=departments_sbsr-pgy 

Desiyanto, J., Fajar, A., & Risqi, R. (2022). Pendidikan Orang Tua terhadap Pernikahan Dini Akibat Pemalsuan Umur. Progressive of Cognitive and Ability, 1(2), 167-175.https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.41 

Mauludi, S. (2023). Pendidikan Agama sebagai prevensi pernikahan dini: analisis terhadap pemahaman dan praktik agama dalam mengatasi fenomena pernikahan dini di Pekanbaru. Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, Dan Humaniora, 2(1), 13-22. https://doi.org/10.56113/takuana.v2i1.69

McWhirter, J. J., McWhirter, B. T., McWhirter, A. M., & McWhirter, E. H. (1994). High and low-risk characteristics of youth : The five Cs of competency. Elementary School Guidance & Counseling, 28(3), 188-196. https://www.jstor.org/stable/42869153 

Kemen PPPA. (2021). Profil anak indonesia 2018. Jakarta: KPPA. https://dispppa.lampungtengahkab.go.id/upload/dokumen/8ebef-profil-anak-indonesia-2019.pdf 

Puspasari, H. W., & Pawitaningtyas, I. (2020). Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Pada Pernikahan Usia Dini Di Beberapa Etnis Indonesia: Dampak Dan Pencegahannya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 23(4), 275-283. https://doi.org/10.22435/hsr.v23i4.3672  

Rosyidah, I., & Fajriyah, I. M. D. (2013). Menebar Upaya, Mengakhiri Kelanggengan: Problematika Perkawinan Anak di Nusa Tenggara Barat. Harmoni, 12(2), 59-71. https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/175/149

Syalis, E. R., & Nurwati, N. N. (2020). Analisis dampak pernikahan dini terhadap psikologis remaja. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 3(1), 29-39. https://doi.org/10.24198/focus.v3i1.28192 

Taher, S. L. (2022). Hubungan Antara Budaya, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi Dengan Pernikahan Dini. Indonesia. Journal of Midwifery Sciences, 1(3), 100-110. https://doi.org/10.53801/ijms.v1i3.46Ugboha, G. O., & Namo, I. S. (2019). Effect of Early Marriage on Girl-Child’s Further Education in Okpokwu Local Government Area, Nigeria: Implications for Counseling. KIU Journal of Humanities, 4(1), 65-72. https://ijhumas.com/ojs/index.php/niuhums/article/view/461

Pembelajaran Inklusif dan Pengalaman Global: Presentasi Seto dalam Program Mobilitas Internasional bersama University of Melbourne

ArtikelArtikel Thursday, 6 November 2025

Pada 6 Oktober 2025, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk mempresentasikan pengalaman dan hasil pembelajaran dari program mobilitas internasional di University of Sydney, Australia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam forum diskusi bersama kelompok riset dari University of Melbourne yang dipimpin oleh Dr Annie Gowing.

Di kesempatan yang sama, Rema Vara Indry Dubu, salah satu alumni Fakultas Psikologi UGM, juga turut berbagi hasil penelitian tesisnya berjudul “Kesehatan Mental Remaja dengan HIV Perinatal: Studi Photovoice”, yang menggambarkan realitas psikologis dan sosial kelompok remaja dengan HIV perinatal di Indonesia.

Belajar tentang Kesempatan dan Inklusi di University of Sydney

Pada sesi pertama, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto membagikan kisah inspiratifnya selama mengikuti kegiatan Uni2Beyond di the University of Sydney, sebuah program yang mendukung partisipasi mahasiswa dengan disabilitas intelektual di lingkungan kampus. Seto menyiapkan presentasinya menggunakan prinsip co-design dan easy read yang ia kembangkan bersama Ibu Elga Andriana dan mentor Mlathi Anggayuh Jati, mahasiswa Master of Education di University of New South Wales (UNSW).

Seto menceritakan kebahagiaannya dalam berinteraksi dengan teman-teman baru dan menyaksikan bagaimana setiap individu, termasuk mereka dengan disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berkuliah, bekerja, dan berkarya sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Setelah kembali ke Indonesia, saya ingin bisa ikut seminar-seminar dan membagikan pengalaman saya, supaya bisa memotivasi orang dengan disabilitas di sini,” ujar Seto dengan semangat.

Dalam sesi tanya jawab, Seto juga menekankan pentingnya membangun relasi personal di tempat kerja yang inklusif. “Kalau orang ingin bekerja dengan orang dengan disabilitas intelektual, harus belajar untuk dekat dan berteman. Jadi tidak hanya bekerja saja, karena kalau berteman itu kan jadi senang,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Annie Gowing menyoroti bahwa pengalaman Seto mencerminkan penerapan cara pandang yang berfokus pada kekuatan individu (strength-based view), yang idealnya menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan sosial dan profesional.

Membuka Ruang Dialog tentang Kesejahteraan Psikologis Remaja dengan HIV Perinatal

Tidak kalah menarik, pada sesi berikutnya Rema Vara Indry Dubu memaparkan proses dan hasil penelitiannya mengenai kesejahteraan psikologis remaja dengan HIV perinatal. Melalui pendekatan Photovoice, penelitian ini memberikan ruang bagi para remaja untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka secara langsung.

Rema menyampaikan bahwa isu kesejahteraan psikologis pada kelompok remaja ini masih jarang dieksplorasi, sehingga sering kali luput dari perhatian. “Melalui penelitian ini, saya berharap semakin banyak pihak yang mulai memperhatikan isu ini dan menciptakan program yang dapat mendukung kesejahteraan psikologis remaja dengan perinatal HIV,” jelasnya.

Menumbuhkan Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan

Forum diskusi ini menjadi ajang penting untuk mempererat kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan University of Melbourne, serta memperluas wawasan tentang pembelajaran dan riset lintas budaya. Kegiatan ini tidak hanya membuka ruang berbagi pengalaman akademik, tetapi juga memperkuat komitmen kedua institusi dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak sosial.

Ke depan, CLSD berharap program dan forum serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pertukaran ilmu pengetahuan dan memperkuat jejaring global dalam bidang psikologi dan pengembangan manusia sepanjang hayat.

Langkah Seto Menuju Pengalaman Global: Mewujudkan Pembelajaran Inklusif bersama Australian Alumni Grants 2025

ArtikelArtikel Friday, 19 September 2025

Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, berkesempatan mengikuti program mobilitas internasional ke University of Sydney, Australia. Program ini merupakan bagian dari proyek yang didanai hibah Australian Alumni Grants 2025, yang diraih oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., dosen sekaligus peneliti CLSD, yang akan turut berpartisipasi bersama Seto dalam kegiatan tersebut. 

Selama tiga minggu, Seto dan Ibu Elga akan mempelajari pendekatan ‘University Co-Design’ dalam pembelajaran inklusif. Pendekatan tersebut menempatkan individu dengan disabilitas intelektual sebagai bagian aktif dari lingkungan universitas. Mereka tidak hanya diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, tetapi juga bekerja sebagai dosen pendamping (co-lecturer) yang berperan aktif dalam proses perkuliahan dan tutorial. Nantinya, Seto dan Ibu Elga akan mengobservasi dan ikut serta dalam proses, mulai dari persiapan rencana pembelajaran hingga berpartisipasi langsung dalam kelas perkuliahan. 

Keterlibatan Seto sebagai individu dengan disabilitas intelektual dalam program ini juga mendapat perhatian khusus dari Australian Awards Indonesia (AAI). Menurut Ibu Elga, pihak AAI memberikan dukungan besar karena partisipasi Seto sangat selaras dengan prinsip Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) yang diusung AAI dalam setiap programnya. “Mereka (Australia Awards Indonesia) berharap diseminasi proyek dengan Seto ini kuat karena sangat khas dan menjadi perhatian mereka,” ujar Ibu Elga.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas internasional tersebut, Seto berusaha membekali diri melalui berbagai langkah yang mendukung kesiapannya. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan mengikuti program pengabdian kepada masyarakat yaitu senior school di CLSD. Program ini memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan lansia serta dapat membantu melatih kepekaan sosial. Selain itu, Seto juga mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam berkomunikasi di lingkungan internasional. Tidak hanya itu, Seto juga mengikuti kelas IUP (International Undergraduate Program) di Fakultas Psikologi untuk membiasakan diri dengan ekosistem universitas. Seto juga turut menjaga kesiapan fisik agar nantinya dapat menjalani seluruh kegiatan dalam program mobilitas dengan optimal.

Orang tua, dosen, serta Fakultas Psikologi secara penuh mendukung langkah Seto dalam mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas. Dukungan yang hadir dari berbagai pihak di sekelilingnya diharapkan dapat menjadi semangat bagi Seto untuk semakin percaya diri dalam mengembangkan kemampuan dan siap memanfaatkan kesempatan yang diberikan Australian Alumni Grant dengan sebaik-baiknya.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Inklusivitas CLSD: Kisah Seto, Intern Disabilitas Intelektual yang Menginspirasi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 18 September 2025

Center for Life-Span Development (CLSD) UGM merupakan wadah bagi interns yang memiliki potensi luar biasa dan inspiratif. Salah satunya adalah Christopher Florensco Raditya Setadewa atau lebih akrab disapa Seto. Di tahun 2025 ini, Seto yang merupakan individu disabilitas intelektual, telah berkesempatan menjadi intern di CLSD UGM. Hadirnya Seto sebagai bagian dari CLSD UGM merupakan bukti keterbukaan dan wujud komitmen CLSD UGM terhadap inklusivitas untuk penyandang disabilitas di lingkungan kerja.

Tidak hanya itu, CLSD UGM juga memberikan energi baru yang menyegarkan bagi Seto sendiri. “Menyenangkan, apa yang mau disampaikan enjoy aja. Seneng juga dapet temen-temen baru, orangnya asik-asik,” ungkap Seto, menggambarkan suasana CLSD UGM yang ramah dan suportif.

Kondisi yang dialami Seto tidak menghalanginya untuk tetap aktif dalam berbagai kegiatan di CLSD UGM. Beberapa waktu terakhir, lulusan diploma perhotelan dari Sekolah Tumbuh ini aktif di salah satu program yang diselenggarakan oleh CLSD UGM, yaitu Kelas Psikologi Senior School. Senior School merupakan sebuah program sekolah lansia yang diselenggarakan oleh CLSD UGM  bekerja sama dengan BIAS School, di mana para peserta akan menerima berbagai materi mengenai psikologi dari dosen Fakultas Psikologi UGM.

Pada program tersebut, Seto terlibat dalam dua pertemuan terakhir yang diadakan pada tanggal 29 dan 30 Juli 2025. Sebagai fasilitator,  ia bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan dan memberikan mikrofon kepada peserta yang ingin bertanya. Meskipun awalnya merasa canggung karena ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi Seto tidak butuh waktu lama untuk dapat beradaptasi. “Mereka lebih semangat. Meskipun baru pertama kali ketemu jadi canggung, tapi semangat mereka menular,” ujar Seto penuh semangat. Bahkan di pertemuan kedua, Seto berinisiatif untuk membuat video dokumentasi dengan lebih menarik layaknya ‘content creator’.

Seto diperkenalkan kepada CLSD oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus salah satu tim peneliti di CLSD. Bu Elga yang telah mengenal Seto sejak kelas 1 Sekolah Dasar, menganggap Seto sebagai individu yang memiliki kemampuan yang sangat baik dan adaptif. 

Di luar kegiatannya bersama CLSD UGM, Seto juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan lainnya. Misalnya, ia sempat mengikuti beberapa mata kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Meskipun terkadang ia merasa materi yang diberikan tidak sepenuhnya terjangkau, respon dari mahasiswa lain membuat proses belajar menjadi lebih mudah. “Tanggapan mahasiswa lain juga sangat welcome, nice,” ujar Bu Elga. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang suportif adalah kunci utama untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi siapa pun.

Selain itu, Bu Elga juga menceritakan keterlibatan Seto dalam proyek photovoice terkait inklusivitas. Dalam proyek tersebut, Seto diminta untuk memotret kerumunan orang yang ada di jalanan Malioboro, kemudian menceritakannya. Menariknya, Seto melakukan hal tersebut secara antusias dan mandiri tanpa bantuan orang tua. Hal ini tentu menunjukkan kemandirian dan keinginan belajar yang tinggi dari Seto, yang tentunya tidak terlepas dari dukungan yang diberikan orang tua untuk mendukung perkembangannya.

Kisah Seto di CLSD bukan hanya sekadar cerita tentang seorang intern biasa. Seto adalah representasi dari semangat dan keinginan belajar yang tak pernah pudar. Dengan kemampuan sosial dan kemandirian yang luar biasa, pengalamannya memberikan pemahaman bahwa inklusivitas adalah tindakan nyata yang bisa dilakukan untuk menciptakan ruang aman dan ramah bagi semua orang.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Memahami Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kedai Kopi

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 21 April 2025

Oleh: Olyn Silvania | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Dan Schechtman, seorang peraih penghargaan Nobel pada bidang kimia tahun 2011 pernah berkata, “Pembangunan berkelanjutan membutuhkan kecerdasan manusia, sehingga manusia adalah sumber daya terpenting.” Perkataan tersebut mengarah pada pentingnya mencapai Sustainable Development Goals (SDG-4) Pendidikan yang Berkualitas (SDGS Bappenas, n.d.). Oleh karena itu, pemerintah, institusi pendidikan, organisasi non-pemerintah, pemilik usaha, komunitas, dan influencer perlu berkontribusi dalam menerapkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau education for sustainable development (ESD) (UNESCO, 2024). 

ESD merupakan pendidikan yang mendorong pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, sikap, dan bahkan kemampuan masyarakat agar mampu mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan, dan kesenjangan (UNESCO, 2024). ESD adalah proses belajar sepanjang hayat (Segara, 2013), sehingga penerapannya perlu melibatkan 1) Dimensi kognitif yakni meningkatkan kemampuan berpikir dan memahami informasi; 2) Dimensi sosioemosional yakni membangun keterampilan bersosialisasi, berempati, dan kecerdasan emosional; dan 3) Dimensi perilaku yakni mendorong tindakan atau masyarakat yang positif (UNESCO, 2024).

ESD tidak hanya terbatas pada institusi pendidikan, tetapi juga dapat dilakukan di kedai kopi. Data dari Organisasi Kopi Dunia mencatat bahwa Indonesia merupakan produsen kopi terbesar kedua di Asia dan Oseania setelah Vietnam. Dalam rentang tahun 2022 hingga 2023, produksi kopi di Indonesia meningkat sebesar 2,4% (12 juta kantong) (Pressrelease.id, n.d.). Meningkatnya produksi kopi di Indonesia berdampak dengan makin menjamurnya kedai kopi di Indonesia.Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa kedai kopi telah menjadi destinasi favorit berbagai kalangan usia, khususnya kaum muda. Hasil survei dari GoodStats (2024) terhadap 1.005 responden yang mayoritas berusia 18-24 tahun (43,7%) menunjukkan bahwa 66% responden di antaranya memilih untuk membeli kopi di kedai kopi daripada menyeduh kopi sendiri (34%). Bagi kaum muda, kedai kopi bukan hanya sekedar tempat untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi sarana kaum muda melepaskan rasa penat dari rutinitas harian dengan cara bersosialisasi dengan teman sebaya (Maspul, 2024). 

Sebagai salah satu destinasi favorit kaum muda, bisnis kedai kopi memiliki posisi penting dalam mempromosikan ESD kepada kaum muda. Hal ini dikarenakan kaum muda, khususnya mahasiswa dianggap sebagai pihak yang berkepentingan terhadap lingkungan hidup dan pengambil keputusan yang potensial di masa depan (Hamid dkk., 2017; Swaim dkk., 2014), sehingga menjadi kelompok usia yang menjadi fokus utama UNESCO untuk diberdayakan (UNESCO, 2024). Dengan demikian, kedai kopi yang mempromosikan ESD terhadap kaum muda berkontribusi dalam mendukung kaum muda untuk memenuhi tugas perkembangannya sebagai dewasa awal (18-40 tahun) yakni menjadi warga negara yang bertanggungjawab (Hurlock, 2009) dengan mengambil tindakan yang peduli terhadap keberlangsungan planet bumi baik secara individual maupun kolektif Lantas, apa saja yang dapat dilakukan oleh pemilik kedai kopi untuk mempromosikan ESD kepada kaum muda?

Mempromosikan perilaku pro-lingkungan (pro-enviromental behavior) dengan membuat sistem kedai kopi yang ramah lingkungan 

Pemilik kedai kopi dapat mendorong perilaku kaum muda yang positif dengan cara mempromosikan perilaku pro-lingkungan yang merupakan salah satu penerapan gaya hidup berkelanjutan, yakni perilaku manusia yang meminimalkan degradasi lingkungan sembari mendukung pembangunan sosial ekonomi yang adil dan kualitas hidup manusia yang lebih baik (UN Environment Programme. n.d.). 

Promosi perilaku pro-lingkungan dapat dilakukan dengan membuat sistem kedai kopi yang ramah lingkungan, seperti menggunakan lampu LED agar lebih hemat listrik, menyediakan tempat sampah organik dan anorganik, menyajikan minuman dan makanan ke dalam wadah berbahan kaca, menggunakan bahan baku organik, dan menggunakan sedotan yang bisa digunakan kembali, meminimalisir penggunaan pendingin ruangan agar lebih hemat energi, dan bahkan mendesain kedai kopi dengan memanfaatkan bahan alam (Jo dkk., 2019; Maspul dkk., 2024). Selain beberapa cara tersebut, kedai kopi juga menunjukkan apresiasi dengan cara memberikan potongan harga kepada kaum muda yang menunjukkan perilaku yang ramah lingkungan, seperti membawa tumbler sendiri

Memberikan edukasi kepada kaum muda mengenai penerapan perilaku pro-lingkungan 

Pemilik kedai kopi dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus kemampuan berpikir dan memahami informasi kaum muda dengan aktif memberikan edukasi. Dalam hal ini, pemilik kedai kopi dapat membagikan informasi melalui workshop, seminar, dan konten edukatif di media sosial mengenai bagaimana membuat konsep atau sistem kedai kopi yang lebih ramah lingkungan, mengelola sampah, mendaur ulang barang yang tidak mudah didaur ulang, dan memilih dan mengelola biji kopi yang organik (Mair & Laing, 2013). Edukasi juga dapat dilakukan dengan diskusi bulanan mengenai isu-isu lingkungan, sehingga kaum muda dapat saling bertukar pikiran dan pendapat. 

Mendorong perilaku altruistik dan perilaku yang setara 

Gaya hidup berkelanjutan bertujuan untuk mempromosikan kesejahteraan umat manusia (Di Fabio, 2017). Oleh karena itu, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di kedai kopi perlu mengembangkan kemampuan bersosialisasi, berempati, dan kecerdasan emosi pada kaum muda. Pemilik kedai kopi dapat mendorong kaum muda untuk melakukan perilaku altruistik, seperti mengajak kaum muda untuk membeli menu spesial yang dibuat oleh petani kopi lokal, ikut serta dalam kampanye terkait isu lingkungan, dan brdonasi. Selain itu, pemilik kedai kopi juga dapat mengedukasi kaum muda terkait perilaku yang setara, yakni perilaku yang menunjukkan keadilan kepada orang lain, seperti menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas, anak-anak, dan ibu hamil (Verdugo, 2012). 

Referensi

Di Fabio, A. (2017). The psychology of sustainability and sustainable development for well being in organizations. Frontiers in Psychology, 8, 1534. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.01534 

Good Stats. (2024). Hasil survei pola konsumsi kopi orang Indonesia di tahun 2024. Goodstats. 

Hamid S., TahaIjab M., Sulaiman H., Anwar R.M., Norman AA (2017). Social media for environmental sustainability awareness in higher education. Int J Sustain High Educ, 18(4), 474–491

Hurlock, E. B. (2009). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Erlangga. 

Jo, H., Song, C., &  Miyazaki, Y. (2019). Physiological benefits of viewing nature: A systematic review of indoor experiments. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(23), 4739.

Mair, J., & Laing, J. H. (2013). Encouraging pro-environmental behaviour: The role of sustainability-focused events. Journal of Sustainable Tourism, 21(8), 1113-1128.

Maspul, K. A. (2024). Exploring the relationship between coffee shop visitors’ coping strategies and well-being. Jurnal Psikologi, 1 (2), 1-13. https://doi.org/10.47134/pjp.v1i2.2028

Pressrelease.id. (n.d.). Tren industri kopu masa depan: Keberlenjutan bisnis hingga keberlanjutan lingkungan. https://pressrelease.kontan.co.id/news/trend-industri-kopi-masa-depan-keberlanjutan-bisnis-hingga-keberlanjutan-lingkungan

SDGS Bappenas. (n.d.). SDGs 4 Pendidikan berkualitas. Bappenas. Diunduh pada 28 Agustus 2024.  https://sdgs.bappenas.go.id/17-goals/goal-4/

Segara, N., B. (2015). Education  for  sustainable  development (ESD) Sebuah upaya mewujudkan kelestarian lingkungan. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 2(1), 2015, 22-30. https://doi.org/10.15408/sd.v2i1.1349

Swaim J. M. M., Napshin S, & Henley A (2014) Influences on student

intention and behavior toward environmental sustainability.Journal of Business Ethics. 124(3), 465–484

UN Environment Programme (n.d.). Gaya hidup berkelanjutan. UN Envrironment Programme. Diunduh pada 30 Agustus 2024. https://www.unep.org/explore-topics/resource-efficiency/what-we-do/sustainable-lifestyles 

UNESCO. (May 30, 2024). What you need to know about education for sustainable development. UNESCO. https://www.unesco.org/en/sustainable-development/education/need-know?hub=72522 Verdugo, V. (2012). The positive psychology of sustainability. Environment, Development and Sustainability, 14, 651-666. https:/doi.org/10.1007/s10668-012-9346-8

12

Recent Posts

  • Di Balik Niat Baik: Risiko Tersembunyi dalam Kegiatan Relawan di Panti Asuhan
  • Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South
  • Dosen Fakultas Psikologi UGM Raih Prestasi Gemilang dalam Hibah EQUITY WCU 2025/2026 untuk Mengembangkan FIMF Scale
  • Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif
  • Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY