Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Faculty of Psychology
Center for Life-Span Development (CLSD)
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • [Update 2026] Publikasi
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

CLSD UGM Merefleksikan Prestasi Melalui CLSD End of Year Party 2025: Festival Dangdut Pantura

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 12 March 2026

Kebersamaan Anggota CLSD dalam Kegiatan EOY 2025

Halo, Sobat CLSD! Center for Life-Span Development (CLSD) UGM kembali melakukan kegiatan CLSD End of Year Party. Acara tersebut merupakan agenda tahunan untuk merayakan pencapaian dan karya  CLSD yang sudah dihasilkan oleh dosen-dosen maupun members selama setahun terakhir. Di tanggal 19 Desember 2025, CLSD End of Year Party kembali dilakukan dengan mengusung tema “Festival Dangdut Pantura” yang bertempat di ruang B-204 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Acara ini sukses membawa suasana ceria dan penuh semangat. Selain itu, acara ini dihadiri oleh 21 orang dari member, koordinator divisi, asisten, dan research associate CLSD, hingga dosen yang terafiliasi dengan CLSD. Mau tahu, agenda apa saja yang membawa keseruan selama acara akhir tahun ini? Yuk simak artikel berikut!

Kegiatan ini dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala CLSD, Mbak Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Pada sambutan tersebut, Mbak Shasha berpesan untuk terus menjaga solidaritas dan inisiatif dari seluruh member CLSD saat mengikuti berbagai projek di CLSD. Beliau turut menyampaikan harapan supaya CLSD terus berkontribusi menyelenggarakan program yang dapat berdampak ke masyarakat.

Agenda selanjutnya pada CLSD End of Year Party adalah pemutaran video Kaleidoskop CLSD sepanjang tahun 2025. Di tahun ini, tercatat bahwa CLSD telah berhasil menyelenggarakan 14 kegiatan rutin, 5 kegiatan penelitian dan pengembangan alat ukur, 8 kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dan 6 kegiatan pendidikan dan pengajaran. Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat tidak dilakukan sendiri, tetapi melibatkan berbagai stakeholders seperti RSUP Dr. Sardjito dan TVRI. Di tahun yang sama, CLSD berhasil menjalin kolaborasi riset lintas negara dan lintas disiplin yang membuktikan bahwa posisi CLSD tidak hanya berdampak pada skala lokal, tetapi sudah mencapai taraf internasional. Beberapa proyek penelitian internasional di antaranya adalah penelitian mengenai evaluasi perangkat skrining disabilitas yang berkolaborasi dengan Nossal Institute, University of Melbourne dengan pendanaan dari UNICEF. Selain itu, terdapat hibah bergengsi seperti mendapat hibah u’GOOD The National Research Foundation (NRF) (South Africa). Hibah tersebut mengena dampak sosial-ekonomi dari eksploitasi digital terhadap anak muda serta mengembangkan kerangka Relational Well-Being (RWB) untuk mencegahnya. Selain itu, penelitian ini juga merancang intervensi sosial-teknologis berbasis model simulasi untuk meningkatkan ketahanan anak muda dari berbagai bentuk eksploitasi online.

Serunya games antar kelompok CLSD

Selain itu, acara ini menjadi kesempatan untuk memberikan penghargaan pada member CLSD yang telah berkontribusi secara aktif selama setahun terakhir. Penghargaan ini diberikan kepada beberapa member CLSD seperti Alya Zahra Budiman, Rifda Amira Mulika, Ulul Ilmi, Osi Livia S, Alfia Rahma Permatasari, Juverio Pangestu, Naisma Dyah Ayuning Rasti, Carissa Azarine Delicia, Soraya Azahra Vivadinar, dan Nabila Jauza. Para member CLSD tersebut dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi yang diberikan selama di CLSD. Harapannya dengan adanya penghargaan tersebut, diharapkan dapat memotivasi diri member lain yang ada di CLSD.Kegiatan ini turut serta diramaikan dengan kegiatan games seru, kesan-pesan, dan bernyanyi dangdut bersama. Adanya kegiatan tersebut diharapkan mampu merekatkan dan menumbuhkan semangat lebih untuk semua member CLSD. Selain itu, diharapkan semua individu yang tergabung di CLSD dapat mempersiapkan diri untuk menemui tantangan baru di tahun 2026. Tantangan yang dimaksud dapat berupa tantangan dalam mempelajari hal baru, berdinamika kelompok, koordinasi dengan usia yang berbeda, hingga koordinasi dengan pihak eksternal dalam mengerjakan proyek.

Pemberian apresiasi kepada Member CLSD

Melalui kegiatan CLSD End of Year Party 2025, member, koordinator divisi, asisten, research associate CLSD, hingga dosen yang terafiliasi dengan CLSD dapat menilik kembali perjalanan penting yang telah dilalui. Terselenggaranya kegiatan ini menunjukkan bahwa terdapat keberhasilan CLSD dalam merayakan pencapaian dan menghargai semua bentuk kontribusi dari elemen yang terlibat. Oleh karena itu, dengan semangat baru di tahun 2026, CLSD siap menghasilkan karya dan pencapaian terbaik lainnya. Terima kasih atas kebersamaan di tahun 2025. Sampai jumpa di tahun 2026, Sobat CLSD!

Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Tuesday, 24 February 2026

Hai, Sobat CLSD! Pada Agustus 2025 hingga Desember 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) sukses melaksanakan rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Kegiatan ini adalah bentuk kerja sama dengan Ruang Literasi Kaliurang yang dilaksanakan selama empat kali dengan frekuensi satu bulan sekali. Melalui kegiatan ini, sebanyak 37 anak-anak dari kelompok usia 3 – 4 tahun didampingi oleh orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan membaca nyaring interaktif. Selain itu, kegiatan ini juga diwarnai dengan permainan edukatif sesuai dengan tema buku yang dibawakan, mulai dari cara menjaga kebersihan sampai pengenalan bahan makanan. Kegiatan ini merupakan upaya CLSD untuk menanamkan kesadaran pentingnya literasi pada anak usia dini. Ingin telisik lebih lanjut bagaimana keseruan rangkaian kegiatannya? Yuk, simak liputan di bawah ini!

The Reading Buddies: On the Go pertama diadakan pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Guna menunjang keberlangsungan acara, CLSD menghadirkan beberapa fasilitator yang terdiri atas Irrine Puspa Pertiwi, Rifda Amira Mulika, Regia Zahra Humaira, dan Ulul Ilmi. Para fasilitator kemudian membacakan Awan Lalat, buku cerita yang mengisahkan tentang rumah seorang gadis yang dihinggapi sekumpulan lalat karena kurang menjaga kebersihan diri. Menariknya, setelah sesi baca nyaring dilaksanakan, peserta berkesempatan untuk berpartisipasi dalam empat permainan kreatif yang diadaptasi dari buku cerita tersebut. Adapun permainan ini terdiri dari membersihkan meja makan, membuang sampah pada tempatnya, mencuci piring dan tangan, dan isi piringmu. Melalui kegiatan “isi piringmu”, anak-anak belajar membuat kerajinan tangan berupa bahan makanan secara kreatif. Kegiatan ini diharapkan dapat mengajarkan anak-anak terkait pentingnya menghargai makanan dan mengelola sampah berupa sisa-sisa makanan dengan baik.

Antusiasme The Reading Buddies: On the Go kedua kembali menggema di Ruang Literasi Kaliurang pada Sabtu, 27 September 2025. Acara ini membawakan buku cerita Mimpi Loni dalam kegiatan membaca nyaring yang dipandu oleh Rahmita Laily Muhtadini, Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, dan Irrine Puspa Pertiwi. Jalan cerita Mimpi Loni berfokus pada pengalaman seekor bunglon yang berubah menjadi aneka binatang dalam mimpinya sebagai perjalanan menerima diri sendiri. Kegiatan membaca nyaring kemudian disambung dengan pelaksanaan bookish play di mana anak-anak mengikuti kegiatan mencocokkan warna lingkungan dengan warna bunglon. Masih dalam permainan kreasi binatang serupa, anak-anak kemudian berkesempatan untuk mengisi dan menempel benda-benda bertekstur pada pola binatang yang telah disajikan. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mengenal ragam binatang melalui rangkaian permainan yang penuh makna serta memahami bahwa tiap binatang dikaruniai dengan masing-masing karakteristik yang sesuai dengan habitatnya. 

Berbeda dengan konsep acara sebelumnya, The Reading Buddies: On the Go ketiga membawakan Tiju si Pemburu Keju dalam kegiatan membaca nyaring pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Buku cerita ini mengajak anak-anak untuk menelusuri perjalanan seekor tikus yang berburu keju untuk mengisi rasa laparnya. Antusiasme anak-anak meningkat seiring mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu rangkaian permainan berupa pengenalan bahan makanan yang dipandu oleh Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, Nabila Jauza, dan Rafidatul Hikam. Pengenalan bahan makanan dikemas melalui kegiatan mencari keju dan membuat roti dengan playdough. Selayaknya koki sesungguhnya, anak-anak sebelumnya juga diajak untuk membuat topi koki yang akan digunakan selama pembuatan bahan makanan. Pemakaian atribut sebagai koki menjadi salah satu alasan terbentuknya nuansa permainan ini terasa lebih nyata dan menyenangkan. 

Pengenalan bahan makanan melalui buku kembali disemarakkan melalui The Reading Buddies: On the Go yang dilaksanakan pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kegiatan dimulai dengan membaca nyaring buku cerita Kue Lapis Harimau tentang seekor harimau yang gemar membuat kue, yaitu hobi yang berbeda dari teman-teman binatang lainnya. Keseruan kegiatan kemudian dilanjut dengan bookish play, seperti belanja dan mengenali bahan kue. Dalam kesempatan kali ini, anak-anak belajar untuk mengenal bahan pembuatan kue, seperti tepung, garam, gula, daun pandan dan lain-lain. Tidak hanya itu, rasa penasaran mereka terkait cara membuat kue terjawab melalui praktik bersama. Keseruan acara ini tentu tidak lepas dari berbagai ide kreatif dan inovatif dari fasilitator, yaitu Rahmita Laily Muhtadini, Osi Livia S, Pandu Adyatma Ramadhani, dan Adelio Helga Martansyah, yang berhasil membuat rangkaian acara mengukir senyum pada wajah anak-anak.

Semangat untuk terus belajar dan dan bertumbuh bersama menjadi nilai utama yang tercermin dalam Rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Hal ini turut ditunjukkan dengan meningkatnya antusiasme anak di setiap pertemuannya. Acara ini diharapkan dapat mendorong orang tua untuk berpartisipasi secara aktif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan imajinasi anak melalui literasi.

Penasaran dengan keseruan The Reading Buddies lainnya? 
Yuk, pantau terus informasi terbaru melalui laman resmi CLSD!

Penulis: Daveisha Pavita Kirana
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Di Balik Niat Baik: Risiko Tersembunyi dalam Kegiatan Relawan di Panti Asuhan

ArtikelArtikelCLSDPedia Thursday, 12 February 2026

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari, S.Psi., M.A., Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A., Zararah Yusri Nasution, S.Psi., M.A., Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A.

Saat ini kegiatan relawan (volunteer) telah menjadi kegiatan yang semakin diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Kegiatan relawan dipandang sebagai sarana untuk menciptakan perubahan positif dan sarana yang dapat menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) bagi berbagai negara (Koirala & Harsamto, 2024). Di Indonesia, budaya “gotong royong” yaitu saling tolong menolong, saling membantu, dan bekerja sama telah mengakar kuat dan mencerminkan kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat. Budaya inilah yang mendorong dan mendukung adanya kegiatan relawan di Indonesia (Alfatih et al., 2025). Secara spesifik, kegiatan relawan adalah suatu kegiatan memberikan waktu dan tenaga tanpa imbalan tertentu demi kepentingan orang lain yang dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental, baik bagi sukarelawan maupun komunitas (Famdale et al., 2025).

Motivasi individu atau kelompok melakukan kegiatan relawan sangatlah beragam. Altruisme kerap kali menjadi motivasi utama yang mendorong individu atau kelompok untuk menjadi sukarelawan. Motivasi ini umumnya sering kali berakar dari empati yang tinggi, yang kemudian memunculkan keinginan kuat untuk membantu orang lain (Unger, 1991). Altruisme mendorong sukarelawan untuk fokus pada kesejahteraan anak-anak. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Proyrungroj (2017) bahwa keinginan untuk membantu anak-anak adalah motivasi yang paling menonjol dengan berbagai ungkapan seperti untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi anak-anak dan untuk membuat hidup anak-anak lebih baik. Penelitian Luping (2011) mengungkapkan bahwa motivasi sukarelawan juga berasal dari rasa tanggung jawab bahwa mereka merasakan rasa bersalah ketika melihat kesedihan yang dialami orang-orang yang membutuhkan tetapi tidak memperoleh bantuan. 

Secara umum, tindakan sukarela merupakan aktivitas kontribusi yang tidak mencari imbalan atau kompensasi. Namun kenyataannya, para sukarelawan sering kali memiliki harapan atau ekspektasi ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan relawan (Luping, 2011). Selain ada rasa tanggung jawab ingin membantu orang lain, para sukarelawan juga menyebutkan berbagai motif yang berkaitan dengan pengembangan diri mereka. Contohnya adalah ingin menemukan potensi diri, memperluas relasi, memperkaya makna hidup, meningkatkan keterampilan, rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, keterampilan interpersonal, dan lain sebagainya (Luping, 2011; Proyrungroj, 2017).  Salah satu kegiatan relawan yang paling sering ditemui adalah kegiatan relawan terhadap anak-anak dan remaja rentan yang tinggal di panti asuhan (Zeanah et al., 2019).

Beberapa contoh aktivitas relawan yang dilakukan di panti asuhan, yaitu berkunjung melihat kondisi anak-anak, memberikan bantuan uang atau barang, serta bermain dan belajar bersama anak (Van Doore & Nhep, 2023). Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya terjadi dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, sukarelawan juga dapat berkontribusi membantu panti asuhan merawat anak-anak, bahkan dapat tinggal di panti asuhan selama periode waktu tertentu (Van Doore & Nhep, 2023). Meskipun sebagian besar sukarelawan memiliki niat ingin memberikan kontribusi untuk mendukung kehidupan anak-anak di panti asuhan, kegiatan relawan ternyata juga berisiko dapat merugikan anak-anak.

Kegiatan relawan dapat berisiko bagi anak jika pihak panti asuhan maupun para relawan tidak mempertimbangkan tantangan etika yang muncul serta tidak melihat dari sudut pandang anak. Sebagai contoh, relawan biasanya berekspektasi bahwa anak-anak panti asuhan akan selalu menemani aktivitas relawan bahkan anak terkadang harus membolos sekolah dengan tujuan untuk menghibur relawan yang datang (Havens, 2018). Selanjutnya, dalam penelitian Guiney (2018) pihak panti asuhan juga mendorong anak untuk menunjukkan kesan miskin tetapi bahagia agar dapat memunculkan empati dari para relawan dan donatur. Hal seperti ini tentunya juga memunculkan kemungkinan eksploitasi karena memanfaatkan emosi dan empati anak agar memperoleh donasi. Risiko juga muncul ketika kegiatan relawan lebih berorientasi pada pengalaman pribadi sukarelawan dalam mengisi waktu liburan daripada kebutuhan berkelanjutan anak di panti asuhan, yang diistilahkan dengan orphanage voluntourism (Van Doore & Nhep, 2023). Tidak hanya itu, relawan terkadang hanya berfokus untuk bermain dengan anak di panti asuhan dan tidak sepenuhnya memahami cara menyelenggarakan program dengan tepat, padahal hal tersebut berpotensi memicu permasalahan kelekatan anak.

Pada umumnya, anak-anak dapat berada di panti asuhan dikarenakan orang tua atau pengasuh utama mereka tidak mampu menyediakan pengasuhan dan perlindungan yang layak bagi anak. Ketidakmampuan orang tua dapat disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kemiskinan ekstrem (orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak), kematian orang tua, perceraian orang tua, kasus penelantaran, kekerasan, atau keterbatasan mental (Whetten et al., 2011). Kondisi-kondisi tersebut membuat anak harus terpisah dengan orang tua atau pengasuh utama yang seharusnya menjadi sumber utama rasa aman sebagai dasar pembentukan perkembangan emosional yang sehat (Van Doore & Nhep, 2023). Pengalaman berpisah dengan orangtua atau pengasuh utama menyebabkan anak sulit meregulasi emosi ketika kembali mengalami perpisahaan atau disebut juga sebagai respons atas trauma perpisahan (trauma of separation) (Ismayilova et al., 2023).Tidak hanya itu, anak yang tinggal di panti asuhan juga rentan mengalami kesepian.

Ketika sukarelawan datang ke panti asuhan hanya untuk bermain tanpa tujuan yang terarah dan spesifik, hal tersebut justru dapat lebih sulit bagi anak-anak dalam jangka panjang. Meskipun bagi sukarelawan mungkin tampak seperti tindakan kasih sayang, tetapi anak-anak dapat dengan cepat terikat dengan para sukarelawan (Bott, 2021). Jika sukarelawan pergi tanpa interaksi lanjutan lalu digantikan oleh sukarelawan baru, anak-anak dapat semakin terluka secara psikologis akibat pengalaman perpisahan yang berulang. Hal ini memberikan efek psikologis yang buruk pada anak yang membuat anak-anak merasa bahwa pada akhirnya mereka akan ditinggalkan lagi (Van Doore & Nhep, 2023). Dapat disimpulkan bahwa kegiatan relawan berpotensi memperparah masalah emosional (Frimpong-Manso, 2021) dan gangguan kelekatan (Richter & Norman, 2010) jika tidak memiliki tujuan yang spesifik dan terarah untuk perkembangan anak. 

Anak-anak juga dapat berada dalam posisi rentan jika panti asuhan tidak memiliki kebijakan perlindungan anak atau jika pihak panti asuhan tidak melakukan penyaringan atau pemeriksaan latar belakang terhadap seluruh sukarelawan yang berkunjung (Lyneham & Facchini, 2019). Ketika panti asuhan memberikan akses tanpa batas kepada sukarelawan, hal ini dapat menempatkan anak-anak pada risiko eksploitasi oleh pihak-pihak yang berniat jahat, masalah perlindungan anak yang serius, kekerasan fisik dan seksual terhadap anak, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia (Van IJzendoorn et al., 2020). Kurangnya penegakan skrining yang tepat dan pembekalan keterampilan profesional terhadap relawan dapat memberikan kesempatan bagi pelanggar seks anak (Johnson, 2014). Hal ini adalah masalah yang perlu menjadi perhatian serius bagi pihak panti asuhan yang mungkin secara tidak sengaja mengekspos anak-anak pada risiko yang mengancam kesejahteraan seksual anak.

Berdasarkan pemaparan di atas, para pihak yang terkait dengan anak-anak di panti asuhan perlu memastikan bahwa kegiatan relawan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Banyak hal perlu dipertimbangkan secara cermat terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan anak-anak. Pertimbangan tersebut perlu memastikan adanya persetujuan yang jelas dari anak, menjamin perlindungan anak, tidak mengganggu hak anak, serta menempatkan tahapan perkembangan anak sebagai prioritas utama di dalam program. Tentunya, kegiatan relawan tidak boleh berfokus semata-mata sebagai sarana hiburan bagi relawan apalagi sebagai sarana panti asuhan untuk hanya memperoleh donasi. 

Sikap bertanggung jawab saat berkunjung ke panti asuhan dimulai jauh sebelum kunjungan dilakukan, yaitu melalui persiapan yang matang. Relawan perlu melakukan riset dan komunikasi proaktif dengan pihak panti untuk memahami kebutuhan anak, bukan sekadar memberikan hiburan sesaat (Al Jazeera, 2025). Prioritasnya adalah kontribusi berkelanjutan, seperti menawarkan keahlian (skill-based volunteering) atau membangun komitmen jangka panjang yang konsisten (Unicef, 2019). Komitmen ini perlu dipastikan untuk berlanjut bahkan setelah kegiatan selesai. Sukarelawan perlu menjaga komunikasi untuk proses evaluasi kegiatan, serta memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi donatur tetap demi keberlanjutan program sehingga dukungan tidak berhenti pada satu kunjungan saja.

Selama interaksi dengan anak, etika dan batasan menjadi kunci utama. Relawan harus menghormati privasi anak dengan tidak menanyakan masa lalu mereka dan selalu berfokus pada kebutuhan anak di atas pengalaman pribadi. Hal-hal yang berpotensi mengganggu anak secara emosional, seperti membuat janji palsu atau menunjukkan favoritisme, harus dihindari secara tegas. Selain itu, perlindungan identitas anak juga menjadi hal yang krusial. Sukarelawan perlu memastikan bahwa proses dokumentasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan serta perlu adanya konsensus dari anak serta izin yang jelas dari pihak yang berwenang jika akan melakukan publikasi wajah anak di media sosial (UNHCR Europe, n.d.). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, niat baik yang menjadi dasar kerelawanan dapat tersalurkan menjadi dampak positif yang nyata dan terhindar dari potensi bahaya yang tidak disadari oleh para sukarelawan.

Referensi

Alfatih, M. I., Rizal, E., Sjafirah, N. A., & Rusmana, A. (2025). Community volunteers and literacy activism in rural Indonesia: A phenomenological study from West Java. International Journal of Innovative Research and Scientific Studies, 8(5), 394–407. https://doi.org/10.53894/ijirss.v8i5.8673 

Bott, E. (2021). ‘My dark heaven’: Hidden voices in orphanage tourism. Annals of Tourism Research, 87, 103110. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.103110 

Dos and don’ts for volunteers: How to support refugees in a responsible and ethical manner. (n.d.). UNHCR Europe. Retrieved September 18, 2025, from https://www.unhcr.org/europe/ 

Famdale, C. C., Widyarini, L. A., & Louis, A. W. (2025). Intention to Stay Indonesian Volunteers: The Effect of Autonomy, Competence, Relatedness, Satisfaction and Spirituality. Indonesian Journal of Advanced Research, 4(1), 61–74. https://doi.org/10.55927/ijar.v4i1.12360 

Frimpong-Manso, K. (2021). Funding orphanages on donations and gifts: Implications for orphans in Ghana. New Ideas in Psychology, 60, 100835. https://doi.org/10.1016/j.newideapsych.2020.100835 

Guiney, T. (2018). “Hug‐an‐orphan vacations”: “Love” and emotion in orphanage tourism. The Geographical Journal, 184(2), 125–137. https://doi.org/10.1111/geoj.12218 

Havens, H. (2018). The Harms of Orphanage Voluntourism: Misperceptions among Volunteers [Graduate Thesis, Columbia University]. https://academiccommons.columbia.edu/doi/10.7916/D8C553BS 

Ismayilova, L., Claypool, E., & Heidorn, E. (2023). Trauma of separation: The social and emotional impact of institutionalization on children in a post-soviet country. BMC Public Health, 23(1), 366. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15275-w 

Johnson, A. K. (2014). Protecting Children’s Rights in Asian Tourism. The International Journal of Children’s Rights, 22(3), 581–617. https://doi.org/10.1163/15718182-02201001 

Koirala, N., & Harsamto, V. (2024). Studi mendalam untuk memahami kerelawanan dan praktik-praktik kerelawanan di Indonesia. Empatika, Indorelawan, dan Australian Volunteers. 

Luping, W. (2011). Motivations for Youth Volunteer Participation: Types and Structure—An Analysis of Interviews with Twenty-Four Young Volunteers. Chinese Education & Society, 44(2–3), 176–192. https://doi.org/10.2753/CED1061-1932440215 

Lyneham, S., & Facchini, L. (2019). Benevolent harm: Orphanages, voluntourism and child sexual exploitation in South-East Asia. Australian Institute of Criminology. https://doi.org/10.52922/ti09999 

Orphanage volunteering: The Do’s and Don’ts. (2025). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/video/people-power/2012/5/24/orphanage-volunteering-the-dos-and-donts 

Proyrungroj, R. (2017). Orphan Volunteer Tourism in Thailand: Volunteer Tourists’ Motivations And On-Site Experiences. Journal of Hospitality & Tourism Research, 41(5), 560–584. https://doi.org/10.1177/1096348014525639 

Richter, L. M., & Norman, A. (2010). AIDS orphan tourism: A threat to young children in residential care. Vulnerable Children and Youth Studies, 5(3), 217–229. https://doi.org/10.1080/17450128.2010.487124 

Unger, L. S. (1991). Altruism as a motivation to volunteer. Journal of Economic Psychology, 12(1), 71–100. https://doi.org/10.1016/0167-4870(91)90044-T 

Van Doore, K. E., & Nhep, R. (2023). Orphanage tourism and orphanage volunteering: Implications for children. Frontiers in Sustainable Tourism, 2, 1177091. https://doi.org/10.3389/frsut.2023.1177091 

Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M. J., Duschinsky, R., Fox, N. A., Goldman, P. S., Gunnar, M. R., Johnson, D. E., Nelson, C. A., Reijman, S., Skinner, G. C. M., Zeanah, C. H., & Sonuga-Barke, E. J. S. (2020). Institutionalisation and deinstitutionalisation of children 1: A systematic and integrative review of evidence regarding effects on development. The Lancet Psychiatry, 7(8), 703–720. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30399-2 

Volunteering in orphanages. (2019). Unicef. https://www.unicef.org/rosa/what-we-do/child-protection/volunteering-orphanages 

Whetten, K., Ostermann, J., Whetten, R., O’Donnell, K., Thielman, N., & The Positive Outcomes for Orphans Research Team. (2011). More than the loss of a parent: Potentially traumatic events among orphaned and abandoned children. Journal of Traumatic Stress, 24(2), 174–182. https://doi.org/10.1002/jts.20625

Zeanah, C. H., Wilke, N. G., Shauffer, C., Rochat, T., Howard, A. H., & Dozier, M. (2019). Misguided altruism: The risks of orphanage volunteering. The Lancet Child & Adolescent Health, 3(9), 592–593. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30213-5

Kolaborasi Antar Pihak untuk Menyelamatkan Hak Anak: Putus Rantai Perkawinan Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 19 November 2025

Oleh: Rahmita Laily Muhtadini | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A

Perkawinan anak merupakan salah satu isu serius negara Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih.  Sebab, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbesar mencapai 25,53 juta jiwa (UNICEF, 2023). Berdasarkan data Kemen PPPA (2021) jumlah perempuan indonesia yang menikah sebelum berusia 18 tahun mencapai 10,35%. Artinya, 1 dari 10 perempuan di Indonesia pernah melakukan perkawinan anak. Tingginya angka perkawinan anak ini, menjadi isu yang perlu untuk disorot dan diselesaikan.

Berbagai risiko tinggi dari perkawinan anak dapat mengancam kesehatan, keselamatan, masa depan, dan hak hidup anak. Perkawinan anak dapat meningkatkan kehamilan berisiko tinggi, kelahiran prematur, keguguran, pendarahan hingga kematian pada ibu (Puspasari & Pawitaningtyas, 2020). Selain itu, perkawinan anak akan membuat kesempatan anak melanjutkan pendidikan menjadi terhenti, kehilangan kesempatan bekerja, meningkatkan resiko perceraian dan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta memunculkan kemungkinan hidup di bawah garis kemiskinan (Kemen PPPA, 2021).

Melihat tingginya kasus perkawinan anak di Indonesia dan risiko buruk yang harus dihadapi, maka perlu adanya langkah dan kerja sama berbagai pihak untuk memutus rantai perkawinan anak. Mewujudkan kehidupan anak yang terbebas dari bayangan perkawinan anak, tidak dapat dilakukan hanya dengan berpusat pada pemerintah saja. Namun juga, membutuhkan kolaborasi antar pihak dan seluruh elemen dari lapisan masyarakat. Kolaborasi bisa dilakukan mulai dari orang tua, tokoh masyarakat, pihak sekolah, masyarakat sipil, serta para ahli.

Orang tua berperan penting dalam peningkatan kasus perkawinan anak karena  mereka yang menjadi penentu utama arah kehidupan anak di masa depan. Beberapa motivasi orang tua yang mendasari keputusan menikahkan anak di bawah umur antara lain: adanya kesalah pola pikir yang menganggap menikahkan anak akan membuat mereka terhindar dari pergaulan dan seks bebas, adanya ketakutan orang tua jika anak mendapatkan  label ‘tidak laku’ maupun ‘perawan tua’ karena belum menikah, dan orang tua memutuskan menikahkan anak jika terjadi kehamilan di luar nikah (Syalis & Nurwati, 2020; Desiyanto, Fajar, & Risqi, 2022;  Taher, 2022). Selain itu, terdapat orang tua yang menganggap menikahkan anak sedini mungkin, akan membebaskan mereka dari beban tanggung jawab membesarkan dan membiayai anak (Chae & Ngo, 2017). Pemikiran-pemikiran orang tua yang salah, serta adanya pengaruh budaya di lingkungan sekitar anak, akan memperbesar kemungkinan terjadinya keputusan perkawinan dini (Kemen PPPA, 2021).

Orang tua perlu bijaksana untuk tidak menikahkan anak di usia dini. Mencegah hal tersebut, orang tua perlu mendapatkan dan memberikan edukasi tentang bahaya dan risiko melakukan perkawinan anak, serta edukasi kesehatan reproduksi yang dianggap selama ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan porno oleh budaya setempat (Taher, 2022). Pemberian edukasi ini, sangat diperlukan agar orang tua dapat menjadi tameng bagi anak, serta memberikan kesadaran pada anak untuk mempertimbangkan sendiri risiko negatif dari pernikahan dini.

Selain itu, keberadaan tokoh masyarakat sangat penting dalam mencegah perkawinan anak. Penelitian Mauludi (2023) menemukan para tokoh masyarakat ini dapat memberikan penjelasan tentang syarat-syarat pernikahan menurut agama, serta memberikan edukasi pentingnya mematuhi aturan hukum perkawinan di Indonesia. Tokoh masyarakat juga dapat memberikan pemahaman kepada anak mengutamakan pendidikan dan melakukan pengembangan diri sebelum menikah.

Pihak sekolah juga berkontribusi membentuk cara pikir anak dalam memandang pentingnya meraih pendidikan. Sebagai institusi yang menjadi rumah kedua bagi anak, sekolah perlu memberikan fasilitas agar anak bisa melakukan pengembangan diri, memberikan edukasi kesehatan reproduksi, dan membekali anak dengan hard skill dan soft skill, sehingga anak bisa berdaya dalam menentukan masa depannya. Sekolah juga dapat memberikan pemahaman, agar anak berusaha menyelesaikan pendidikannya, karena pemahaman yang salah meningkatkan kemungkinan anak melakukan perilaku berisiko dan pernikahan dini (Rosyidah & Fajriyah, 2013).

Selanjutnya, masyarakat sekitar perlu untuk mendorong anak agar bisa memaksimalkan potensinya, mencegah anak masuk ke dalam lingkungan yang buruk, dan mematahkan stigma negatif ketika anak tidak segera tentang  pernikahan. Sebab, anak dan remaja selalu hidup berdampingan dengan sistem di sekitarnya, seperti: keluarga, tetangga, sekolah, komunitas, dan juga negara (McWhirter et al, 2017). Apabila lingkungan terdekat anak memegang nilai-nilai yang salah tentang perkawinan, maka segala usaha untuk mencegah perkawinan anak akan sia-sia.

Namun, apabila perkawinan anak telah terjadi, maka perlu memberikan penangan yang sifatnya memperbaiki atau mengembalikan situasi menjadi lebih baik. Ugboha dan Namo (2019) menemukan bahwa pusat konseling, rehabilitasi, dan pelayanan pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu korban perkawinan anak bisa pulih dan belajar menjalani kehidupan bersama masyarakat. Para konselor juga dapat melakukan konseling keluarga untuk memberikan dukungan emosional, mengatasi keluarga yang disharmoni, meminimalisir KDRT, serta mengurangi bercerai pada kasus perkawinan nak (Rohman & Annajih, 2021).

Menyelamatkan hak hidup anak dari perkawinan di usia dini harus dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi ini dibutuhkan agar membentuk lingkungan yang mendukung anak mendapatkan hak-haknya dan memfasilitasi anak agar dapat memaksimalkan potensi dirinya. Sehingga, anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, menjadi generasi penerus bangsa yang bebas dari bayang-bayang perkawinan anak. Sebab, setiap anak memiliki hak untuk bisa menggapai impian dan membuat masa depannya cerah, tanpa harus direnggut kebebasannya dengan menikah sebelum menginjak usia yang matang.

Referensi

Chae, S., & Ngo, T. (2017). The global state of evidence on interventions to prevent child marriage. GIRL Center Research Brief no. 1. New York: Population Council. https://knowledgecommons.popcouncil.org/cgi/viewcontent.cgi?article=1540&context=departments_sbsr-pgy 

Desiyanto, J., Fajar, A., & Risqi, R. (2022). Pendidikan Orang Tua terhadap Pernikahan Dini Akibat Pemalsuan Umur. Progressive of Cognitive and Ability, 1(2), 167-175.https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.41 

Mauludi, S. (2023). Pendidikan Agama sebagai prevensi pernikahan dini: analisis terhadap pemahaman dan praktik agama dalam mengatasi fenomena pernikahan dini di Pekanbaru. Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, Dan Humaniora, 2(1), 13-22. https://doi.org/10.56113/takuana.v2i1.69

McWhirter, J. J., McWhirter, B. T., McWhirter, A. M., & McWhirter, E. H. (1994). High and low-risk characteristics of youth : The five Cs of competency. Elementary School Guidance & Counseling, 28(3), 188-196. https://www.jstor.org/stable/42869153 

Kemen PPPA. (2021). Profil anak indonesia 2018. Jakarta: KPPA. https://dispppa.lampungtengahkab.go.id/upload/dokumen/8ebef-profil-anak-indonesia-2019.pdf 

Puspasari, H. W., & Pawitaningtyas, I. (2020). Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Pada Pernikahan Usia Dini Di Beberapa Etnis Indonesia: Dampak Dan Pencegahannya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 23(4), 275-283. https://doi.org/10.22435/hsr.v23i4.3672  

Rosyidah, I., & Fajriyah, I. M. D. (2013). Menebar Upaya, Mengakhiri Kelanggengan: Problematika Perkawinan Anak di Nusa Tenggara Barat. Harmoni, 12(2), 59-71. https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/175/149

Syalis, E. R., & Nurwati, N. N. (2020). Analisis dampak pernikahan dini terhadap psikologis remaja. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 3(1), 29-39. https://doi.org/10.24198/focus.v3i1.28192 

Taher, S. L. (2022). Hubungan Antara Budaya, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi Dengan Pernikahan Dini. Indonesia. Journal of Midwifery Sciences, 1(3), 100-110. https://doi.org/10.53801/ijms.v1i3.46Ugboha, G. O., & Namo, I. S. (2019). Effect of Early Marriage on Girl-Child’s Further Education in Okpokwu Local Government Area, Nigeria: Implications for Counseling. KIU Journal of Humanities, 4(1), 65-72. https://ijhumas.com/ojs/index.php/niuhums/article/view/461

Pembelajaran Inklusif dan Pengalaman Global: Presentasi Seto dalam Program Mobilitas Internasional bersama University of Melbourne

ArtikelArtikel Thursday, 6 November 2025

Pada 6 Oktober 2025, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk mempresentasikan pengalaman dan hasil pembelajaran dari program mobilitas internasional di University of Sydney, Australia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam forum diskusi bersama kelompok riset dari University of Melbourne yang dipimpin oleh Dr Annie Gowing.

Di kesempatan yang sama, Rema Vara Indry Dubu, salah satu alumni Fakultas Psikologi UGM, juga turut berbagi hasil penelitian tesisnya berjudul “Kesehatan Mental Remaja dengan HIV Perinatal: Studi Photovoice”, yang menggambarkan realitas psikologis dan sosial kelompok remaja dengan HIV perinatal di Indonesia.

Belajar tentang Kesempatan dan Inklusi di University of Sydney

Pada sesi pertama, Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto membagikan kisah inspiratifnya selama mengikuti kegiatan Uni2Beyond di the University of Sydney, sebuah program yang mendukung partisipasi mahasiswa dengan disabilitas intelektual di lingkungan kampus. Seto menyiapkan presentasinya menggunakan prinsip co-design dan easy read yang ia kembangkan bersama Ibu Elga Andriana dan mentor Mlathi Anggayuh Jati, mahasiswa Master of Education di University of New South Wales (UNSW).

Seto menceritakan kebahagiaannya dalam berinteraksi dengan teman-teman baru dan menyaksikan bagaimana setiap individu, termasuk mereka dengan disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk berkuliah, bekerja, dan berkarya sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Setelah kembali ke Indonesia, saya ingin bisa ikut seminar-seminar dan membagikan pengalaman saya, supaya bisa memotivasi orang dengan disabilitas di sini,” ujar Seto dengan semangat.

Dalam sesi tanya jawab, Seto juga menekankan pentingnya membangun relasi personal di tempat kerja yang inklusif. “Kalau orang ingin bekerja dengan orang dengan disabilitas intelektual, harus belajar untuk dekat dan berteman. Jadi tidak hanya bekerja saja, karena kalau berteman itu kan jadi senang,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Annie Gowing menyoroti bahwa pengalaman Seto mencerminkan penerapan cara pandang yang berfokus pada kekuatan individu (strength-based view), yang idealnya menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan sosial dan profesional.

Membuka Ruang Dialog tentang Kesejahteraan Psikologis Remaja dengan HIV Perinatal

Tidak kalah menarik, pada sesi berikutnya Rema Vara Indry Dubu memaparkan proses dan hasil penelitiannya mengenai kesejahteraan psikologis remaja dengan HIV perinatal. Melalui pendekatan Photovoice, penelitian ini memberikan ruang bagi para remaja untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka secara langsung.

Rema menyampaikan bahwa isu kesejahteraan psikologis pada kelompok remaja ini masih jarang dieksplorasi, sehingga sering kali luput dari perhatian. “Melalui penelitian ini, saya berharap semakin banyak pihak yang mulai memperhatikan isu ini dan menciptakan program yang dapat mendukung kesejahteraan psikologis remaja dengan perinatal HIV,” jelasnya.

Menumbuhkan Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan

Forum diskusi ini menjadi ajang penting untuk mempererat kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan University of Melbourne, serta memperluas wawasan tentang pembelajaran dan riset lintas budaya. Kegiatan ini tidak hanya membuka ruang berbagi pengalaman akademik, tetapi juga memperkuat komitmen kedua institusi dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak sosial.

Ke depan, CLSD berharap program dan forum serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pertukaran ilmu pengetahuan dan memperkuat jejaring global dalam bidang psikologi dan pengembangan manusia sepanjang hayat.

Penulis: Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Carissa Azarine Delicia, Bhekti Lukita Nurcaesya
Reviewer: Bhekti Lukita Nurcaesya

Langkah Seto Menuju Pengalaman Global: Mewujudkan Pembelajaran Inklusif bersama Australian Alumni Grants 2025

ArtikelArtikel Friday, 19 September 2025

Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, berkesempatan mengikuti program mobilitas internasional ke University of Sydney, Australia. Program ini merupakan bagian dari proyek yang didanai hibah Australian Alumni Grants 2025, yang diraih oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., dosen sekaligus peneliti CLSD, yang akan turut berpartisipasi bersama Seto dalam kegiatan tersebut. 

Selama tiga minggu, Seto dan Ibu Elga akan mempelajari pendekatan ‘University Co-Design’ dalam pembelajaran inklusif. Pendekatan tersebut menempatkan individu dengan disabilitas intelektual sebagai bagian aktif dari lingkungan universitas. Mereka tidak hanya diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, tetapi juga bekerja sebagai dosen pendamping (co-lecturer) yang berperan aktif dalam proses perkuliahan dan tutorial. Nantinya, Seto dan Ibu Elga akan mengobservasi dan ikut serta dalam proses, mulai dari persiapan rencana pembelajaran hingga berpartisipasi langsung dalam kelas perkuliahan. 

Keterlibatan Seto sebagai individu dengan disabilitas intelektual dalam program ini juga mendapat perhatian khusus dari Australian Awards Indonesia (AAI). Menurut Ibu Elga, pihak AAI memberikan dukungan besar karena partisipasi Seto sangat selaras dengan prinsip Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) yang diusung AAI dalam setiap programnya. “Mereka (Australia Awards Indonesia) berharap diseminasi proyek dengan Seto ini kuat karena sangat khas dan menjadi perhatian mereka,” ujar Ibu Elga.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas internasional tersebut, Seto berusaha membekali diri melalui berbagai langkah yang mendukung kesiapannya. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan mengikuti program pengabdian kepada masyarakat yaitu senior school di CLSD. Program ini memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan lansia serta dapat membantu melatih kepekaan sosial. Selain itu, Seto juga mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam berkomunikasi di lingkungan internasional. Tidak hanya itu, Seto juga mengikuti kelas IUP (International Undergraduate Program) di Fakultas Psikologi untuk membiasakan diri dengan ekosistem universitas. Seto juga turut menjaga kesiapan fisik agar nantinya dapat menjalani seluruh kegiatan dalam program mobilitas dengan optimal.

Orang tua, dosen, serta Fakultas Psikologi secara penuh mendukung langkah Seto dalam mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas. Dukungan yang hadir dari berbagai pihak di sekelilingnya diharapkan dapat menjadi semangat bagi Seto untuk semakin percaya diri dalam mengembangkan kemampuan dan siap memanfaatkan kesempatan yang diberikan Australian Alumni Grant dengan sebaik-baiknya.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Penulis: Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A., dan Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A.
Reviewer: Bhekti Lukita Nurcaesya

Petak Umpet: Permainan Tradisional yang dapat Membangun Keterampilan Sosioemosional Anak Usia Dini

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 16 July 2025

Oleh: Lisa Angela | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Siapa sangka, dibalik serunya permainan petak umpet tersembunyi potensi besar untuk membentuk keterampilan sosioemosional anak usia dini?

Permainan tradisional adalah permainan khas dari suatu negara yang membawa nilai budaya tertentu. Permainan tradisional di Indonesia merupakan cerminan dari tradisi dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat Indonesia, dan telah diwariskan secara turun-temurun (Fitri dkk., 2020). Selain mengandung unsur kearifan lokal, ciri khas dari permainan tradisional di Indonesia adalah interaktif (Wijaya dalam Sovia, 2022). Sisi interaktif ini terlihat dari permainan tradisional yang biasanya dimainkan secara berkelompok, sehingga berfokus pada interaksi sosial dan komunikasi antar pemain (Wijaya dalam Sovia, 2022).

Di tengah maraknya anak-anak yang lebih memilih bermain game online, permainan tradisional menawarkan sejumlah manfaat yang signifikan. Permainan tradisional tidak hanya menghibur tetapi juga mendukung perkembangan sosial dan emosional anak (Gultom dkk, 2022). Perkembangan sosioemosional berkaitan dengan bagaimana anak membangun hubungan positif dengan teman sebaya dan orang dewasa serta mengenali dan mengelola emosinya sendiri. Melalui proses ini, anak belajar untuk berempati, berbagi, dan memahami perasaan orang lain (Harianja dkk., 2023). Anak juga mulai mengenal aturan sosial dan menyesuaikan perilakunya dengan cara orang-orang dan lingkungan di sekitarnya berinteraksi. Keterampilan ini berperan penting dalam mempersiapkan anak agar mampu beradaptasi dan tumbuh dengan baik dalam berbagai situasi sosial (Harianja dkk.,, 2023).

Indonesia memiliki berbagai jenis permainan tradisional. Dari berbagai permainan, terdapat satu contoh permainan yang sesuai untuk anak usia dini, yaitu petak umpet. Petak umpet adalah permainan tradisional di mana satu orang bertugas menghitung sambil menutup mata, sementara teman-teman yang lain bersembunyi. Setelah selesai menghitung, orang yang bertugas akan mencari teman-temannya yang bersembunyi hingga semua ditemukan.

Keunikan petak umpet terletak pada kesederhanaannya. Permainan ini tidak memerlukan alat apa pun, sehingga lebih mudah diakses jika dibandingkan dengan permainan tradisional lainnya. Kemudahan akses ini memungkinkan anak-anak di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, dari berbagai latar belakang ekonomi, tetap dapat bermain petak umpet. Selain itu, permainan ini juga telah dibuktikan melalui penelitian sebagai sarana yang efektif dalam mendukung perkembangan sosioemosional anak usia dini. 

Penelitian Hananta dan Mas’udah (2016) menunjukkan bahwa dengan bermain petak umpet secara berulang, anak-anak usia dini dapat lebih efektif mengembangkan kemampuan sosial emosional mereka. Kemampuan ini mencakup aspek-aspek penting seperti kemampuan untuk bekerjasama dengan teman, di mana anak menjadi lebih bersedia untuk bermain bersama, merasa gembira saat bermain dalam kelompok, serta menunjukkan sikap saling membantu satu sama lain.

Lebih lanjut, Maghfiroh (2020) menjelaskan bahwa permainan petak umpet mengajarkan beberapa nilai seperti kejujuran, toleransi, kerjasama, kreativitas, dan tanggungjawab. Kejujuran terlihat saat anak mengakui ketika dirinya ditemukan oleh “penjaga”. Toleransi terlihat ketika mereka tidak menghalangi temannya yang bersembunyi. Kerjasama terwujud dengan tidak memberitahu lokasi teman yang bersembunyi. Kreativitas terlihat saat merencanakan strategi untuk berpindah tempat. Terakhir, tanggungjawab untuk menyelesaikan permainan sampai akhir.

Berdasarkan pemaparan di atas, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari permainan petak umpet (Salsabila, dalam Damayanti & Suparno, 2023):

1. Mendorong anak lebih aktif

Petak umpet membantu anak menjadi lebih aktif secara fisik karena dalam permainan ini anak harus berlari dan bersembunyi. Aktivitas fisik ini mendukung perkembangan motorik kasar dan membantu anak tumbuh lebih sehat dibandingkan anak yang cenderung pasif.

2. Mengembangkan keterampilan sosial

Permainan ini juga melatih anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Sosialisasi harus dibiasakan sejak usia dini agar anak terbiasa berinteraksi dengan baik di masa dewasa. Melalui petak umpet, anak belajar cara bekerja sama dan menghargai teman.

3. Meningkatkan kreativitas

Anak-anak harus berpikir kreatif untuk menemukan tempat persembunyian yang aman dan berbeda dari teman-temannya. Proses ini menantang mereka untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan imajinatif dalam situasi yang sederhana dan menyenangkan.

4. Melatih kepatuhan terhadap aturan

Dalam petak umpet, anak diajarkan untuk mengikuti aturan permainan, seperti giliran mencari dan bersembunyi. Keterampilan ini penting karena kepatuhan terhadap aturan akan membantu mereka menyesuaikan diri di lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat yang lebih luas.

5. Belajar berdiskusi dan membuat kesepakatan

Anak-anak perlu berdiskusi dan membuat kesepakatan agar permainan dapat berjalan lancar. Proses ini membantu mereka belajar tentang kompromi, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencapai kesepakatan bersama.

6. Mengajarkan sportivitas

Petak umpet mengajarkan anak untuk menerima kekalahan dan kemenangan dengan sikap yang baik.

Menariknya, permainan petak umpet dapat dimainkan baik di dalam maupun di luar rumah. Di rumah, anak-anak dapat bermain bersama saudara atau orang tua sehingga mempererat hubungan keluarga. Sementara di luar rumah, mereka dapat bermain bersama tetangga di sekitar rumah. Kemudian, anak-anak juga dapat bermain di sekolah, terutama saat jam istirahat, pada mata pelajaran yang melibatkan aktivitas fisik seperti olahraga, atau saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka. Selain itu, komunitas juga dapat menggunakan permainan ini dalam membangun interaksi antar anak.

Melihat manfaat dan kemudahan dalam permainan petak umpet, mari bersama kita berkomitmen untuk melestarikan permainan petak umpet. Melalui petak umpet, anak-anak tidak hanya belajar berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya tetapi juga menikmati permainan tanpa bergantung pada gadget. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan pertumbuhan generasi yang sehat, kreatif, dan juga sadar akan pentingnya budaya lokal. 

Referensi

Damayanti, N., & Suparno, S. (2023). Efektivitas model permainan petak umpet untuk meningkatkan kemampuan motorik anak. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 4243–4258. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.4937

Fitri, M., Nur, H. A., & Putri, W. (2020). The commemoration of independence day: recalling indonesian traditional games. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.587196

Gultom, S., Baharuddin, B., Ampera, D., Endriani, D., Jahidin, I., & Tanjung, S. (2022). Traditional games in cultural literacy to build the character of elementary school students during the covid-19 pandemic. NeuroQuantology, 20(5), 704-712. https://doi.org/10.14704/nq.2022.20.5.nq22226

Hananta, R. W., & Mas’udah. (2016). Pengaruh permainan petak umpet terhadap kemampuan sosial emosional anak. Jurnal Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini.

Harianja, A. L., Siregar, R., & Lubis, J. N. (2023). Upaya meningkatkan perkembangan sosial emosional anak usia dini melalui bermain peran. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 4871–4880. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.5159

Maghfiroh, Y. (2020). Peran permainan tradisional dalam membentuk karakter anak usia 4-6 tahun. Jurnal Pendidikan Anak, 6(1), 1–8.

Sovia, A., Harisman, Y., & Rifandi, R. (2022). Saringgong: an alternative media for slow learner students in learning mathematics. Rangkiang Mathematics Journal, 1(1), 9-15. https://doi.org/10.24036/rmj.v1i1.6

Kader Hebat, Anak Bahagia: Pelatihan Stimulasi Sosioemosional pada Anak Usia Dini untuk Kader Bina Keluarga Balita di Gunungkidul

Artikel Liputan KegiatanEvent Friday, 3 January 2025

Pada Selasa, 23 Juli 2024, Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM mengadakan pelatihan “Stimulasi Sosioemosional pada Anak Usia Dini” di Padukuhan Jambu, Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul. Acara ini merupakan kolaborasi antara CLSD dengan perwakilan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY dan dihadiri oleh 25 peserta, termasuk Kader Bina Keluarga Balita (BKB) PUSPAMEKAR dan beberapa orang tua setempat. Dian Mufitasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM menjadi narasumber utama pada acara pelatihan ini.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan para kader Bina Keluarga Balita Holistik Integratif (BKB HI) dalam menstimulasi perkembangan sosioemosional anak usia dini. Harapannya, kader dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan ke lingkungan sekitar mereka.

 “Kami ingin kader memiliki pemahaman yang mendalam tentang pentingnya stimulasi sosioemosional pada anak usia dini agar mampu memberikan dampak positif pada perkembangan anak,” ujar Dian Mufitasari, selaku narasumber utama dalam pelatihan ini.

Pelatihan dibuka dengan sosialisasi pengisian Kartu Kembang Anak (KKA) yang dipandu oleh perwakilan BKKBN DIY. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mempelajari cara mengisi KKA sebagai instrumen untuk memonitor perkembangan anak. Selanjutnya, narasumber memberikan pemaparan materi mengenai pentingnya stimulasi sosioemosional serta metode-metode yang dapat diterapkan oleh para kader dan orang tua dalam mengembangkan kemampuan sosioemosional anak.

Setelah pemaparan materi, para peserta berkesempatan mempraktikkan secara langsung beberapa teknik stimulasi sosioemosional melalui suatu kegiatan membaca cerita bertajuk “Gajah yang Baik Hati”. Dalam sesi praktik ini, peserta belajar mengenali dan memberi nama emosi yang dirasakan orang lain serta mengekspresikan kepedulian terhadap sesama dengan menggunakan kartu bergambar emosi. Tidak hanya teori dan praktik, pelatihan ini juga dilengkapi dengan sesi sosialisasi mengenai metode monitoring keberhasilan pelatihan. Para peserta diminta untuk menerapkan materi yang telah dipelajari kepada komunitas masing-masing. Proses ini akan dimonitor oleh tim CLSD melalui grup WhatsApp dan peserta yang berhasil mengaplikasikan metode dengan baik akan mendapatkan penghargaan dalam bentuk kompetisi.

Sebagai penutup, peserta diminta mengisi refleksi tentang pelatihan yang telah dijalani. “Melalui refleksi ini, kami berharap peserta dapat menganalisis pengalaman mereka dan memahami sejauh mana pelatihan ini bermanfaat bagi mereka,” jelas Salsabila Salwa, co-trainer dalam pelatihan ini. Refleksi ini juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelatihan di masa mendatang.

Pelatihan stimulasi sosioemosional ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat kapasitas kader dalam mengoptimalkan perkembangan anak usia dini. Dengan adanya kolaborasi antara CLSD Fakultas Psikologi UGM dan BKKBN DIY, diharapkan semakin banyak kader yang mampu menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Kader Hebat, Anak Bahagia: Pelatihan Stimulasi Sosioemosional pada Anak Usia Dini untuk Kader Bina Keluarga Balita di Bantul

Artikel Liputan KegiatanBlog Thursday, 12 September 2024

Rabu, 24 Juli 2024, CLSD UGM dan Perwakilan BKKBN DIY mengadakan Pelatihan Stimulasi Sosioemosional pada Anak Usia Dini di Rumah Dukuh Gadungan Kepuh, Canden, Jetis, Bantul. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader Bina Keluarga Balita dalam mendukung perkembangan sosioemosional pada anak usia dini.

Pelatihan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.30 WIB ini dihadiri oleh 25 peserta, yang terdiri dari kader Bina Keluarga Balita (BKB) Matahari, penyuluh keluarga berencana, serta orang tua setempat. Acara ini dipandu oleh Ibu Wirdatul Anisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan didukung oleh panitia dari tim interns CLSD UGM.

Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk memperluas pemahaman dan keterampilan kader dalam menstimulasi perkembangan sosioemosional anak usia dini. Dengan meningkatkan pengetahuan mengenai cara melatih keterampilan emosional anak, para kader diharapkan dapat menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan tersebut di komunitas masing-masing. Melalui berbagai materi dan praktik, para peserta belajar cara membangun hubungan yang baik dengan anak dan mengenali perkembangan sosioemosional melalui metode yang interaktif.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi tentang pengisian Kartu Kembang Anak (KKA) yang dipandu oleh perwakilan dari BKKBN DIY. Selanjutnya, narasumber memberikan pemaparan materi tentang tujuan dan metode stimulasi sosioemosional pada anak yang kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung, termasuk aktivitas “Berkenalan & Belajar dengan Anak” serta “Mengenal Perkembangan Emosi”. 

Pada sesi “Berkenalan dan Belajar dengan Anak“, peserta mempelajari prinsip-prinsip interaksi yang baik dan penggunaan penguatan positif untuk membentuk perilaku anak. Aktivitas ini bertujuan agar peserta mampu membangun hubungan hangat dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selanjutnya, di sesi “Mengenal Perkembangan Emosi“, peserta diajarkan cara mengenali dan menyebutkan emosi dasar, serta mengidentifikasi ekspresi emosi melalui media video dan kartu emosi. 

Untuk semakin memperkuat pemahaman peserta, tim CLSD juga mengadakan sesi monitoring berkelanjutan. Para peserta diminta untuk mempraktikkan materi yang telah dipelajari dan melaporkan kemajuan mereka melalui grup WhatsApp yang telah disediakan.

Acara ini diakhiri dengan sesi refleksi mengenai umpan balik pelatihan dari peserta. Ibu Rita, perwakilan dari BKB Matahari, mengungkapkan, “Terima kasih kepada BKKBN dan CLSD UGM atas ilmu yang telah diberikan. Banyak materi yang dapat kami implementasikan pada kelompok kami.” 

Selain itu, Bapak Diyan Purnomo, Dukuh Padukuhan Gadungan Kepuh, menyampaikan apresiasi terhadap BKKBN dan CLSD UGM, “Saya berterima kasih atas ilmu yang telah diberikan dan berharap pengetahuan ini dapat dibagikan kepada keluarga lain. Semoga semakin banyak keluarga yang dapat mengikuti pelatihan ini.”

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak di Kabupaten Bantul. Pelatihan ini sejalan dengan tujuan SDGs yaitu kesehatan yang baik dan kesejahteraan (3), pendidikan bermutu (4), dan kemitraan untuk mencapai tujuan (17). Dengan keterampilan baru yang diperoleh, diharapkan kader dan orang tua dapat lebih efektif dalam mendukung perkembangan sosioemosional anak usia dini, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan generasi yang lebih sehat dan bahagia.

Recent Posts

  • CLSD UGM Merefleksikan Prestasi Melalui CLSD End of Year Party 2025: Festival Dangdut Pantura
  • Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!
  • Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini
  • Peduli Isu Disabilitas, International Dental Summer Course 2025 Soroti Layanan Kesehatan Inklusif
  • Festival Hari Anak 2025: Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY