Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Faculty of Psychology
Center for Life-Span Development (CLSD)
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • [Update 2026] Publikasi
  • Beranda
  • Psikologi Perkembangan
  • Psikologi Perkembangan
Arsip:

Psikologi Perkembangan

Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Friday, 27 February 2026

Halo, Sobat CLSD! Pada November 2024 sampai dengan Juli 2025, Senior School Husnul Khotimah BIAS (Bina Anak Sholeh) mengundang tim Center for Life-Span Development (CLSD) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadi mitra dan narasumber dalam kelas psikologi khusus lansia. Kegiatan ini menyajikan edukasi untuk menghadapi tantangan usia lanjut, dilaksanakan di Sekolah BIAS cabang Wirosaban dan Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mau tau cara apa saja yang diungkapkan dalam Senior School? Yuk simak artikel berikut ini!

Kegiatan Senior School ini dilaksanakan sebagai upaya CLSD untuk menuntun lansia yang menghadapi perubahan fisik, emosional, dan sosial yang tidak terhindarkan. Perubahan ini dapat membuat ketidaknyamanan kepada lansia, namun CLSD hadir untuk memfasilitasi mereka dengan strategi menghadapinya. Dalam kerja sama ini, program psikoedukasi lansia ini mendukung terjaganya kesehatan kognitif dan spiritual lansia melalui pembelajaran interaktif dengan senam otak, aktivitas photovoice, worksheet menyenangkan, pembacaan Al-Quran, dan diskusi tentang kesehatan.

Pertemuan ke-1 dengan Bapak Drs. Haryanto, M.Si., Psikolog

Rangkaian kelas ini terdiri dari berbagai materi yang disampaikan oleh narasumber ahli yang merupakan dosen purna dan dosen aktif dari Fakultas Psikologi UGM. Dengan ini, Senior School diharapkan untuk memberikan wadah kepada semua untuk berbagi cerita tentang pengalaman mereka dan saling memahami. Dengan bantuan ahli dari Bapak Drs. Haryanto, M.Si., Psikolog, Ibu Dr. Aisah Indati, M.S., Psikolog, Bapak Drs. Fauzan Heru Santhoso, M.Si., Ph.D., Psikolog, Ibu Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S., Psikolog, dan Ibu Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog sebagai narasumber, program ini pun berjalan dengan lancar.

Senior School dibuka dengan materi pertama, yaitu “Memahami Diri di Masa Lansia” yang mengupas perubahan kognitif, fisik, sosial, dan emosional, beserta strategi mencapai successful aging. Dengan pemaparan ini, peserta belajar mengenali hal-hal tersebut agar siap menghadapinya dan menjadikannya peluang untuk berkembang. Senior School juga memberikan materi “Kesehatan Mental Lansia” pada sesi selanjutnya. Materi ini membahas permasalahan kesehatan mental yang sering terjadi di masa lansia, termasuk definisi, kriteria, penyebabnya, dan juga cara mengatasinya.

Pada materi “Mengenal dan Mengelola Emosi di Masa Lansia”, peserta diajak untuk mengidentifikasi emosi dasar, memahami emosi mereka, dan cara respons yang sehat dengan worksheet interaktif. Selain itu, Senior School juga mencakup materi “Komunikasi Positif” yang membahas pondasi komunikasi, tantangannya dalam sehari-hari, serta tips praktis pertahankan hubungan harmonis. Dalam materi ini, peserta mengerjakan worksheet yang melatih cara berkomunikasi secara positif juga lho, Sobat!Peserta juga diajarkan untuk mencegah penurunan kemampuan kognitif pada materi “Menjaga Ingatan dan Kecerdasan” dengan aktivitas stimulasi otak. Peserta dapat belajar bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, berubah, dan berkembang. Walaupun otak kita ada kemungkinan untuk mengalami penurunan, kita tetap bisa membuatnya berkembang, lho! Sobat CLSD juga bisa nih, mempraktikkannya di rumah dengan melakukan latihan sederhana seperti senam otak, teka-teki, membaca, atau menyelesaikan masalah dengan berdiskusi.

Suasana bahagia peserta Senior School

Senior School ditutup dengan materi “Kebermaknaan Hidup”, di mana peserta diajak untuk refleksi perjalanan hidup, mencari sumber makna, dan konsep generativitas, yaitu memberi warisan positif bagi generasi muda. Setiap sesi Senior School dilengkapi ice breaking, diskusi, dan aktivitas seru seperti photovoice yang mengajak peserta untuk menerapkan ilmunya. Ujar peserta pada refleksi akhir sesi, “Kelas ini tuh bermanfaat, belajar hal-hal yang sebelumnya tidak dipelajari secara formal”.

Terima kasih kami ucapkan kepada Senior School Husnul Khotimah BIAS, para narasumber, peserta, dan tim CLSD yang berhasil menyukseskan kegiatan ini. Dengan ini, Senior School diharapkan untuk memberikan dukungan psikologis kepada lansia yang dapat meningkatkan emosi positif dan wellbeing mereka. Semoga para peserta dapat merasakan manfaat dari Senior School ini, dan semoga kita semua juga mendapatkan ilmu yang berharga dari semua ini. Sampai jumpa di kegiatan CLSD berikutnya, Sobat!

Penulis: Naafia Halia
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Tuesday, 24 February 2026

Hai, Sobat CLSD! Pada Agustus 2025 hingga Desember 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) sukses melaksanakan rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Kegiatan ini adalah bentuk kerja sama dengan Ruang Literasi Kaliurang yang dilaksanakan selama empat kali dengan frekuensi satu bulan sekali. Melalui kegiatan ini, sebanyak 37 anak-anak dari kelompok usia 3 – 4 tahun didampingi oleh orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan membaca nyaring interaktif. Selain itu, kegiatan ini juga diwarnai dengan permainan edukatif sesuai dengan tema buku yang dibawakan, mulai dari cara menjaga kebersihan sampai pengenalan bahan makanan. Kegiatan ini merupakan upaya CLSD untuk menanamkan kesadaran pentingnya literasi pada anak usia dini. Ingin telisik lebih lanjut bagaimana keseruan rangkaian kegiatannya? Yuk, simak liputan di bawah ini!

The Reading Buddies: On the Go pertama diadakan pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Guna menunjang keberlangsungan acara, CLSD menghadirkan beberapa fasilitator yang terdiri atas Irrine Puspa Pertiwi, Rifda Amira Mulika, Regia Zahra Humaira, dan Ulul Ilmi. Para fasilitator kemudian membacakan Awan Lalat, buku cerita yang mengisahkan tentang rumah seorang gadis yang dihinggapi sekumpulan lalat karena kurang menjaga kebersihan diri. Menariknya, setelah sesi baca nyaring dilaksanakan, peserta berkesempatan untuk berpartisipasi dalam empat permainan kreatif yang diadaptasi dari buku cerita tersebut. Adapun permainan ini terdiri dari membersihkan meja makan, membuang sampah pada tempatnya, mencuci piring dan tangan, dan isi piringmu. Melalui kegiatan “isi piringmu”, anak-anak belajar membuat kerajinan tangan berupa bahan makanan secara kreatif. Kegiatan ini diharapkan dapat mengajarkan anak-anak terkait pentingnya menghargai makanan dan mengelola sampah berupa sisa-sisa makanan dengan baik.

Antusiasme The Reading Buddies: On the Go kedua kembali menggema di Ruang Literasi Kaliurang pada Sabtu, 27 September 2025. Acara ini membawakan buku cerita Mimpi Loni dalam kegiatan membaca nyaring yang dipandu oleh Rahmita Laily Muhtadini, Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, dan Irrine Puspa Pertiwi. Jalan cerita Mimpi Loni berfokus pada pengalaman seekor bunglon yang berubah menjadi aneka binatang dalam mimpinya sebagai perjalanan menerima diri sendiri. Kegiatan membaca nyaring kemudian disambung dengan pelaksanaan bookish play di mana anak-anak mengikuti kegiatan mencocokkan warna lingkungan dengan warna bunglon. Masih dalam permainan kreasi binatang serupa, anak-anak kemudian berkesempatan untuk mengisi dan menempel benda-benda bertekstur pada pola binatang yang telah disajikan. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mengenal ragam binatang melalui rangkaian permainan yang penuh makna serta memahami bahwa tiap binatang dikaruniai dengan masing-masing karakteristik yang sesuai dengan habitatnya. 

Berbeda dengan konsep acara sebelumnya, The Reading Buddies: On the Go ketiga membawakan Tiju si Pemburu Keju dalam kegiatan membaca nyaring pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Buku cerita ini mengajak anak-anak untuk menelusuri perjalanan seekor tikus yang berburu keju untuk mengisi rasa laparnya. Antusiasme anak-anak meningkat seiring mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu rangkaian permainan berupa pengenalan bahan makanan yang dipandu oleh Khalishah Aulia Izzati, Khoirunnisa Yasmin Willemina, Nabila Jauza, dan Rafidatul Hikam. Pengenalan bahan makanan dikemas melalui kegiatan mencari keju dan membuat roti dengan playdough. Selayaknya koki sesungguhnya, anak-anak sebelumnya juga diajak untuk membuat topi koki yang akan digunakan selama pembuatan bahan makanan. Pemakaian atribut sebagai koki menjadi salah satu alasan terbentuknya nuansa permainan ini terasa lebih nyata dan menyenangkan. 

Pengenalan bahan makanan melalui buku kembali disemarakkan melalui The Reading Buddies: On the Go yang dilaksanakan pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kegiatan dimulai dengan membaca nyaring buku cerita Kue Lapis Harimau tentang seekor harimau yang gemar membuat kue, yaitu hobi yang berbeda dari teman-teman binatang lainnya. Keseruan kegiatan kemudian dilanjut dengan bookish play, seperti belanja dan mengenali bahan kue. Dalam kesempatan kali ini, anak-anak belajar untuk mengenal bahan pembuatan kue, seperti tepung, garam, gula, daun pandan dan lain-lain. Tidak hanya itu, rasa penasaran mereka terkait cara membuat kue terjawab melalui praktik bersama. Keseruan acara ini tentu tidak lepas dari berbagai ide kreatif dan inovatif dari fasilitator, yaitu Rahmita Laily Muhtadini, Osi Livia S, Pandu Adyatma Ramadhani, dan Adelio Helga Martansyah, yang berhasil membuat rangkaian acara mengukir senyum pada wajah anak-anak.

Semangat untuk terus belajar dan dan bertumbuh bersama menjadi nilai utama yang tercermin dalam Rangkaian acara The Reading Buddies: On the Go. Hal ini turut ditunjukkan dengan meningkatnya antusiasme anak di setiap pertemuannya. Acara ini diharapkan dapat mendorong orang tua untuk berpartisipasi secara aktif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan imajinasi anak melalui literasi.

Penasaran dengan keseruan The Reading Buddies lainnya? 
Yuk, pantau terus informasi terbaru melalui laman resmi CLSD!

Penulis: Daveisha Pavita Kirana
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Peduli Isu Disabilitas, International Dental Summer Course 2025 Soroti Layanan Kesehatan Inklusif

ArtikelArtikelArtikel Liputan KegiatanSummer Course Monday, 23 February 2026

International Dental Summer Course (IDSC) 2025 merupakan program yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UGM bekerja sama dengan Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi UGM sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan layanan kesehatan gigi masa kini. Mengusung tema besar “Transforming Oral Health Care: Implementing Digital Dentistry for Special Needs Communities”, IDSC 2025 mengangkat topik pembahasan mengenai berbagai aspek kedokteran gigi digital, khususnya penerapannya bagi individu dengan disabilitas fisik, perkembangan, dan intelektual. Program ini juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap aspek psikologis dalam pelayanan pasien serta pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas dan hasil klinis.

IDSC 2025 diikuti oleh mahasiswa sarjana dan pascasarjana internasional dari Fakultas Kedokteran Gigi, Teknik, dan Psikologi di kawasan Asia, seperti Filipina, Rumania, Mesir, Pakistan, dan Qatar. Program ini berlangsung selama dua pekan, yakni pada tanggal 1-4 Juli untuk rangkaian kegiatan pre-event yang dilaksanakan secara daring dan 7-14 Juli untuk rangkaian kegiatan main-event yang dilaksanakan secara luring. Rangkaian kegiatan mencakup sesi panel akademik, kunjungan laboratorium dan fakultas, proyek praktik langsung (hands-on), pengabdian masyarakat, serta kompetisi pitching yang dirancang untuk mendorong peserta memahami peran teknologi digital, pendekatan multidisipliner, serta aspek psikososial dalam mendukung layanan kesehatan gigi yang inklusif, khususnya bagi individu dengan kebutuhan khusus.

Pada Jumat, 4 Juli 2025, Center for Life-Span Development (CLSD), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, turut berpartisipasi dalam rangkaian acara IDSC 2025 dengan menghadirkan Prof. David Evans dari The University of Sydney sebagai pemateri pada sesi panel akademik Lecture 9 pada pre-event daring. Dalam sesi tersebut, Prof. David Evans membawakan topik Understanding People with Disabilities and Building Respectful Relationships in Health Care. Selanjutnya, CLSD juga mengisi sesi hands-on yang dilaksanakan pada Senin, 7 Juli 2025. Sesi ini dibawakan oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi UGM, dengan topik Foundations and Ethical Best Practices on Engaging Individuals with Disabilities. Baik sesi Lecture 9 maupun hands-on dimoderatori oleh Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi UGM.

Sesi panel akademik bersama Bapak Prof. David Evans dari University of Sydney

Pada sesi panel akademik Lecture 9, Bapak Prof. David Evans mengangkat isu bahwa hambatan yang dialami penyandang disabilitas kerap muncul bukan karena kondisi individu, melainkan akibat lingkungan dan fasilitas yang belum dirancang secara inklusif. Hal ini beliau sampaikan melalui pernyataan, “Disability is in the environment—consider how we design the environment to be barrier free and inclusive.” Dalam konteks layanan kedokteran gigi, perhatian terhadap akses fisik, pola komunikasi, serta pengalaman pasien menjadi penting agar tidak menimbulkan hambatan tambahan bagi penyandang disabilitas. Bapak David juga menyoroti digital dentistry yang berkembang untuk menggantikan metode tradisional dengan teknik yang lebih canggih dan minim tindakan invasif. Melalui pemaparan ini, peserta diajak untuk membangun relasi yang lebih setara, menghargai individu dengan disabilitas, serta memahami bahwa layanan kesehatan yang inklusif berangkat dari empati, kesadaran, dan perubahan cara pandang.

Sesi hands-on bersama Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. dari Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada

Pada sesi hands-on, Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. mengajak peserta memahami dasar-dasar penting dalam berinteraksi dengan individu penyandang disabilitas. Melalui pemaparannya, beliau memperkenalkan berbagai model disabilitas, termasuk Biopsychosocial Model yang memandang disabilitas sebagai hasil interaksi antara kondisi kesehatan, faktor individu, dan lingkungan, sebagaimana Ibu Elga menyampaikan bahwa “Disability is understood as the result of interactions between health conditions, individual factors, and environmental context.” Selain itu, dibahas pula Human Rights Model yang menempatkan disabilitas dalam kerangka hak asasi manusia dengan penekanan pada kesetaraan, martabat, dan partisipasi penuh dalam masyarakat, yang sejalan dengan pernyataan Ibu Elga dalam materi, yakni “Disability is a matter of equality, dignity, and full participation in society as human rights.” Pemaparan ini dilengkapi dengan penjelasan mengenai berbagai jenis disabilitas serta pentingnya menerapkan prinsip-prinsip etika, seperti autonomy, beneficence, justice, dan dignity dalam praktik profesional. 

Kemudian, materi tersebut diterapkan secara langsung melalui sesi hands-on yang terdiri dari tiga aktivitas interaktif. Aktivitas pertama, “Seeing Through Their Eyes”, menggunakan pendekatan photovoice reflection untuk mengajak peserta menganalisis foto dan narasi agar dapat memahami pengalaman hidup penyandang disabilitas, termasuk jenis disabilitas, emosi yang muncul, serta hambatan lingkungan yang sering luput disadari. Aktivitas kedua dilanjutkan dengan sesi ethical role-play “What Would You Do?” yang menghadirkan berbagai skenario nyata dalam layanan kesehatan gigi, seperti komunikasi dengan pasien non-verbal, penanganan pasien dengan autisme, persoalan persetujuan tindakan medis, dan perlindungan privasi pasien dengan disabilitas guna melatih peserta menerapkan prinsip etika dalam situasi sehari-hari. Sesi ini kemudian ditutup dengan aktivitas ketiga, “Inclusive Design Quick Challenge”, yakni peserta diberikan tantangan untuk merancang ulang bagian tertentu dari pengalaman pasien, seperti alur ruang tunggu, formulir persetujuan, atau proses pendaftaran agar lebih inklusif bagi individu, baik dengan disabilitas fisik, intelektual, maupun neurodivergen. Seluruh rangkaian aktivitas diakhiri dengan diskusi dan refleksi bersama sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan praktik nyata.

Melalui rangkaian kegiatan IDSC 2025, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepekaan, empati, serta kesadaran akan pentingnya layanan kesehatan gigi yang inklusif bagi seluruh individu. Kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Teknik UGM menjadi fondasi dalam mendorong praktik layanan kesehatan gigi yang tidak hanya ramah terhadap keberagaman, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan mengintegrasikan pendekatan psikologis dan pemanfaatan inovasi teknologi, IDSC 2025 diharapkan dapat berkontribusi dalam memperluas wawasan serta pengembangan layanan kesehatan gigi yang modern dan inklusif, baik di tingkat nasional maupun global.

Penulis: Hisha Latifah Daniswara
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Festival Hari Anak 2025: Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Monday, 23 February 2026

Talkshow: Parenting Bijak di Era Digital: Mendampingi Anak Tumbuh Optimal.
Narasumber: Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog & Ibu Dr. Riana Mashar

Center for Life-Span Development (CLSD) menyelenggarakan rangkaian kegiatan Hari Anak 2025 dengan tagline, “Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital”. Pada hari Sabtu, 22 November 2025, Festival Hari Anak 2025 diselenggarakan di Fakultas Psikologi UGM sebagai puncak perayaan Hari Anak tahun ini. Puncak perayaan dikemas dengan berbagai aktivitas, meliputi Edutalk, Poster Presentation, The Reading Buddies, dan Talkshow. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat umum, mahasiswa, guru, orang tua, praktisi, dan psikolog.

Festival Hari Anak 2025 diawali dengan Edutalk I yang dilaksanakan di Selasar Gedung D dengan 275 peserta. Kegiatan ini diisi oleh narasumber Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM, yang dibersamai oleh Rahmita Laily Muhtadini, S.Psi., sebagai moderator. Melalui kegiatan ini, Prof. Tina berkesempatan untuk memperkenalkan modul “Cerdas Menggunakan Gadget dan Internet untuk Anak”. Modul ini mengajak peserta untuk menelusuri lebih dalam terkait strategi efektif dalam mendampingi anak usia 9 hingga 11 tahun dalam menggunakan gadget dan internet secara bertanggung jawab. Selain itu, modul ini juga ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang regulasi diri, etika digital, dan keamanan online.

Acara berikutnya diisi dengan kegiatan The Reading Buddies (TRB) yang merupakan sesi membaca nyaring interaktif bersama anak-anak. Pada kesempatan ini, tim TRB membacakan buku berjudul “Festival Padang Bulan”, yang dibacakan oleh Rifda Amira Mulika, S.Psi dan dipandu oleh empat fasilitator, yaitu Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi., Ulul Ilmi, Aliya Zahra Budiman, S.Psi., Adelya Shofa Anisa, S.Psi. Suasana semakin hidup ketika cerita tidak hanya dibacakan, tetapi juga diwujudkan melalui mini drama yang menampilkan tokoh-tokoh dalam buku. Tokoh-tokoh hewan dalam cerita diperankan dengan penuh ekspresi oleh Naila Rusyda Khalisa, Anindya Reva Tabina, S.Psi., Pandu Adyatma Ramadhani, dan Lusiana Dewi sehingga anak-anak dapat lebih terlibat dalam alur cerita.

Di tengah drama, suasana mengasyikkan terbangun melalui dua permainan yang dimainkan bersama anak-anak, yaitu ular naga dan jaga tangkap. Anak-anak diajak bergerak dan berinteraksi langsung dengan aktor sehingga energi positif terus terasa sepanjang kegiatan. Sejak awal hingga akhir sesi membaca nyaring, antusiasme anak-anak begitu terasa, senyum lebar, tawa, dan sorak kecil memenuhi ruangan, menjadikan kegiatan ini sebagai pengalaman membaca yang menyenangkan dan berkesan.

Berkaitan dengan The Reading Buddies, CLSD turut menyelenggarakan Edutalk II dengan judul “The Reading Buddies – Dari CLSD untuk Tumbuh Kembang Anak”. Melalui kegiatan ini, CLSD menghadirkan Ibu Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., M.Psych., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM yang dibersamai oleh I Marannu Andi Khalisha, S.Psi., sebagai moderator. Berbeda dengan Edutalk I, Edutalk II ditujukan untuk memperkenalkan The Reading Buddies sebagai terobosan yang dicetuskan oleh Ibu Ampuni dalam menumbuhkan minat baca serta kemampuan literasi anak melalui kegiatan membaca yang interaktif dan menyenangkan.

Di atrium gedung A Fakultas Psikologi UGM, kegiatan Poster Presentation dilaksanakan secara paralel bersamaan dengan Edutalk I dan II serta The Reading Buddies. Tema “Anak dan Remaja – Sehat Mental, Tangguh, dan Bahagia” menjadi tema utama yang dibawakan oleh para presenter. Pemaparan diwarnai dengan gagasan kreatif dan inovatif oleh para presenter yang diiringi dengan interaksi bersama audiens. Adapun poster tersebut diisi dengan berbagai judul yang menarik, seperti Art, Friendship, and Children Resilience in Bali, Suara Anak Berkebutuhan Khusus tentang Kemandirian di Sekolah Inklusi: Sebuah Studi Photovoice, dan Counter Narrative Digital: Sebuah Strategi sebagai Upaya Mengikis Normalisasi Klitih dalam Budaya Remaja di Yogyakarta. Selain pemaparan, penilaian poster juga dilakukan oleh para juri, yaitu Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Ramadhan Dwi Marvianto, S.Psi., M. A., dan Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi., M.A. Adapun kegiatan ini dipimpin oleh moderator, yaitu Siti Afifa Choirunissah, M.Psi., Psikolog untuk menunjang kelancaran kegiatan.

Kegiatan “Talkshow: Parenting Bijak di Era Digital: Mendampingi Anak Tumbuh Optimal” menjadi kegiatan terakhir yang dilaksanakan dalam Festival Hari Anak 2025. Tercatat bahwa sebanyak 150 peserta mengisi kursi-kursi di gedung D selama berlangsungnya kegiatan. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Ibu Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu Ibu Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog serta Ibu Dr. Riana Mashar, M.Si. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk menelusuri lebih dalam terkait upaya membentuk pola asuh yang optimal bagi anak dalam memanfaatkan teknologi secara positif dan bijak.

Penyelenggaraan Festival Hari Anak 2025 merupakan langkah konkret oleh CLSD dalam mengedukasi dan meningkatkan kapasitas peserta untuk mendukung tumbuh kembang serta kesehatan mental anak di era digital. Melalui kegiatan ini, CLSD juga berkomitmen untuk membangun jejaring kolaboratif antara orang tua, pendidik, mahasiswa, dan pemerhati anak dalam menciptakan lingkungan yang ramah, adaptif, dan mendukung kesejahteraan anak di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Dengan demikian, Festival Hari Anak 2025 harapannya dapat menciptakan sinergi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal dan sehat secara psikologis sekaligus mampu memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif.

Penulis: Daveisha Pavita Kirana
Reviewer: Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi

Webinar Hari Anak 2025: Sehat Mental di Era Digital

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 19 February 2026

Poster registrasi webinar untuk Festival Hari Anak 2025

Dalam rangka memperingati Hari Anak 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang dibuka oleh Webinar Hari Anak. Mengangkat tema “Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital”, webinar tersebut dilaksanakan dalam tiga episode yang diselenggarakan secara daring dan bertahap pada 2, 9, dan 16 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan psikolog dan akademisi Fakultas Psikologi UGM sebagai narasumber pada setiap episodenya. Ditujukan pada orang tua, pendidik, serta masyarakat luas, webinar ini mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang serta kesehatan mental anak di era digital dengan lebih dalam.Kegiatan ini diselenggarakan sebagai tanggapan atas meningkatnya tantangan pada tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Pemakaian gadget sejak usia dini, perubahan pola interaksi sosial, serta risiko terhadap kesehatan mental menjadi masalah yang relevan untuk dibahas bersama. Maka dari itu, CLSD UGM berupaya untuk membuat ruang edukasi yang dapat diakses oleh orang tua, pendidik, dan masyarakat luas terwujud. Dilakukan secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, serta sesi tanya jawab, webinar ini tidak hanya ditunjukkan agar peserta menerima informasi, tetapi juga dapat merefleksikan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Episode 1, oleh Ibu Raninta Wulanwidanti, M.Psi., Psikolog, dalam “Pendampingan Tumbuh Kembang Anak di Era Digitalisasi”

Episode pertama dibawakan oleh Ibu Raninta Wulanwidanti, M.Psi., Psikolog dan mengangkat topik “Pendampingan Tumbuh Kembang Anak di Era Digitalisasi”. Potensi baik dari teknologi, dampaknya jika digunakan secara berlebihan, dan juga strategi untuk menavigasi berbagai dinamika yang sedang terjadi dipaparkan pada episode pertama. Dalam episode ini, Ibu Raninta menyampaikan, “Era digitalisasi ini membuka peluang baru, dan ini adalah tantangan baru untuk kita. Kuncinya adalah dalam penggunaan digital yang bijak dan bertanggungjawab”.

Episode 2, oleh Ibu Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, dalam “Buku di Tengah Gadget: Menumbuhkan Literasi Anak di Era Digital”.

Pada episode kedua, webinar ini menghadirkan Ibu Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog dengan topik “Buku di Tengah Gadget: Menumbuhkan Literasi Anak di Era Digital”. Episode ini memaparkan tantangan dan strategi praktis dalam mengembangkan literasi anak di tengah dominasi perangkat digital, termasuk bagaimana cara menggunakan gadget sebagai alat yang dapat membantu menumbuhkan minat baca anak, bukan menghalanginya. Pada episode ini, strategi yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak tanpa mengabaikan konteks digital yang ada dan penyesuaiannya dengan tahapan perkembangan anak juga dipaparkan. Salah satu strateginya adalah dengan metode read aloud, yaitu dengan membacakan buku dengan nyaring dan ekspresif, seperti mendongeng tertulis kepada anak.

Episode 3, oleh Ibu Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam “Mendampingi Anak dan Remaja untuk Sehat Mental di Era Digital”

Episode ketiga ditutup dengan topik “Mendampingi Anak dan Remaja untuk Sehat Mental di Era Digital” yang disampaikan oleh Ibu Zahra Frida Intani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Materi pada episode ini berfokus pada isu kesehatan mental anak dan remaja, termasuk dampak dari adiksi digital, risikonya, serta peran orang tua dalam pengawasan penggunaan teknologi digital pada anak. Selain itu, peserta juga diajak memahami tanda-tanda awal seseorang mengalami stres dan langkah yang dapat dilakukan secara tepat. Ibu Zahra menambahkan dalam episode yang dibawakannya, “Orang tua dapat memberikan tameng pada anak-anaknya dengan menyosialisasikan apa saja nilai-nilai penting dalam keluarga untuk dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari sedari kecil”.

Melalui penyelenggaraan webinar episode 1, 2, dan 3 ini, CLSD UGM berupaya mendorong masyarakat agar semakin memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai pendampingan anak di era digital. Kegiatan ini sekaligus menekankan upaya Fakultas Psikologi UGM dalam memberikan psikoedukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kedepannya, CLSD UGM berencana untuk terus menghadirkan program serupa sebagai upaya berkelanjutan dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak di Indonesia.

Penulis: Naafia Halia
Reviewer: Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi

International Course on Public Mental Health 2025 – Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Monday, 29 December 2025

Registration poster for the International Course on Public Mental Health 2025

In collaboration of the Center for Public Mental Health (CPMH) and the Center for Life-Span Development (CLSD) of the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada, an International Course on Public Mental Health is organised this year. This means that this is the third time CLSD has organised an international course, with the first being held in 2021. In these international courses, excellent lecturers worldwide are invited to bring a lecture, with this year inviting professionals from Universiti Malaya, UNICEF Indonesia, University of Queensland, University of Melbourne, Marmara Üniversitesi, and many more. Taking place online from Monday to Friday, October 27th–31st 2025, the International Course for Public Mental Health 2025 holds the theme, “Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools”.

This international course aims to bring together insights and strategies to empower families for them to thrive amidst these challenges, fostering resilience, balance, and stronger intergenerational connections for healthier, more supportive societies. Using existing research, evidence-based practices, and real-world practical applications, this course provides a platform for participants to explore various approaches in fostering mental health across generations and contexts, which is connected to fulfilling the Sustainable Development Goals (SDGs), such as Good Health and Wellbeing (3) and Quality Education (4). All of the courses were conducted in English and closed captioning was provided.

Day 2, brought by Tanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. from UNICEF Indonesia, on Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental Health

For this year’s course, we invited 6 international speakers and 6 national speakers from various backgrounds and fields of expertise from all over the world, such as Australia, Malaysia, Turkey, the United Kingdom, and the United States of America. Attended by students, researchers, educators, professionals, and parents alike from 3 different countries, this course started with an opening event brought by 2 of our speakers, Prof. Dr. Süleyman Derin and Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog on October 23rd on Living Room Talks: Diana & Derin, with the topic of “Supportive Family for Youth Mental Health Development”.

“Family is a very strategic place to produce good citizens, good characters, good workers, and good assets for society. But family also only functions well if the society or the nation also helps them too. These two things need to go hand in hand, we can’t leave families alone to carry the burden, it is our collective responsibility to make an enabler factor for the families to function well.” said Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog, the speaker at our opening event and a lecturer at the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada.

This course consisted of nine different topics, with each topic commemorating the role of parents, families, educators, communities, schools, inclusive education, advocacy, mental health, and wellbeing for all in strengthening healthier, more resilient families and thriving future generations in this changing world.

DateTime (GMT +7)AgendaSpeakers
Monday, 27 October 202513:00–14:30Parenting Adolescents in a Changing WorldProf. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung
Tuesday, 28 October 202516:00–17:30Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental HealthTanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. UNICEF
Wednesday, 29 October 202513:00–14:30Designing Mental Health–Friendly School SystemsHolly Erskine
15:30–17:00Family Interventions for Mental Health PromotionProf. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si
Thursday, 30 October 202512:30–14:00Digital Well-being and Family-School CollaborationTeodora Pavkovic, M.Sc., Clin.Psy.
15:30–17:00Experiences of Youth with DisabilitiesElga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. and Christopher Florensco Raditya Setadewa
20:00–21:30Positive Discipline For EducatorsJoy Marchese
Friday, 31 October 202510:00–11:30Trauma-Informed Approaches in Schools and Families: Care, Connect, CollaborateDr. Annie Gowing
13:00–14:30Families at the Peak of Career Demands: Balancing Work and CareFuad Hamsyah, S.Psi., M.Sc., Ph.D

Day 3, Session 1, brought by Holly Erskine from The University of Queensland, Australia, on Designing Mental Health–Friendly School Systems.

With that, the International Course on Public Mental Health, held from 27–31 October 2025, with a total of 9 sessions, uniting 12 speakers from 7 countries, and 37 participants from 3 countries has come to an end. The organising committee of the International Course on Public Mental Health 2025 expresses our utmost gratitude to the speakers for sharing their valuable knowledge and insights in fostering healthier intergenerational connections among youth, families, communities, and schools. We are also extremely grateful to all participants for their active participation and contributions during this international course. We look forward to welcoming you at our upcoming events in the future!

“Let’s all be people who demystify and help build understanding,” Dr. Annie Gowing

Penulis: Naafia Halia
Reviewer: I Marannu Andi Khalisha, S.Psi

Langkah Seto Menuju Pengalaman Global: Mewujudkan Pembelajaran Inklusif bersama Australian Alumni Grants 2025

ArtikelArtikel Friday, 19 September 2025

Christopher Florensco Raditya Setadewa, atau akrab disapa Seto, intern di Center for Life-span Development (CLSD) Fakultas Psikologi UGM, berkesempatan mengikuti program mobilitas internasional ke University of Sydney, Australia. Program ini merupakan bagian dari proyek yang didanai hibah Australian Alumni Grants 2025, yang diraih oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., dosen sekaligus peneliti CLSD, yang akan turut berpartisipasi bersama Seto dalam kegiatan tersebut. 

Selama tiga minggu, Seto dan Ibu Elga akan mempelajari pendekatan ‘University Co-Design’ dalam pembelajaran inklusif. Pendekatan tersebut menempatkan individu dengan disabilitas intelektual sebagai bagian aktif dari lingkungan universitas. Mereka tidak hanya diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, tetapi juga bekerja sebagai dosen pendamping (co-lecturer) yang berperan aktif dalam proses perkuliahan dan tutorial. Nantinya, Seto dan Ibu Elga akan mengobservasi dan ikut serta dalam proses, mulai dari persiapan rencana pembelajaran hingga berpartisipasi langsung dalam kelas perkuliahan. 

Keterlibatan Seto sebagai individu dengan disabilitas intelektual dalam program ini juga mendapat perhatian khusus dari Australian Awards Indonesia (AAI). Menurut Ibu Elga, pihak AAI memberikan dukungan besar karena partisipasi Seto sangat selaras dengan prinsip Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) yang diusung AAI dalam setiap programnya. “Mereka (Australia Awards Indonesia) berharap diseminasi proyek dengan Seto ini kuat karena sangat khas dan menjadi perhatian mereka,” ujar Ibu Elga.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas internasional tersebut, Seto berusaha membekali diri melalui berbagai langkah yang mendukung kesiapannya. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan mengikuti program pengabdian kepada masyarakat yaitu senior school di CLSD. Program ini memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan lansia serta dapat membantu melatih kepekaan sosial. Selain itu, Seto juga mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam berkomunikasi di lingkungan internasional. Tidak hanya itu, Seto juga mengikuti kelas IUP (International Undergraduate Program) di Fakultas Psikologi untuk membiasakan diri dengan ekosistem universitas. Seto juga turut menjaga kesiapan fisik agar nantinya dapat menjalani seluruh kegiatan dalam program mobilitas dengan optimal.

Orang tua, dosen, serta Fakultas Psikologi secara penuh mendukung langkah Seto dalam mempersiapkan diri mengikuti program mobilitas. Dukungan yang hadir dari berbagai pihak di sekelilingnya diharapkan dapat menjadi semangat bagi Seto untuk semakin percaya diri dalam mengembangkan kemampuan dan siap memanfaatkan kesempatan yang diberikan Australian Alumni Grant dengan sebaik-baiknya.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Penulis: Aliya Zahra Budiman, S.Psi., M.A., dan Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A.
Reviewer: Bhekti Lukita Nurcaesya

Inklusivitas CLSD: Kisah Seto, Intern Disabilitas Intelektual yang Menginspirasi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Thursday, 18 September 2025

Center for Life-Span Development (CLSD) UGM merupakan wadah bagi interns yang memiliki potensi luar biasa dan inspiratif. Salah satunya adalah Christopher Florensco Raditya Setadewa atau lebih akrab disapa Seto. Di tahun 2025 ini, Seto yang merupakan individu disabilitas intelektual, telah berkesempatan menjadi intern di CLSD UGM. Hadirnya Seto sebagai bagian dari CLSD UGM merupakan bukti keterbukaan dan wujud komitmen CLSD UGM terhadap inklusivitas untuk penyandang disabilitas di lingkungan kerja.

Tidak hanya itu, CLSD UGM juga memberikan energi baru yang menyegarkan bagi Seto sendiri. “Menyenangkan, apa yang mau disampaikan enjoy aja. Seneng juga dapet temen-temen baru, orangnya asik-asik,” ungkap Seto, menggambarkan suasana CLSD UGM yang ramah dan suportif.

Kondisi yang dialami Seto tidak menghalanginya untuk tetap aktif dalam berbagai kegiatan di CLSD UGM. Beberapa waktu terakhir, lulusan diploma perhotelan dari Sekolah Tumbuh ini aktif di salah satu program yang diselenggarakan oleh CLSD UGM, yaitu Kelas Psikologi Senior School. Senior School merupakan sebuah program sekolah lansia yang diselenggarakan oleh CLSD UGM  bekerja sama dengan BIAS School, di mana para peserta akan menerima berbagai materi mengenai psikologi dari dosen Fakultas Psikologi UGM.

Pada program tersebut, Seto terlibat dalam dua pertemuan terakhir yang diadakan pada tanggal 29 dan 30 Juli 2025. Sebagai fasilitator,  ia bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan dan memberikan mikrofon kepada peserta yang ingin bertanya. Meskipun awalnya merasa canggung karena ini merupakan hal yang tidak biasa, tetapi Seto tidak butuh waktu lama untuk dapat beradaptasi. “Mereka lebih semangat. Meskipun baru pertama kali ketemu jadi canggung, tapi semangat mereka menular,” ujar Seto penuh semangat. Bahkan di pertemuan kedua, Seto berinisiatif untuk membuat video dokumentasi dengan lebih menarik layaknya ‘content creator’.

Seto diperkenalkan kepada CLSD oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus salah satu tim peneliti di CLSD. Bu Elga yang telah mengenal Seto sejak kelas 1 Sekolah Dasar, menganggap Seto sebagai individu yang memiliki kemampuan yang sangat baik dan adaptif. 

Di luar kegiatannya bersama CLSD UGM, Seto juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan lainnya. Misalnya, ia sempat mengikuti beberapa mata kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Meskipun terkadang ia merasa materi yang diberikan tidak sepenuhnya terjangkau, respon dari mahasiswa lain membuat proses belajar menjadi lebih mudah. “Tanggapan mahasiswa lain juga sangat welcome, nice,” ujar Bu Elga. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang suportif adalah kunci utama untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi siapa pun.

Selain itu, Bu Elga juga menceritakan keterlibatan Seto dalam proyek photovoice terkait inklusivitas. Dalam proyek tersebut, Seto diminta untuk memotret kerumunan orang yang ada di jalanan Malioboro, kemudian menceritakannya. Menariknya, Seto melakukan hal tersebut secara antusias dan mandiri tanpa bantuan orang tua. Hal ini tentu menunjukkan kemandirian dan keinginan belajar yang tinggi dari Seto, yang tentunya tidak terlepas dari dukungan yang diberikan orang tua untuk mendukung perkembangannya.

Kisah Seto di CLSD bukan hanya sekadar cerita tentang seorang intern biasa. Seto adalah representasi dari semangat dan keinginan belajar yang tak pernah pudar. Dengan kemampuan sosial dan kemandirian yang luar biasa, pengalamannya memberikan pemahaman bahwa inklusivitas adalah tindakan nyata yang bisa dilakukan untuk menciptakan ruang aman dan ramah bagi semua orang.

#AustraliaAwardslndonesia #AAG #OzAlum

Penulis: Retni Retnasari, S.Psi., M.A
Reviewer: Bhekti Lukita Nurcaesya

“Mencari Bantuan Bukan Berarti Lemah”: Pentingnya Help-Seeking Behavior pada Masa Remaja

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 4 August 2025

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.

Masa remaja menjadi periode yang cukup menantang mengingat adanya perubahan di berbagai domain perkembangan, yaitu fisik, emosi, dan sosial (Santrock, 2020). Perubahan fisik dan hormon sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan bagi remaja. Perubahan emosi yang intens juga menjadi penanda khas dari periode ini. Selain itu, remaja banyak melakukan eksplorasi identitas diri dan ingin menjadi bagian dari suatu kelompok. Remaja akan lebih sering menghabiskan waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua. Bagi remaja, penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya adalah sumber penting dari rasa harga diri dan keterikatan sosial, yang erat kaitannya dengan perkembangan psikologis yang sehat (Lin & Guo, 2024).

Perubahan yang kompleks terkadang dapat menimbulkan permasalahan pada kehidupan remaja. Permasalahan yang kerap muncul, yaitu masalah akademik, penilaian diri negatif akibat perbandingan sosial, kebingungan identitas, kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial, masalah hubungan interpersonal seperti konflik dengan orang tua, penolakan dan pengucilan teman sebaya (Lin & Guo, 2024). Remaja yang kurang mampu mengatasi masalah secara efektif cenderung berisiko mengalami masalah kesehatan mental (Sulistiowati dkk., 2022).

Masa remaja menjadi periode kritis untuk timbulnya masalah kesehatan mental. Gangguan emosi seperti depresi dan kecemasan adalah masalah yang paling umum terjadi di kalangan remaja (Merikangas dkk., 2010). Menurut World Health Organization (2021), satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental. Hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental (Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health, 2022). Masalah kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak mengingat pengaruhnya yang besar terhadap kesejahteraan hidup.

Masalah kesehatan mental yang terjadi di kalangan remaja dapat disebabkan oleh rendahnya kesadaran remaja untuk mencari bantuan (Syakarofath & Widyasari, 2023). Sebagian remaja masih merasa enggan mencari bantuan saat mereka kesulitan mengatasi masalah dan merasakan ketidaknyamanan. Remaja lebih memilih memendam perasaan dan masalahnya sendiri daripada bercerita kepada orang lain karena takut dianggap lemah dan dijauhi. Remaja sering kali melakukan penundaan yang cukup lama untuk mencari bantuan.

Menurut Ogden (2023), perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) dalam konteks kesehatan adalah tindakan seseorang untuk mendapatkan bantuan eksternal dalam menangani masalah kesehatan yang dialami. Ajzen (1991) mengemukakan tentang theory of planned behavior yang menjelaskan proses munculnya suatu perilaku. Teori tersebut menunjukkan bahwa help-seeking behavior tidak muncul secara spontan, tetapi didahului oleh proses kognitif. Proses kognitif ini meliputi keyakinan seseorang terhadap konsekuensi dari perilaku mencari bantuan apakah bermanfaat atau tidak, kemudian sejauh mana lingkungan sosial mendukung perilaku seseorang mencari bantuan, serta keyakinan seseorang untuk mampu menerapkan perilaku mencari bantuan. Hal-hal tersebut akan memengaruhi niat seseorang. Semakin kuat niat yang dimiliki seseorang, maka perilaku mencari bantuan pun cenderung terjadi.

Sikap enggan atau menunda mencari bantuan dapat menghalangi remaja mendapatkan penanganan yang tepat. Pinto dkk. (2014) menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental remaja yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan menurunkan kualitas hidup dan menghambat perkembangan seseorang. Hal tersebut juga akan memicu kerentanan remaja terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkotika, konsumsi alkohol, perilaku seksual yang tidak sehat, kriminalitas, self-harm, dan percobaan bunuh diri. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini pada remaja.

Menyadari pentingnya perilaku mencari bantuan pada remaja, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk membentuk perilaku mencari bantuan dalam hal kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan oleh remaja yaitu membangun self-awareness (kesadaran diri). Menurut Rickwood dkk. (2005), remaja dengan self-awareness yang tinggi akan mampu mengenali emosi yang dirasakan, lebih menyadari hal yang menjadi kebutuhan mereka untuk merasa lebih baik, dan cenderung lebih mampu menerima kelebihan maupun kekurangan diri. Hal ini akan mendorong remaja untuk lebih terbuka meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya.

Selain itu, lingkungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun guru memiliki peran krusial untuk mendorong remaja secara aktif mencari bantuan (Eigenhuis dkk., 2021). Misalnya, pemberian informasi layanan kesehatan dan edukasi kesehatan dari pihak sekolah untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja. Selain itu, teman sebaya dapat menjadi sumber dukungan emosional untuk remaja agar mencari bantuan ketika sedang merasa tidak baik-baik saja. Orang tua juga dapat menjadi sumber dukungan berharga bagi remaja untuk memulai proses rujukan ke bantuan profesional. Penelitian Hellström dan Beckman (2021) menyatakan bahwa remaja sangat membutuhkan orang dewasa untuk hadir membantu dan mendengar kebutuhan mereka.

Kesadaran akan pentingnya mencari bantuan menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih berdaya. Pencarian bantuan memiliki potensi untuk menurunkan tingkat keparahan, mempercepat proses pemulihan, dan mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Ketika remaja mau menerapkan perilaku mencari bantuan, maka beban yang selama ini mereka pendam dan tumpuk terlalu lama perlahan akan berkurang. Remaja dapat mencari bantuan dengan mulai berani bercerita ke orang terdekat, bergabung dengan komunitas yang suportif, dan mencari bantuan profesional di unit layanan kesehatan terdekat maupun mengakses aplikasi layanan kesehatan online. Ingatlah bahwa mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Referensi

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50, 179-211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T 

Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health. (2022). Indonesia—National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan Penelitian. Pusat Kesehatan Reproduksi.

Eigenhuis, E., Waumans, R. C., Muntingh, A. D. T., Westerman, M. J., Van Meijel, M., Batelaan, N. M., & Van Balkom, A. J. L. M. (2021). Facilitating factors and barriers in help-seeking behaviour in adolescents and young adults with depressive symptoms: A qualitative study. PLOS ONE, 16(3), e0247516. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0247516 

Hellström, L., & Beckman, L. (2021). Life challenges and barriers to help seeking: Adolescents’ and young adults’ voices of mental health. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(24), 13101. https://doi.org/10.3390/ijerph182413101 

Lin, J., & Guo, W. (2024). The research on risk factors for adolescents’ mental health. Behavioral Sciences, 14(4), 263. https://doi.org/10.3390/bs14040263 

Merikangas, K. R., He, J., Burstein, M., Swanson, S. A., Avenevoli, S., Cui, L., Benjet, C., Georgiades, K., & Swendsen, J. (2010). Lifetime prevalence of mental disorders in U.S. adolescents: Results from the National Comorbidity Survey Replication–Adolescent Supplement (NCS-A). Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 49(10), 980–989. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2010.05.017 

Ogden, J. (2023). Health psychology: A textbook (7th ed.). McGraw Hill.

Pinto, A. C. S., Luna, I. T., Sivla, A. D. A., Pinheiro, P. N. D. C., Braga, V. A. B., & Souza, Â. M. A. E. (2014). Risk factors associated with mental health issues in adolescents: A integrative review. Revista Da Escola de Enfermagem Da USP, 48(3), 555–564. https://doi.org/10.1590/S0080-623420140000300022 

Rickwood, D., Deane, F. P., Wilson, C. J., & Ciarrochi, J. (2005). Young people’s help-seeking for mental health problems. Australian E-Journal for the Advancement of Mental Health, 4(3), 218–251. https://doi.org/10.5172/jamh.4.3.218 

Santrock, J. W. (2020). A topical approach to life-span development (10th ed.). McGraw-Hill Education.

Sulistiowati, N. M. D., Keliat, B. A., Ismail, R. I., Besral, B., Darsana, I. W., & Triana, I. K. D. L. (2022). Risk factors, protective factors, and mental health well-being among adolescents: A multiple mediator model. International Journal of Health Sciences, 6, 7826–7841. https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS5.11695 

Syakarofath, N. A., & Widyasari, D. C. (2023). The attitude of help-seeking behavior preventing from mental health problems among adolescents living in district of Bondowoso. Jurnal Psikologi Integratif, 11(1), 25-39. World Health Organization. (2021). Mental health of adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

Petak Umpet: Permainan Tradisional yang dapat Membangun Keterampilan Sosioemosional Anak Usia Dini

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 16 July 2025

Oleh: Lisa Angela | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Siapa sangka, dibalik serunya permainan petak umpet tersembunyi potensi besar untuk membentuk keterampilan sosioemosional anak usia dini?

Permainan tradisional adalah permainan khas dari suatu negara yang membawa nilai budaya tertentu. Permainan tradisional di Indonesia merupakan cerminan dari tradisi dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat Indonesia, dan telah diwariskan secara turun-temurun (Fitri dkk., 2020). Selain mengandung unsur kearifan lokal, ciri khas dari permainan tradisional di Indonesia adalah interaktif (Wijaya dalam Sovia, 2022). Sisi interaktif ini terlihat dari permainan tradisional yang biasanya dimainkan secara berkelompok, sehingga berfokus pada interaksi sosial dan komunikasi antar pemain (Wijaya dalam Sovia, 2022).

Di tengah maraknya anak-anak yang lebih memilih bermain game online, permainan tradisional menawarkan sejumlah manfaat yang signifikan. Permainan tradisional tidak hanya menghibur tetapi juga mendukung perkembangan sosial dan emosional anak (Gultom dkk, 2022). Perkembangan sosioemosional berkaitan dengan bagaimana anak membangun hubungan positif dengan teman sebaya dan orang dewasa serta mengenali dan mengelola emosinya sendiri. Melalui proses ini, anak belajar untuk berempati, berbagi, dan memahami perasaan orang lain (Harianja dkk., 2023). Anak juga mulai mengenal aturan sosial dan menyesuaikan perilakunya dengan cara orang-orang dan lingkungan di sekitarnya berinteraksi. Keterampilan ini berperan penting dalam mempersiapkan anak agar mampu beradaptasi dan tumbuh dengan baik dalam berbagai situasi sosial (Harianja dkk.,, 2023).

Indonesia memiliki berbagai jenis permainan tradisional. Dari berbagai permainan, terdapat satu contoh permainan yang sesuai untuk anak usia dini, yaitu petak umpet. Petak umpet adalah permainan tradisional di mana satu orang bertugas menghitung sambil menutup mata, sementara teman-teman yang lain bersembunyi. Setelah selesai menghitung, orang yang bertugas akan mencari teman-temannya yang bersembunyi hingga semua ditemukan.

Keunikan petak umpet terletak pada kesederhanaannya. Permainan ini tidak memerlukan alat apa pun, sehingga lebih mudah diakses jika dibandingkan dengan permainan tradisional lainnya. Kemudahan akses ini memungkinkan anak-anak di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, dari berbagai latar belakang ekonomi, tetap dapat bermain petak umpet. Selain itu, permainan ini juga telah dibuktikan melalui penelitian sebagai sarana yang efektif dalam mendukung perkembangan sosioemosional anak usia dini. 

Penelitian Hananta dan Mas’udah (2016) menunjukkan bahwa dengan bermain petak umpet secara berulang, anak-anak usia dini dapat lebih efektif mengembangkan kemampuan sosial emosional mereka. Kemampuan ini mencakup aspek-aspek penting seperti kemampuan untuk bekerjasama dengan teman, di mana anak menjadi lebih bersedia untuk bermain bersama, merasa gembira saat bermain dalam kelompok, serta menunjukkan sikap saling membantu satu sama lain.

Lebih lanjut, Maghfiroh (2020) menjelaskan bahwa permainan petak umpet mengajarkan beberapa nilai seperti kejujuran, toleransi, kerjasama, kreativitas, dan tanggungjawab. Kejujuran terlihat saat anak mengakui ketika dirinya ditemukan oleh “penjaga”. Toleransi terlihat ketika mereka tidak menghalangi temannya yang bersembunyi. Kerjasama terwujud dengan tidak memberitahu lokasi teman yang bersembunyi. Kreativitas terlihat saat merencanakan strategi untuk berpindah tempat. Terakhir, tanggungjawab untuk menyelesaikan permainan sampai akhir.

Berdasarkan pemaparan di atas, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari permainan petak umpet (Salsabila, dalam Damayanti & Suparno, 2023):

1. Mendorong anak lebih aktif

Petak umpet membantu anak menjadi lebih aktif secara fisik karena dalam permainan ini anak harus berlari dan bersembunyi. Aktivitas fisik ini mendukung perkembangan motorik kasar dan membantu anak tumbuh lebih sehat dibandingkan anak yang cenderung pasif.

2. Mengembangkan keterampilan sosial

Permainan ini juga melatih anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Sosialisasi harus dibiasakan sejak usia dini agar anak terbiasa berinteraksi dengan baik di masa dewasa. Melalui petak umpet, anak belajar cara bekerja sama dan menghargai teman.

3. Meningkatkan kreativitas

Anak-anak harus berpikir kreatif untuk menemukan tempat persembunyian yang aman dan berbeda dari teman-temannya. Proses ini menantang mereka untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan imajinatif dalam situasi yang sederhana dan menyenangkan.

4. Melatih kepatuhan terhadap aturan

Dalam petak umpet, anak diajarkan untuk mengikuti aturan permainan, seperti giliran mencari dan bersembunyi. Keterampilan ini penting karena kepatuhan terhadap aturan akan membantu mereka menyesuaikan diri di lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat yang lebih luas.

5. Belajar berdiskusi dan membuat kesepakatan

Anak-anak perlu berdiskusi dan membuat kesepakatan agar permainan dapat berjalan lancar. Proses ini membantu mereka belajar tentang kompromi, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencapai kesepakatan bersama.

6. Mengajarkan sportivitas

Petak umpet mengajarkan anak untuk menerima kekalahan dan kemenangan dengan sikap yang baik.

Menariknya, permainan petak umpet dapat dimainkan baik di dalam maupun di luar rumah. Di rumah, anak-anak dapat bermain bersama saudara atau orang tua sehingga mempererat hubungan keluarga. Sementara di luar rumah, mereka dapat bermain bersama tetangga di sekitar rumah. Kemudian, anak-anak juga dapat bermain di sekolah, terutama saat jam istirahat, pada mata pelajaran yang melibatkan aktivitas fisik seperti olahraga, atau saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka. Selain itu, komunitas juga dapat menggunakan permainan ini dalam membangun interaksi antar anak.

Melihat manfaat dan kemudahan dalam permainan petak umpet, mari bersama kita berkomitmen untuk melestarikan permainan petak umpet. Melalui petak umpet, anak-anak tidak hanya belajar berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya tetapi juga menikmati permainan tanpa bergantung pada gadget. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan pertumbuhan generasi yang sehat, kreatif, dan juga sadar akan pentingnya budaya lokal. 

Referensi

Damayanti, N., & Suparno, S. (2023). Efektivitas model permainan petak umpet untuk meningkatkan kemampuan motorik anak. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 4243–4258. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.4937

Fitri, M., Nur, H. A., & Putri, W. (2020). The commemoration of independence day: recalling indonesian traditional games. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.587196

Gultom, S., Baharuddin, B., Ampera, D., Endriani, D., Jahidin, I., & Tanjung, S. (2022). Traditional games in cultural literacy to build the character of elementary school students during the covid-19 pandemic. NeuroQuantology, 20(5), 704-712. https://doi.org/10.14704/nq.2022.20.5.nq22226

Hananta, R. W., & Mas’udah. (2016). Pengaruh permainan petak umpet terhadap kemampuan sosial emosional anak. Jurnal Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini.

Harianja, A. L., Siregar, R., & Lubis, J. N. (2023). Upaya meningkatkan perkembangan sosial emosional anak usia dini melalui bermain peran. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 4871–4880. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i4.5159

Maghfiroh, Y. (2020). Peran permainan tradisional dalam membentuk karakter anak usia 4-6 tahun. Jurnal Pendidikan Anak, 6(1), 1–8.

Sovia, A., Harisman, Y., & Rifandi, R. (2022). Saringgong: an alternative media for slow learner students in learning mathematics. Rangkiang Mathematics Journal, 1(1), 9-15. https://doi.org/10.24036/rmj.v1i1.6

12

Recent Posts

  • CLSD UGM Merefleksikan Prestasi Melalui CLSD End of Year Party 2025: Festival Dangdut Pantura
  • Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!
  • Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini
  • Peduli Isu Disabilitas, International Dental Summer Course 2025 Soroti Layanan Kesehatan Inklusif
  • Festival Hari Anak 2025: Bertumbuh, Belajar, dan Sehat Mental bagi Anak di Era Digital
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY