• Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
Universitas Gadjah Mada Center for Life-Span Development (CLSD)
Faculty of Psychology
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
  • Beranda
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Arsip:

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Universitas Gadjah Mada bersama University of Ghana, Ghana dan Universidad Técnica de Manabí, Ekuador, melaksanakan riset yang bertajuk “STRONG-YOUTH: Socio-Technical Responses to Online Neglect and Global Youth Economic Exploitation”, yakni sebuah proyek kolaboratif lintas negara yang berfokus pada perlindungan pemuda dari eksploitasi ekonomi daring di kawasan Global South. Riset ini dilaksanakan sebagai respons atas percepatan digitalisasi di negara-negara Global South yang tidak selalu diiringi dengan sistem perlindungan memadai bagi pemuda. Perkembangan platform digital membuka peluang ekonomi, namun juga menghadirkan risiko berupa penipuan dan perjudian online, praktik predatory lending (pemberian pinjaman secara tidak adil, menipu, atau bersifat memaksa), serta kurangnya pengawasan terhadap aktivitas digital pemuda. Dampak eksploitasi tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan sosial individu. 

Riset ini dilaksanakan oleh tim lintas fakultas di Universitas Gadjah Mada, terdiri dari Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Teknik diwakilkan oleh Ir. Yun Prihantina Mulyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, Ir. Fitri Trapsilawati, S.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Ir. Ardiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM. Fakultas Psikologi diwakilkan oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. dan Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sementara itu, Fakultas MIPA diwakilkan oleh Arif Nurwidyantoro, S.Kom., M.Cs., Ph.D. Selain Indonesia, Ghana dan Ekuador menjadi mitra utama dalam proyek ini, yakni University of Ghana dan Universidad Técnica de Manabí yang masing-masing diwakilkan oleh Mahmood Brobbey Oppong dan Dr. Lucia Rivadeneira sebagai partner principal investigator. Proyek ini didanai melalui hibah dari u’GOOD The National Research Foundation (NRF), Afrika Selatan, dengan pembagian pendanaan sebesar 25 persen untuk Ekuador, 25 persen untuk Ghana, dan 50 persen untuk Indonesia.

Untuk mengisi celah kajian yang selama ini cenderung berfokus pada literasi digital semata, riset ini menghadirkan pendekatan yang bersifat inklusif dan holistik dengan mengintegrasikan subjek, cara berpikir, dan praktik kerja yang bersifat relasional ke dalam kerangka Relational Well-Being (RWB). Kerangka ini dirancang untuk memahami kesejahteraan dengan mempertimbangkan faktor personal, sosial, lingkungan, serta finansial. Riset ini juga menggunakan pendekatan mixed methods, meliputi survei, text mining, serta metode partisipatif yang melibatkan pemuda, pemerintah, dan sektor swasta. Selain itu, Agent-Based Modeling (ABM) dimanfaatkan untuk mensimulasikan cara berpikir, pola interaksi sosial, dan proses pengambilan keputusan oleh pemuda dalam lingkungan tertentu.

Melalui simulasi pada Agent-Based Modeling (ABM), peneliti dapat menguji kerangka Relational Well-Being (RWB) secara empiris sekaligus menilai efektivitas berbagai strategi intervensi dengan menerapkan kerangka Relational Well-Being (RWB) yang dikembangkan ke dalam model Agent-Based Modeling (ABM) untuk menggambarkan situasi nyata yang dihadapi pemuda. Melalui model ini, peneliti dapat melihat pengaruh perubahan pada satu faktor, seperti tekanan ekonomi atau lemahnya pengawasan pada tingkat kerentanan pemuda terhadap eksploitasi daring. Dengan pendekatan tersebut, riset ini tidak hanya menjelaskan kondisi yang ada, tetapi juga memprediksi kemungkinan dampak di masa depan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program intervensi yang sesuai serta memberikan kontribusi nyata dalam melindungi generasi muda dari eksploitasi ekonomi daring di era digital.

Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada senantiasa mencatat prestasi melalui perolehan hibah internasional. Salah satu capaian terbaru adalah keberhasilan meraih hibah dari UNICEF dengan jumlah pendanaan sebesar 49,965 USD. Tim penelitian ini terdiri dari beberapa akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. selaku dosen Fakultas Psikologi UGM, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Koordinator Center for Life-Span Development (CLSD), serta Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Research Associate di CLSD. Penelitian tersebut mengusung judul “Facilitating harmonisation and trialling of disability screening tools and associated teacher training tools”. 

Penelitian ini dilaksanakan melalui kolaborasi internasional bersama Dr. Alex Robinson dan Ms. Fleur Smith dari Nossal Institute of Public Health, University of Melbourne. Fokus utama dari riset ini adalah mengevaluasi pemahaman terhadap perangkat skrining serta kelayakan penerapannya oleh para pekerja garis depan. Kelompok sasaran tersebut meliputi guru, petugas Unit Layanan Disabilitas (ULD), serta tenaga kesehatan primer di Posyandu dan Puskesmas.

Perolehan hibah dari UNICEF ini menjadi bukti nyata dari komitmen Fakultas Psikologi UGM dalam mendorong pengembangan pendidikan dan layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Pendanaan riset internasional ini juga memperkuat upaya penerapan pendekatan berbasis bukti (evidence-based practice) dalam pengembangan kebijakan dan intervensi. Melalui kolaborasi internasional, penelitian ini diharapkan untuk mempererat kapasitas para tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Indonesia dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Fakultas Psikologi UGM memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dr. Alex Robinson, dan Ms. Fleur Smith atas pencapaian ini. Keberhasilan ini menunjukkan dedikasi Fakultas Psikologi UGM dalam berkontribusi pada isu-isu di tingkat nasional maupun internasional. Hasil penelitian ini diharapkan membawa dampak positif dalam penyusunan kebijakan serta praktik pendidikan inklusif, baik di lingkungan fakultas maupun pada skala nasional.

Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Selasa, 25 Oktober 2025, CLSD sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi”. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga 16.30 WIB. Adapun acara ini diikuti oleh 111 peserta yang merupakan orang tua mahasiswa.

Webinar ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dalam menjaga keharmonisan hubungan secara psikologis dengan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Acara ini dikemas dalam bentuk talk show inspiratif dan interaktif. Acara diawali dengan pemberian sambutan oleh Ibu Aisha Sekar Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Kepala CLSD sekaligus moderator acara. Kemudian, Bapak Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM turut serta menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan talk show dengan kedua pembicara, yaitu Ibu Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Alissa Wahid sebagai psikolog keluarga.

Selama berlangsungnya talk show, peserta berkesempatan untuk menelisik lebih jauh pengalaman kedua pembicara dalam membangun hubungan yang sehat secara psikologis dengan anak yang berada di perantauan. Ibu Elga menegaskan bahwa mengatur jarak komunikasi dan jarak emosional penting dilakukan oleh orang tua sehingga kemampuan anak dalam menghadapi masa pendewasaan selama merantau dapat lebih terasah. Adapun membangun jarak yang sehat dengan anak tentu tidak lepas dari tantangan yang muncul. Dalam hal ini, Ibu Alissa turut menceritakan tantangan yang dialaminya dalam menghadapi peralihan kehidupan anak ke masa perantauan. “Tantangan bagi banyak orang tua adalah harapannya anak mau cerita, harapannya kita selalu tahu apa yang terjadi pada anak, kemungkinan tidak akan mudah, tidak akan terpenuhi seperti gambaran kita …” ujar Ibu Alissa Wahid. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya penyesuaian komunikasi dengan karakter anak dalam menghadapi tantangan tersebut.

Pengalaman yang dibagikan oleh kedua pembicara sontak menggugah rasa penasaran peserta saat sesi tanya jawab. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan didasarkan pada pengalaman pribadi peserta dalam menghadapi proses transisi hubungan antara orang tua dan anak selama masa perkuliahan di perantauan. Melalui sesi tanya jawab, pemahaman dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak di perantauan terbentuk dengan lebih mendalam. 

Webinar “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi” merupakan wadah untuk berbagi informasi dalam meningkatkan kesadaran dan memupuk pemahaman orang tua terkait proses adaptasi dan transisi relasi antara orang tua dan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Melalui webinar ini, harapannya peserta dapat memahami dan menerapkan ilmu yang diberikan dalam membangun hubungan yang sehat dan bermakna dengan anak ke depannya.

CLSD Onboarding in Wonderland: Memulai Perjalanan Internship dengan Semangat dan Kreativitas

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Jumat, 12 September 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan onboarding interns dengan tema “CLSD Onboarding in Wonderland” yang dilaksanakan di ruang K-203 Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Acara ini dihadiri oleh 45 peserta, terdiri dari para interns,  koordinator divisi, koordinator unit, peneliti, serta asisten CLSD. “CLSD Onboarding in Wonderland” dilaksanakan sebagai langkah awal para interns CLSD untuk mengenal lebih dalam visi, misi, serta dinamika kerja di CLSD.

Rangkaian acara dibuka oleh I Marannu Andi Khalisha, S.Psi selaku asisten CLSD sebagai master of ceremony. Selanjutnya, sesi pengenalan CLSD disampaikan oleh Ibu Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Koordinator CLSD, yang memberikan gambaran umum mengenai struktur keanggotaan, hak dan kewajiban interns, serta pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui program-program di CLSD. Pada sesi ini, para koordinator divisi juga memberikan penjelasan mengenai penugasan di divisi piket serta pengenalan interns yang tergabung di tiap divisi. 

Memasuki materi inti, Rahmita Laily Muhtadini, S.Psi., selaku koordinator Divisi E: Pengembangan Intern memaparkan materi “Day to Day as Intern” yang membahas aktivitas harian para interns selama terlibat di berbagai program dan aktivitas di CLSD. Pemaparan ini kemudian dilengkapi dengan pengenalan sejumlah program CLSD yang sedang berjalan, dengan tujuan memberikan gambaran kepada para intern mengenai berbagai program yang dapat mereka ikuti ke depannya. Pengenalan program disampaikan oleh Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A. serta Siti Afifa Choirunissah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku asisten CLSD. Rangkaian materi ditutup oleh Ibu Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Ph.D., Psikolog, selaku peneliti CLSD, yang menyampaikan materi mengenai value dan work ethics serta menekankan pentingnya menjunjung dan menerapkan CLSD values, meliputi nilai saling menghormati, profesionalisme, keadilan dan kesetaraan, kepedulian, sikap terbuka untuk berkompromi, komunikasi yang efektif, inisiatif, serta berpikir secara terbuka.

Acara ini juga menghadirkan sesi ice breaking sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan antarpeserta. Kebersamaan tersebut juga diperkuat melalui sharing session dari masing-masing divisi untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai fungsi dan aktivitas tiap divisi di CLSD. Selanjutnya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi awarding Kompetisi Buku Cerita Anak CLSD 2025, yaitu ajang yang diselenggarakan oleh CLSD untuk mendorong lahirnya karya cerita anak yang kreatif, imajinatif, dan bermakna, sekaligus dapat menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap literasi pada anak-anak Indonesia sejak usia dini. Dalam kompetisi ini, dipilih enam karya terbaik sebagai pemenang, yakni Debrinna Tryanan Asmaradhani, Regia Zahra Humaira, Khalishah Aulia Izzati, Rahmita Laily Muhtadini, Anindya Reva Tabina, Irrine Puspa Pertiwi. Acara ditutup dengan awarding untuk dresscode terbaik yang dikenakan peserta “CLSD Onboarding in Wonderland”.

Acara ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan onboarding ini diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi para interns untuk berkontribusi secara optimal dan berproses secara profesional selama menjalani program internship di CLSD. Melalui rangkaian kegiatan yang interaktif dan inspiratif, para interns tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang visi, misi, serta nilai-nilai CLSD, tetapi juga membangun ikatan kebersamaan yang kuat antaranggota.

International Course on Public Mental Health 2025 – Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Monday, 29 December 2025

Registration poster for the International Course on Public Mental Health 2025

In collaboration of the Center for Public Mental Health (CPMH) and the Center for Life-Span Development (CLSD) of the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada, an International Course on Public Mental Health is organised this year. This means that this is the third time CLSD has organised an international course, with the first being held in 2021. In these international courses, excellent lecturers worldwide are invited to bring a lecture, with this year inviting professionals from Universiti Malaya, UNICEF Indonesia, University of Queensland, University of Melbourne, Marmara Üniversitesi, and many more. Taking place online from Monday to Friday, October 27th–31st 2025, the International Course for Public Mental Health 2025 holds the theme, “Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools”.

This international course aims to bring together insights and strategies to empower families for them to thrive amidst these challenges, fostering resilience, balance, and stronger intergenerational connections for healthier, more supportive societies. Using existing research, evidence-based practices, and real-world practical applications, this course provides a platform for participants to explore various approaches in fostering mental health across generations and contexts, which is connected to fulfilling the Sustainable Development Goals (SDGs), such as Good Health and Wellbeing (3) and Quality Education (4). All of the courses were conducted in English and closed captioning was provided.

Day 2, brought by Tanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. from UNICEF Indonesia, on Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental Health

For this year’s course, we invited 6 international speakers and 6 national speakers from various backgrounds and fields of expertise from all over the world, such as Australia, Malaysia, Turkey, the United Kingdom, and the United States of America. Attended by students, researchers, educators, professionals, and parents alike from 3 different countries, this course started with an opening event brought by 2 of our speakers, Prof. Dr. Süleyman Derin and Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog on October 23rd on Living Room Talks: Diana & Derin, with the topic of “Supportive Family for Youth Mental Health Development”.

“Family is a very strategic place to produce good citizens, good characters, good workers, and good assets for society. But family also only functions well if the society or the nation also helps them too. These two things need to go hand in hand, we can’t leave families alone to carry the burden, it is our collective responsibility to make an enabler factor for the families to function well.” said Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog, the speaker at our opening event and a lecturer at the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada.

This course consisted of nine different topics, with each topic commemorating the role of parents, families, educators, communities, schools, inclusive education, advocacy, mental health, and wellbeing for all in strengthening healthier, more resilient families and thriving future generations in this changing world.

DateTime (GMT +7)AgendaSpeakers
Monday, 27 October 202513:00–14:30Parenting Adolescents in a Changing WorldProf. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung
Tuesday, 28 October 202516:00–17:30Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental HealthTanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. UNICEF
Wednesday, 29 October 202513:00–14:30Designing Mental Health–Friendly School SystemsHolly Erskine
15:30–17:00Family Interventions for Mental Health PromotionProf. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si
Thursday, 30 October 202512:30–14:00Digital Well-being and Family-School CollaborationTeodora Pavkovic, M.Sc., Clin.Psy.
15:30–17:00Experiences of Youth with DisabilitiesElga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. and Christopher Florensco Raditya Setadewa
20:00–21:30Positive Discipline For EducatorsJoy Marchese
Friday, 31 October 202510:00–11:30Trauma-Informed Approaches in Schools and Families: Care, Connect, CollaborateDr. Annie Gowing
13:00–14:30Families at the Peak of Career Demands: Balancing Work and CareFuad Hamsyah, S.Psi., M.Sc., Ph.D

Day 3, Session 1, brought by Holly Erskine from The University of Queensland, Australia, on Designing Mental Health–Friendly School Systems.

With that, the International Course on Public Mental Health, held from 27–31 October 2025, with a total of 9 sessions, uniting 12 speakers from 7 countries, and 37 participants from 3 countries has come to an end. The organising committee of the International Course on Public Mental Health 2025 expresses our utmost gratitude to the speakers for sharing their valuable knowledge and insights in fostering healthier intergenerational connections among youth, families, communities, and schools. We are also extremely grateful to all participants for their active participation and contributions during this international course. We look forward to welcoming you at our upcoming events in the future!

“Let’s all be people who demystify and help build understanding,” Dr. Annie Gowing

Pembelajaran Inklusif dan Pengalaman Global: Presentasi Seto dalam Program Mobilitas Internasional bersama University of Melbourne

ArtikelArtikel Thursday, 6 November 2025

Pada 6 Oktober 2025, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk mempresentasikan pengalaman dan hasil pembelajaran dari program mobilitas internasional di University of Sydney, Australia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam forum diskusi bersama kelompok riset dari University of Melbourne yang dipimpin oleh Dr Annie Gowing.

Di kesempatan yang sama, Rema Vara Indry Dubu, salah satu alumni Fakultas Psikologi UGM, juga turut berbagi hasil penelitian tesisnya berjudul “Kesehatan Mental Remaja dengan HIV Perinatal: Studi Photovoice”, yang menggambarkan realitas psikologis dan sosial kelompok remaja dengan HIV perinatal di Indonesia.

Belajar tentang Kesempatan dan Inklusi di University of Sydney

Pada sesi pertama, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto membagikan kisah inspiratifnya selama mengikuti kegiatan Uni2Beyond di the University of Sydney, sebuah program yang mendukung partisipasi mahasiswa dengan disabilitas intelektual di lingkungan kampus. Seto menyiapkan presentasinya menggunakan prinsip co-design dan easy read yang ia kembangkan bersama Ibu Elga Andriana dan mentor Mlathi Anggayuh Jati, mahasiswa Master of Education di University of New South Wales (UNSW).

Seto menceritakan kebahagiaannya dalam berinteraksi dengan teman-teman baru dan menyaksikan bagaimana setiap individu, termasuk mereka dengan disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berkuliah, bekerja, dan berkarya sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Setelah kembali ke Indonesia, saya ingin bisa ikut seminar-seminar dan membagikan pengalaman saya, supaya bisa memotivasi orang dengan disabilitas di sini,” ujar Seto dengan semangat.

Dalam sesi tanya jawab, Seto juga menekankan pentingnya membangun relasi personal di tempat kerja yang inklusif. “Kalau orang ingin bekerja dengan orang dengan disabilitas intelektual, harus belajar untuk dekat dan berteman. Jadi tidak hanya bekerja saja, karena kalau berteman itu kan jadi senang,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Annie Gowing menyoroti bahwa pengalaman Seto mencerminkan penerapan cara pandang yang berfokus pada kekuatan individu (strength-based view), yang idealnya menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan sosial dan profesional.

Membuka Ruang Dialog tentang Kesejahteraan Psikologis Remaja dengan HIV Perinatal

Tidak kalah menarik, pada sesi berikutnya Rema Vara Indry Dubu memaparkan proses dan hasil penelitiannya mengenai kesejahteraan psikologis remaja dengan HIV perinatal. Melalui pendekatan Photovoice, penelitian ini memberikan ruang bagi para remaja untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka secara langsung.

Rema menyampaikan bahwa isu kesejahteraan psikologis pada kelompok remaja ini masih jarang dieksplorasi, sehingga sering kali luput dari perhatian. “Melalui penelitian ini, saya berharap semakin banyak pihak yang mulai memperhatikan isu ini dan menciptakan program yang dapat mendukung kesejahteraan psikologis remaja dengan perinatal HIV,” jelasnya.

Menumbuhkan Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan

Forum diskusi ini menjadi ajang penting untuk mempererat kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan University of Melbourne, serta memperluas wawasan tentang pembelajaran dan riset lintas budaya. Kegiatan ini tidak hanya membuka ruang berbagi pengalaman akademik, tetapi juga memperkuat komitmen kedua institusi dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak sosial.

Ke depan, CLSD berharap program dan forum serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pertukaran ilmu pengetahuan dan memperkuat jejaring global dalam bidang psikologi dan pengembangan manusia sepanjang hayat.

Langkah Seto Menuju Pengalaman Global: Mewujudkan Pembelajaran Inklusif bersama Australian Alumni Grants 2025

ArtikelArtikel Friday, 19 September 2025

Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, berkesempatan mengikuti program mobilitas internasional ke University of Sydney, Australia. Program ini merupakan bagian dari proyek yang didanai hibah Australian Alumni Grants 2025, yang diraih oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., dosen sekaligus peneliti CLSD, yang akan turut berpartisipasi bersama Seto dalam kegiatan tersebut. 

Selama tiga minggu, Seto dan Ibu Elga akan mempelajari pendekatan ‘University Co-Design’ dalam pembelajaran inklusif. Pendekatan tersebut menempatkan individu dengan disabilitas intelektual sebagai bagian aktif dari lingkungan universitas. Mereka tidak hanya diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, tetapi juga bekerja sebagai dosen pendamping (co-lecturer) yang berperan aktif dalam proses perkuliahan dan tutorial. Nantinya, Seto dan Ibu Elga akan mengobservasi dan ikut serta dalam proses, mulai dari persiapan rencana pembelajaran hingga berpartisipasi langsung dalam kelas perkuliahan. 

Keterlibatan Seto sebagai individu dengan disabilitas intelektual dalam program ini juga mendapat perhatian khusus dari Australian Awards Indonesia (AAI). Menurut Ibu Elga, pihak AAI memberikan dukungan besar karena partisipasi Seto sangat selaras dengan prinsip Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) yang diusung AAI dalam setiap programnya. “Mereka (Australia Awards Indonesia) berharap diseminasi proyek dengan Seto ini kuat karena sangat khas dan menjadi perhatian mereka,” ujar Ibu Elga.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas internasional tersebut, Seto berusaha membekali diri melalui berbagai langkah yang mendukung kesiapannya. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan mengikuti program pengabdian kepada masyarakat yaitu senior school di CLSD. Program ini memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan lansia serta dapat membantu melatih kepekaan sosial. Selain itu, Seto juga mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam berkomunikasi di lingkungan internasional. Tidak hanya itu, Seto juga mengikuti kelas IUP (International Undergraduate Program) di Fakultas Psikologi untuk membiasakan diri dengan ekosistem universitas. Seto juga turut menjaga kesiapan fisik agar nantinya dapat menjalani seluruh kegiatan dalam program mobilitas dengan optimal.

Orang tua, dosen, serta Fakultas Psikologi secara penuh mendukung langkah Seto dalam mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas. Dukungan yang hadir dari berbagai pihak di sekelilingnya diharapkan dapat menjadi semangat bagi Seto untuk semakin percaya diri dalam mengembangkan kemampuan dan siap memanfaatkan kesempatan yang diberikan Australian Alumni Grant dengan sebaik-baiknya.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Inklusivitas CLSD: Kisah Seto, Intern Disabilitas Intelektual yang Menginspirasi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 18 September 2025

Center for Life-Span Development (CLSD) UGM merupakan wadah bagi interns yang memiliki potensi luar biasa dan inspiratif. Salah satunya adalah Christopher Florensco Raditya Setadewa atau lebih akrab disapa Seto. Di tahun 2025 ini, Seto yang merupakan individu disabilitas intelektual, telah berkesempatan menjadi intern di CLSD UGM. Hadirnya Seto sebagai bagian dari CLSD UGM merupakan bukti keterbukaan dan wujud komitmen CLSD UGM terhadap inklusivitas untuk penyandang disabilitas di lingkungan kerja.

Tidak hanya itu, CLSD UGM juga memberikan energi baru yang menyegarkan bagi Seto sendiri. “Menyenangkan, apa yang mau disampaikan enjoy aja. Seneng juga dapet temen-temen baru, orangnya asik-asik,” ungkap Seto, menggambarkan suasana CLSD UGM yang ramah dan suportif.

Kondisi yang dialami Seto tidak menghalanginya untuk tetap aktif dalam berbagai kegiatan di CLSD UGM. Beberapa waktu terakhir, lulusan diploma perhotelan dari Sekolah Tumbuh ini aktif di salah satu program yang diselenggarakan oleh CLSD UGM, yaitu Kelas Psikologi Senior School. Senior School merupakan sebuah program sekolah lansia yang diselenggarakan oleh CLSD UGM  bekerja sama dengan BIAS School, di mana para peserta akan menerima berbagai materi mengenai psikologi dari dosen Fakultas Psikologi UGM.

Pada program tersebut, Seto terlibat dalam dua pertemuan terakhir yang diadakan pada tanggal 29 dan 30 Juli 2025. Sebagai fasilitator,  ia bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan dan memberikan mikrofon kepada peserta yang ingin bertanya. Meskipun awalnya merasa canggung karena ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi Seto tidak butuh waktu lama untuk dapat beradaptasi. “Mereka lebih semangat. Meskipun baru pertama kali ketemu jadi canggung, tapi semangat mereka menular,” ujar Seto penuh semangat. Bahkan di pertemuan kedua, Seto berinisiatif untuk membuat video dokumentasi dengan lebih menarik layaknya ‘content creator’.

Seto diperkenalkan kepada CLSD oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus salah satu tim peneliti di CLSD. Bu Elga yang telah mengenal Seto sejak kelas 1 Sekolah Dasar, menganggap Seto sebagai individu yang memiliki kemampuan yang sangat baik dan adaptif. 

Di luar kegiatannya bersama CLSD UGM, Seto juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan lainnya. Misalnya, ia sempat mengikuti beberapa mata kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Meskipun terkadang ia merasa materi yang diberikan tidak sepenuhnya terjangkau, respon dari mahasiswa lain membuat proses belajar menjadi lebih mudah. “Tanggapan mahasiswa lain juga sangat welcome, nice,” ujar Bu Elga. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang suportif adalah kunci utama untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi siapa pun.

Selain itu, Bu Elga juga menceritakan keterlibatan Seto dalam proyek photovoice terkait inklusivitas. Dalam proyek tersebut, Seto diminta untuk memotret kerumunan orang yang ada di jalanan Malioboro, kemudian menceritakannya. Menariknya, Seto melakukan hal tersebut secara antusias dan mandiri tanpa bantuan orang tua. Hal ini tentu menunjukkan kemandirian dan keinginan belajar yang tinggi dari Seto, yang tentunya tidak terlepas dari dukungan yang diberikan orang tua untuk mendukung perkembangannya.

Kisah Seto di CLSD bukan hanya sekadar cerita tentang seorang intern biasa. Seto adalah representasi dari semangat dan keinginan belajar yang tak pernah pudar. Dengan kemampuan sosial dan kemandirian yang luar biasa, pengalamannya memberikan pemahaman bahwa inklusivitas adalah tindakan nyata yang bisa dilakukan untuk menciptakan ruang aman dan ramah bagi semua orang.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Sedang Mengalami Life Crisis? Yuk, Terapkan Strategi Ini!

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 8 September 2025

Oleh: Muhammad Iqbal Fakhrul Firdaus | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Setiap tahap kehidupan membawa krisis atau tantangan yang khas, yang sering disebut sebagai life crisis. Krisis tersebut bukan sekadar hambatan, tetapi bagian penting dalam perkembangan untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan sosial. Mulai dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut, setiap tahap membutuhkan strategi tertentu agar individu mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna.

Pada masa kanak-kanak, krisis utama yang dihadapi adalah pengembangan rasa trust (kepercayaan) versus mistrust (ketidakpercayaan), seperti yang dikemukakan Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya. Pengasuhan yang penuh kasih membentuk rasa percaya terhadap dunia sekitar. Sebaliknya, pengasuhan yang tidak konsisten dapat menimbulkan ketidakpercayaan yang mempengaruhi hubungan sosial anak di masa depan (Khairani & Maemonah, 2021).

Masa remaja merupakan tahap yang sarat dengan eksplorasi identitas diri, dengan krisis yang dikenal sebagai identity vs role confusion (identitas vs kebingungan peran). Remaja mencari nilai, minat, dan tujuan hidup yang sesuai dengan jati diri mereka. Tantangan dalam tahap tersebut seringkali melibatkan tekanan dari keluarga, teman, dan masyarakat yang mengharuskan mereka menentukan arah hidup. Dukungan dari orang tua dan lingkungan, seperti pengasuhan fleksibel dan suportif sangat penting agar remaja dapat bereksplorasi dengan aman serta menemukan identitas yang stabil (Rageliene, 2016). Para pendidik juga memiliki peran besar dalam memfasilitasi pemahaman akan berbagai pilihan hidup, memberikan ruang untuk diskusi terbuka, dan mendukung minat remaja agar mereka tidak terjebak dalam kebingungan identitas yang berkepanjangan (Sadowski, 2021).

Memasuki masa dewasa awal, krisis yang dihadapi adalah intimacy vs isolation (keintiman vs isolasi), di mana individu berusaha membangun hubungan dekat yang bermakna. Ketakutan akan kegagalan dalam hubungan dapat menyebabkan kesepian. Oleh sebab itu, pengembangan keterampilan komunikasi yang efektif menjadi penting agar individu dapat mengekspresikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan jelas (Rosenberg & Chopra, 2015). Komunikasi yang baik mencakup mendengarkan secara aktif dan berbicara dengan asertif. Selain itu, keterampilan mengelola batas dalam hubungan seperti kemampuan untuk berkata “tidak” ketika dibutuhkan membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kepentingan orang lain. Keterlibatan dalam komunitas suportif juga dapat memberikan jaringan sosial yang penting dan meningkatkan kepercayaan diri individu dalam berinteraksi dengan orang lain (Baldwin, 2015).

Masa paruh baya atau seringkali dikenal sebagai masa untuk berkontribusi atau generativity ditandai dengan kebutuhan untuk merasa produktif melalui peran seperti mentor, pengasuhan, atau kegiatan sosial. Apabila gagal mencapai perasaan produktif tersebut, seseorang dapat mengalami stagnation atau perasaan mandek. Strategi untuk menghadapi krisis tersebut adalah dengan mencari dan mengejar kegiatan bermakna, baik di tempat kerja maupun kehidupan pribadi. Berkontribusi pada masyarakat melalui peran-peran tersebut dapat meningkatkan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologis individu (Klein et al., 2016).

Pada usia lanjut, krisis yang muncul adalah integrity vs despair (integritas vs keputusasaan), yang melibatkan refleksi atas kehidupan. Individu yang merasa telah menjalani hidup dengan bermakna cenderung mencapai rasa integritas, sedangkan mereka yang menyesali hidupnya akan mengalami keputusasaan. Untuk menghadapi krisis tersebut, penting bagi lansia untuk melakukan refleksi mendalam atas pencapaian dan kegagalan, serta menerima apa yang telah mereka lalui. Menjaga hubungan sosial yang positif, tetap aktif dalam kegiatan yang bermakna, dan mengembangkan hobi juga berperan dalam menjaga kesejahteraan di usia lanjut (Rhoades, 2018).

Krisis kehidupan seringkali dianggap sebagai saat-saat sulit, namun sebenarnya dapat menjadi momen penting bagi pertumbuhan diri. Setiap tahap perkembangan menuntut individu untuk menghadapi tantangan tertentu yang apabila berhasil dilalui dapat membawa kematangan emosional dan psikologis yang lebih mendalam. Pemahaman yang baik tentang krisis yang khas di setiap tahap kehidupan dapat membantu individu dan lingkungan sekitar untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Sebagai contoh, pemahaman orang tua tentang krisis identitas remaja memungkinkan mereka untuk memberikan ruang dan bimbingan yang dibutuhkan, sehingga remaja dapat mengeksplorasi identitasnya tanpa tekanan yang berlebihan (Layland et al., 2018).

Lebih jauh lagi, lingkungan sosial yang sehat dan suportif memainkan peran penting dalam membantu individu mengatasi krisis kehidupan. Lingkungan yang inklusif, penuh empati, dan terbuka akan memfasilitasi proses penemuan jati diri serta mendorong pencapaian tujuan hidup yang bermakna. Dengan adanya dukungan dari orang-orang di sekitar seperti keluarga, teman, dan komunitas, individu dapat merasakan kebersamaan yang memperkuat mental serta emosional mereka. Pada akhirnya, dengan strategi dan dukungan yang tepat, krisis yang dihadapi bukan hanya menjadi beban, tetapi peluang untuk tumbuh dan menemukan makna dalam setiap tahapan hidup.

Secara keseluruhan, krisis kehidupan di setiap tahap perkembangan merupakan bagian alami dari perjalanan hidup yang menawarkan kesempatan untuk tumbuh. Meskipun terasa berat, krisis tersebut memungkinkan individu mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan sehat. Dengan dukungan sosial, refleksi diri, dan keterlibatan dalam kegiatan positif, individu dapat mengatasi berbagai tantangan di tiap tahap kehidupan.

Referensi

Baldwin, G. (2015). Volunteer engagement 2.0: Ideas and insights changing the world. John Wiley & Sons.

Layland, E. K., Hill, B. J., & Nelson, L. J. (2018). Freedom to explore the self: How emerging adults use leisure to develop identity. The Journal of Positive Psychology, 13(1), 78-91.

Khairani, & Maemonah. (2021). The nature of psychosocial development in early childhood according to Erik Erikson’s view. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 5(2), 151–161.

Klein, C., Keller, B., Silver, C. F., Hood, R. W., & Streib, H. (2016). Positive adult development and “spirituality”: Psychological well-being, generativity, and emotional stability. In Semantics and psychology of spirituality: A cross-cultural analysis (pp. 401–436). Springer.

Locher, M. A. (2015). “After all, the last thing I wanted to be was rude”: Raising of pragmatic awareness through reflective writing. De Gruyter.

Rageliene, T. (2016). Links of adolescents identity development and relationship with peers: A systematic literature review. Journal of the Canadian Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 25(2), 97.

Rhoades, R. A. (2018). Aging well: Staying younger, smarter, and fit. First Edition Design Publisher.

Rosenberg, M. B., & Chopra, D. (2015). Nonviolent communication: A language of life: Life-changing tools for healthy relationships. PuddleDancer Press.Sadowski, M. (2021). Adolescents at school: Perspectives on youth, identity, and education. Harvard Education Press.

“Mencari Bantuan Bukan Berarti Lemah”: Pentingnya Help-Seeking Behavior pada Masa Remaja

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 4 August 2025

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.

Masa remaja menjadi periode yang cukup menantang mengingat adanya perubahan di berbagai domain perkembangan, yaitu fisik, emosi, dan sosial (Santrock, 2020). Perubahan fisik dan hormon sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan bagi remaja. Perubahan emosi yang intens juga menjadi penanda khas dari periode ini. Selain itu, remaja banyak melakukan eksplorasi identitas diri dan ingin menjadi bagian dari suatu kelompok. Remaja akan lebih sering menghabiskan waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua. Bagi remaja, penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya adalah sumber penting dari rasa harga diri dan keterikatan sosial, yang erat kaitannya dengan perkembangan psikologis yang sehat (Lin & Guo, 2024).

Perubahan yang kompleks terkadang dapat menimbulkan permasalahan pada kehidupan remaja. Permasalahan yang kerap muncul, yaitu masalah akademik, penilaian diri negatif akibat perbandingan sosial, kebingungan identitas, kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial, masalah hubungan interpersonal seperti konflik dengan orang tua, penolakan dan pengucilan teman sebaya (Lin & Guo, 2024). Remaja yang kurang mampu mengatasi masalah secara efektif cenderung berisiko mengalami masalah kesehatan mental (Sulistiowati dkk., 2022).

Masa remaja menjadi periode kritis untuk timbulnya masalah kesehatan mental. Gangguan emosi seperti depresi dan kecemasan adalah masalah yang paling umum terjadi di kalangan remaja (Merikangas dkk., 2010). Menurut World Health Organization (2021), satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental. Hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental (Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health, 2022). Masalah kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak mengingat pengaruhnya yang besar terhadap kesejahteraan hidup.

Masalah kesehatan mental yang terjadi di kalangan remaja dapat disebabkan oleh rendahnya kesadaran remaja untuk mencari bantuan (Syakarofath & Widyasari, 2023). Sebagian remaja masih merasa enggan mencari bantuan saat mereka kesulitan mengatasi masalah dan merasakan ketidaknyamanan. Remaja lebih memilih memendam perasaan dan masalahnya sendiri daripada bercerita kepada orang lain karena takut dianggap lemah dan dijauhi. Remaja sering kali melakukan penundaan yang cukup lama untuk mencari bantuan.

Menurut Ogden (2023), perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) dalam konteks kesehatan adalah tindakan seseorang untuk mendapatkan bantuan eksternal dalam menangani masalah kesehatan yang dialami. Ajzen (1991) mengemukakan tentang theory of planned behavior yang menjelaskan proses munculnya suatu perilaku. Teori tersebut menunjukkan bahwa help-seeking behavior tidak muncul secara spontan, tetapi didahului oleh proses kognitif. Proses kognitif ini meliputi keyakinan seseorang terhadap konsekuensi dari perilaku mencari bantuan apakah bermanfaat atau tidak, kemudian sejauh mana lingkungan sosial mendukung perilaku seseorang mencari bantuan, serta keyakinan seseorang untuk mampu menerapkan perilaku mencari bantuan. Hal-hal tersebut akan memengaruhi niat seseorang. Semakin kuat niat yang dimiliki seseorang, maka perilaku mencari bantuan pun cenderung terjadi.

Sikap enggan atau menunda mencari bantuan dapat menghalangi remaja mendapatkan penanganan yang tepat. Pinto dkk. (2014) menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental remaja yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan menurunkan kualitas hidup dan menghambat perkembangan seseorang. Hal tersebut juga akan memicu kerentanan remaja terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkotika, konsumsi alkohol, perilaku seksual yang tidak sehat, kriminalitas, self-harm, dan percobaan bunuh diri. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini pada remaja.

Menyadari pentingnya perilaku mencari bantuan pada remaja, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk membentuk perilaku mencari bantuan dalam hal kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan oleh remaja yaitu membangun self-awareness (kesadaran diri). Menurut Rickwood dkk. (2005), remaja dengan self-awareness yang tinggi akan mampu mengenali emosi yang dirasakan, lebih menyadari hal yang menjadi kebutuhan mereka untuk merasa lebih baik, dan cenderung lebih mampu menerima kelebihan maupun kekurangan diri. Hal ini akan mendorong remaja untuk lebih terbuka meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya.

Selain itu, lingkungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun guru memiliki peran krusial untuk mendorong remaja secara aktif mencari bantuan (Eigenhuis dkk., 2021). Misalnya, pemberian informasi layanan kesehatan dan edukasi kesehatan dari pihak sekolah untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja. Selain itu, teman sebaya dapat menjadi sumber dukungan emosional untuk remaja agar mencari bantuan ketika sedang merasa tidak baik-baik saja. Orang tua juga dapat menjadi sumber dukungan berharga bagi remaja untuk memulai proses rujukan ke bantuan profesional. Penelitian Hellström dan Beckman (2021) menyatakan bahwa remaja sangat membutuhkan orang dewasa untuk hadir membantu dan mendengar kebutuhan mereka.

Kesadaran akan pentingnya mencari bantuan menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih berdaya. Pencarian bantuan memiliki potensi untuk menurunkan tingkat keparahan, mempercepat proses pemulihan, dan mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Ketika remaja mau menerapkan perilaku mencari bantuan, maka beban yang selama ini mereka pendam dan tumpuk terlalu lama perlahan akan berkurang. Remaja dapat mencari bantuan dengan mulai berani bercerita ke orang terdekat, bergabung dengan komunitas yang suportif, dan mencari bantuan profesional di unit layanan kesehatan terdekat maupun mengakses aplikasi layanan kesehatan online. Ingatlah bahwa mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Referensi

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50, 179-211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T 

Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health. (2022). Indonesia—National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan Penelitian. Pusat Kesehatan Reproduksi.

Eigenhuis, E., Waumans, R. C., Muntingh, A. D. T., Westerman, M. J., Van Meijel, M., Batelaan, N. M., & Van Balkom, A. J. L. M. (2021). Facilitating factors and barriers in help-seeking behaviour in adolescents and young adults with depressive symptoms: A qualitative study. PLOS ONE, 16(3), e0247516. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0247516 

Hellström, L., & Beckman, L. (2021). Life challenges and barriers to help seeking: Adolescents’ and young adults’ voices of mental health. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(24), 13101. https://doi.org/10.3390/ijerph182413101 

Lin, J., & Guo, W. (2024). The research on risk factors for adolescents’ mental health. Behavioral Sciences, 14(4), 263. https://doi.org/10.3390/bs14040263 

Merikangas, K. R., He, J., Burstein, M., Swanson, S. A., Avenevoli, S., Cui, L., Benjet, C., Georgiades, K., & Swendsen, J. (2010). Lifetime prevalence of mental disorders in U.S. adolescents: Results from the National Comorbidity Survey Replication–Adolescent Supplement (NCS-A). Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 49(10), 980–989. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2010.05.017 

Ogden, J. (2023). Health psychology: A textbook (7th ed.). McGraw Hill.

Pinto, A. C. S., Luna, I. T., Sivla, A. D. A., Pinheiro, P. N. D. C., Braga, V. A. B., & Souza, Â. M. A. E. (2014). Risk factors associated with mental health issues in adolescents: A integrative review. Revista Da Escola de Enfermagem Da USP, 48(3), 555–564. https://doi.org/10.1590/S0080-623420140000300022 

Rickwood, D., Deane, F. P., Wilson, C. J., & Ciarrochi, J. (2005). Young people’s help-seeking for mental health problems. Australian E-Journal for the Advancement of Mental Health, 4(3), 218–251. https://doi.org/10.5172/jamh.4.3.218 

Santrock, J. W. (2020). A topical approach to life-span development (10th ed.). McGraw-Hill Education.

Sulistiowati, N. M. D., Keliat, B. A., Ismail, R. I., Besral, B., Darsana, I. W., & Triana, I. K. D. L. (2022). Risk factors, protective factors, and mental health well-being among adolescents: A multiple mediator model. International Journal of Health Sciences, 6, 7826–7841. https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS5.11695 

Syakarofath, N. A., & Widyasari, D. C. (2023). The attitude of help-seeking behavior preventing from mental health problems among adolescents living in district of Bondowoso. Jurnal Psikologi Integratif, 11(1), 25-39. World Health Organization. (2021). Mental health of adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

123

Recent Posts

  • Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South
  • Dosen Fakultas Psikologi UGM Raih Prestasi Gemilang dalam Hibah EQUITY WCU 2025/2026 untuk Mengembangkan FIMF Scale
  • Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif
  • Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi
  • CLSD Onboarding in Wonderland: Memulai Perjalanan Internship dengan Semangat dan Kreativitas
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY