
Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari, S.Psi., M.A., Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A., Zararah Yusri Nasution, S.Psi., M.A., Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A.
Saat ini kegiatan relawan (volunteer) telah menjadi kegiatan yang semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Kegiatan relawan dipandang sebagai sarana untuk menciptakan perubahan positif dan sarana yang dapat menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) bagi berbagai negara (Koirala & Harsamto, 2024). Di Indonesia, budaya “gotong royong” yaitu saling tolong menolong, saling membantu, dan bekerja sama telah mengakar kuat dan mencerminkan kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Budaya inilah yang mendorong dan mendukung adanya kegiatan relawan di Indonesia (Alfatih et al., 2025). Secara spesifik, kegiatan relawan adalah suatu kegiatan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan tertentu demi kepentingan orang lain yang dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental, baik bagi sukarelawan maupun komunitas (Famdale et al., 2025).
Motivasi individu atau kelompok melakukan kegiatan relawan sangatlah beragam. Altruisme kerap kali menjadi motivasi utama yang mendorong individu atau kelompok untuk menjadi sukarelawan. Motivasi ini umumnya sering kali berakar dari empati yang tinggi, yang kemudian memunculkan keinginan kuat untuk membantu orang lain (Unger, 1991). Altruisme mendorong sukarelawan untuk fokus pada kesejahteraan anak-anak. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Proyrungroj (2017) bahwa keinginan untuk membantu anak-anak adalah motivasi yang paling menonjol dengan berbagai ungkapan seperti untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak dan untuk membuat hidup anak-anak lebih baik. Penelitian Luping (2011) mengungkapkan bahwa motivasi sukarelawan juga berasal dari rasa tanggung jawab bahwa mereka merasakan rasa bersalah ketika melihat kesedihan yang dialami orang-orang yang membutuhkan tetapi tidak memperoleh bantuan.
Secara umum, tindakan sukarela merupakan aktivitas kontribusi yang tidak mencari imbalan atau kompensasi. Namun kenyataannya, para sukarelawan sering kali memiliki harapan atau ekspektasi ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan relawan (Luping, 2011). Selain ada rasa tanggung jawab ingin membantu orang lain, para sukarelawan juga menyebutkan berbagai motif yang berkaitan dengan pengembangan diri mereka. Contohnya adalah ingin menemukan potensi diri, memperluas relasi, memperkaya makna hidup, meningkatkan keterampilan, rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, keterampilan interpersonal, dan lain sebagainya (Luping, 2011; Proyrungroj, 2017). Salah satu kegiatan relawan yang paling sering ditemui adalah kegiatan relawan terhadap anak-anak dan remaja rentan yang tinggal di panti asuhan (Zeanah et al., 2019).
Beberapa contoh aktivitas relawan yang dilakukan di panti asuhan, yaitu berkunjung melihat kondisi anak-anak, memberikan bantuan uang atau barang, serta bermain dan belajar bersama anak (Van Doore & Nhep, 2023). Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya terjadi dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, sukarelawan juga dapat berkontribusi membantu panti asuhan merawat anak-anak, bahkan dapat tinggal di panti asuhan selama periode waktu tertentu (Van Doore & Nhep, 2023). Meskipun sebagian besar sukarelawan memiliki niat ingin memberikan kontribusi untuk mendukung kehidupan anak-anak di panti asuhan, kegiatan relawan ternyata juga berisiko dapat merugikan anak-anak.
Kegiatan relawan dapat berisiko bagi anak jika pihak panti asuhan maupun para relawan tidak mempertimbangkan tantangan etika yang muncul serta tidak melihat dari sudut pandang anak. Sebagai contoh, relawan biasanya berekspektasi bahwa anak-anak panti asuhan akan selalu menemani aktivitas relawan bahkan anak terkadang harus membolos sekolah dengan tujuan untuk menghibur relawan yang datang (Havens, 2018). Selanjutnya, dalam penelitian Guiney (2018) pihak panti asuhan juga mendorong anak untuk menunjukkan kesan miskin tetapi bahagia agar dapat memunculkan empati dari para relawan dan donatur. Hal seperti ini tentunya juga memunculkan kemungkinan eksploitasi karena memanfaatkan emosi dan empati anak agar memperoleh donasi. Risiko juga muncul ketika kegiatan relawan lebih berorientasi pada pengalaman pribadi sukarelawan dalam mengisi waktu liburan daripada kebutuhan berkelanjutan anak di panti asuhan, yang diistilahkan dengan orphanage voluntourism (Van Doore & Nhep, 2023). Tidak hanya itu, relawan terkadang hanya berfokus untuk bermain dengan anak di panti asuhan dan tidak sepenuhnya memahami cara menyelenggarakan program dengan tepat, padahal hal tersebut berpotensi memicu permasalahan kelekatan anak.
Pada umumnya, anak-anak dapat berada di panti asuhan dikarenakan orang tua atau pengasuh utama mereka tidak mampu menyediakan pengasuhan dan perlindungan yang layak bagi anak. Ketidakmampuan orang tua dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kemiskinan ekstrem (orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak), kematian orang tua, perceraian orang tua, kasus penelantaran, kekerasan, atau keterbatasan mental (Whetten et al., 2011). Kondisi-kondisi tersebut membuat anak harus terpisah dengan orang tua atau pengasuh utama yang seharusnya menjadi sumber utama rasa aman sebagai dasar pembentukan perkembangan emosional yang sehat (Van Doore & Nhep, 2023). Pengalaman berpisah dengan orangtua atau pengasuh utama menyebabkan anak sulit meregulasi emosi ketika kembali mengalami perpisahaan atau disebut juga sebagai respons atas trauma perpisahan (trauma of separation) (Ismayilova et al., 2023).Tidak hanya itu, anak yang tinggal di panti asuhan juga rentan mengalami kesepian.
Ketika sukarelawan datang ke panti asuhan hanya untuk bermain tanpa tujuan yang terarah dan spesifik, hal tersebut justru dapat lebih sulit bagi anak-anak dalam jangka panjang. Meskipun bagi sukarelawan mungkin tampak seperti tindakan kasih sayang, tetapi anak-anak dapat dengan cepat terikat dengan para sukarelawan (Bott, 2021). Jika sukarelawan pergi tanpa interaksi lanjutan lalu digantikan oleh sukarelawan baru, anak-anak dapat semakin terluka secara psikologis akibat pengalaman perpisahan yang berulang. Hal ini memberikan efek psikologis yang buruk pada anak yang membuat anak-anak merasa bahwa pada akhirnya mereka akan ditinggalkan lagi (Van Doore & Nhep, 2023). Dapat disimpulkan bahwa kegiatan relawan berpotensi memperparah masalah emosional (Frimpong-Manso, 2021) dan gangguan kelekatan (Richter & Norman, 2010) jika tidak memiliki tujuan yang spesifik dan terarah untuk perkembangan anak.
Anak-anak juga dapat berada dalam posisi rentan jika panti asuhan tidak memiliki kebijakan perlindungan anak atau jika pihak panti asuhan tidak melakukan penyaringan atau pemeriksaan latar belakang terhadap seluruh sukarelawan yang berkunjung (Lyneham & Facchini, 2019). Ketika panti asuhan memberikan akses tanpa batas kepada sukarelawan, hal ini dapat menempatkan anak-anak pada risiko eksploitasi oleh pihak-pihak yang berniat jahat, masalah perlindungan anak yang serius, kekerasan fisik dan seksual terhadap anak, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia (Van IJzendoorn et al., 2020). Kurangnya penegakan skrining yang tepat dan pembekalan keterampilan profesional terhadap relawan dapat memberikan kesempatan bagi pelanggar seks anak (Johnson, 2014). Hal ini adalah masalah yang perlu menjadi perhatian serius bagi pihak panti asuhan yang mungkin secara tidak sengaja mengekspos anak-anak pada risiko yang mengancam kesejahteraan seksual anak.
Berdasarkan pemaparan di atas, para pihak yang terkait dengan anak-anak di panti asuhan perlu memastikan bahwa kegiatan relawan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Banyak hal perlu dipertimbangkan secara cermat terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan anak-anak. Pertimbangan tersebut perlu memastikan adanya persetujuan yang jelas dari anak, menjamin perlindungan anak, tidak mengganggu hak anak, serta menempatkan tahapan perkembangan anak sebagai prioritas utama di dalam program. Tentunya, kegiatan relawan tidak boleh berfokus semata-mata sebagai sarana hiburan bagi relawan apalagi sebagai sarana panti asuhan untuk hanya memperoleh donasi.
Sikap bertanggung jawab saat berkunjung ke panti asuhan dimulai jauh sebelum kunjungan dilakukan, yaitu melalui persiapan yang matang. Relawan perlu melakukan riset dan komunikasi proaktif dengan pihak panti untuk memahami kebutuhan anak, bukan sekadar memberikan hiburan sesaat (Al Jazeera, 2025). Prioritasnya adalah kontribusi berkelanjutan, seperti menawarkan keahlian (skill-based volunteering) atau membangun komitmen jangka panjang yang konsisten (Unicef, 2019). Komitmen ini perlu dipastikan untuk berlanjut bahkan setelah kegiatan selesai. Sukarelawan perlu menjaga komunikasi untuk proses evaluasi kegiatan, serta memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi donatur tetap demi keberlanjutan program sehingga dukungan tidak berhenti pada satu kunjungan saja.
Selama interaksi dengan anak, etika dan batasan menjadi kunci utama. Relawan harus menghormati privasi anak dengan tidak menanyakan masa lalu mereka dan selalu berfokus pada kebutuhan anak di atas pengalaman pribadi. Hal-hal yang berpotensi mengganggu anak secara emosional, seperti membuat janji palsu atau menunjukkan favoritisme, harus dihindari secara tegas. Selain itu, perlindungan identitas anak juga menjadi hal yang krusial. Sukarelawan perlu memastikan bahwa proses dokumentasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan serta perlu adanya konsensus dari anak serta izin yang jelas dari pihak yang berwenang jika akan melakukan publikasi wajah anak di media sosial (UNHCR Europe, n.d.). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, niat baik yang menjadi dasar kerelawanan dapat tersalurkan menjadi dampak positif yang nyata dan terhindar dari potensi bahaya yang tidak disadari oleh para sukarelawan.
Referensi
Alfatih, M. I., Rizal, E., Sjafirah, N. A., & Rusmana, A. (2025). Community volunteers and literacy activism in rural Indonesia: A phenomenological study from West Java. International Journal of Innovative Research and Scientific Studies, 8(5), 394–407. https://doi.org/10.53894/ijirss.v8i5.8673
Bott, E. (2021). ‘My dark heaven’: Hidden voices in orphanage tourism. Annals of Tourism Research, 87, 103110. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.103110
Dos and don’ts for volunteers: How to support refugees in a responsible and ethical manner. (n.d.). UNHCR Europe. Retrieved September 18, 2025, from https://www.unhcr.org/europe/
Famdale, C. C., Widyarini, L. A., & Louis, A. W. (2025). Intention to Stay Indonesian Volunteers: The Effect of Autonomy, Competence, Relatedness, Satisfaction and Spirituality. Indonesian Journal of Advanced Research, 4(1), 61–74. https://doi.org/10.55927/ijar.v4i1.12360
Frimpong-Manso, K. (2021). Funding orphanages on donations and gifts: Implications for orphans in Ghana. New Ideas in Psychology, 60, 100835. https://doi.org/10.1016/j.newideapsych.2020.100835
Guiney, T. (2018). “Hug‐an‐orphan vacations”: “Love” and emotion in orphanage tourism. The Geographical Journal, 184(2), 125–137. https://doi.org/10.1111/geoj.12218
Havens, H. (2018). The Harms of Orphanage Voluntourism: Misperceptions among Volunteers [Graduate Thesis, Columbia University]. https://academiccommons.columbia.edu/doi/10.7916/D8C553BS
Ismayilova, L., Claypool, E., & Heidorn, E. (2023). Trauma of separation: The social and emotional impact of institutionalization on children in a post-soviet country. BMC Public Health, 23(1), 366. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15275-w
Johnson, A. K. (2014). Protecting Children’s Rights in Asian Tourism. The International Journal of Children’s Rights, 22(3), 581–617. https://doi.org/10.1163/15718182-02201001
Koirala, N., & Harsamto, V. (2024). Studi mendalam untuk memahami kerelawanan dan praktik-praktik kerelawanan di Indonesia. Empatika, Indorelawan, dan Australian Volunteers.
Luping, W. (2011). Motivations for Youth Volunteer Participation: Types and Structure—An Analysis of Interviews with Twenty-Four Young Volunteers. Chinese Education & Society, 44(2–3), 176–192. https://doi.org/10.2753/CED1061-1932440215
Lyneham, S., & Facchini, L. (2019). Benevolent harm: Orphanages, voluntourism and child sexual exploitation in South-East Asia. Australian Institute of Criminology. https://doi.org/10.52922/ti09999
Orphanage volunteering: The Do’s and Don’ts. (2025). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/video/people-power/2012/5/24/orphanage-volunteering-the-dos-and-donts
Proyrungroj, R. (2017). Orphan Volunteer Tourism in Thailand: Volunteer Tourists’ Motivations And On-Site Experiences. Journal of Hospitality & Tourism Research, 41(5), 560–584. https://doi.org/10.1177/1096348014525639
Richter, L. M., & Norman, A. (2010). AIDS orphan tourism: A threat to young children in residential care. Vulnerable Children and Youth Studies, 5(3), 217–229. https://doi.org/10.1080/17450128.2010.487124
Unger, L. S. (1991). Altruism as a motivation to volunteer. Journal of Economic Psychology, 12(1), 71–100. https://doi.org/10.1016/0167-4870(91)90044-T
Van Doore, K. E., & Nhep, R. (2023). Orphanage tourism and orphanage volunteering: Implications for children. Frontiers in Sustainable Tourism, 2, 1177091. https://doi.org/10.3389/frsut.2023.1177091
Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M. J., Duschinsky, R., Fox, N. A., Goldman, P. S., Gunnar, M. R., Johnson, D. E., Nelson, C. A., Reijman, S., Skinner, G. C. M., Zeanah, C. H., & Sonuga-Barke, E. J. S. (2020). Institutionalisation and deinstitutionalisation of children 1: A systematic and integrative review of evidence regarding effects on development. The Lancet Psychiatry, 7(8), 703–720. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30399-2
Volunteering in orphanages. (2019). Unicef. https://www.unicef.org/rosa/what-we-do/child-protection/volunteering-orphanages
Whetten, K., Ostermann, J., Whetten, R., O’Donnell, K., Thielman, N., & The Positive Outcomes for Orphans Research Team. (2011). More than the loss of a parent: Potentially traumatic events among orphaned and abandoned children. Journal of Traumatic Stress, 24(2), 174–182. https://doi.org/10.1002/jts.20625
Zeanah, C. H., Wilke, N. G., Shauffer, C., Rochat, T., Howard, A. H., & Dozier, M. (2019). Misguided altruism: The risks of orphanage volunteering. The Lancet Child & Adolescent Health, 3(9), 592–593. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30213-5










