• Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
Universitas Gadjah Mada Center for Life-Span Development (CLSD)
Faculty of Psychology
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • Research & Publication
  • Beranda
  • CLSD
  • CLSD
Arsip:

CLSD

Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Universitas Gadjah Mada bersama University of Ghana, Ghana dan Universidad Técnica de Manabí, Ekuador, melaksanakan riset yang bertajuk “STRONG-YOUTH: Socio-Technical Responses to Online Neglect and Global Youth Economic Exploitation”, yakni sebuah proyek kolaboratif lintas negara yang berfokus pada perlindungan pemuda dari eksploitasi ekonomi daring di kawasan Global South. Riset ini dilaksanakan sebagai respons atas percepatan digitalisasi di negara-negara Global South yang tidak selalu diiringi dengan sistem perlindungan memadai bagi pemuda. Perkembangan platform digital membuka peluang ekonomi, namun juga menghadirkan risiko berupa penipuan dan perjudian online, praktik predatory lending (pemberian pinjaman secara tidak adil, menipu, atau bersifat memaksa), serta kurangnya pengawasan terhadap aktivitas digital pemuda. Dampak eksploitasi tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan sosial individu. 

Riset ini dilaksanakan oleh tim lintas fakultas di Universitas Gadjah Mada, terdiri dari Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Teknik diwakilkan oleh Ir. Yun Prihantina Mulyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, Ir. Fitri Trapsilawati, S.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Ir. Ardiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM. Fakultas Psikologi diwakilkan oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. dan Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sementara itu, Fakultas MIPA diwakilkan oleh Arif Nurwidyantoro, S.Kom., M.Cs., Ph.D. Selain Indonesia, Ghana dan Ekuador menjadi mitra utama dalam proyek ini, yakni University of Ghana dan Universidad Técnica de Manabí yang masing-masing diwakilkan oleh Mahmood Brobbey Oppong dan Dr. Lucia Rivadeneira sebagai partner principal investigator. Proyek ini didanai melalui hibah dari u’GOOD The National Research Foundation (NRF), Afrika Selatan, dengan pembagian pendanaan sebesar 25 persen untuk Ekuador, 25 persen untuk Ghana, dan 50 persen untuk Indonesia.

Untuk mengisi celah kajian yang selama ini cenderung berfokus pada literasi digital semata, riset ini menghadirkan pendekatan yang bersifat inklusif dan holistik dengan mengintegrasikan subjek, cara berpikir, dan praktik kerja yang bersifat relasional ke dalam kerangka Relational Well-Being (RWB). Kerangka ini dirancang untuk memahami kesejahteraan dengan mempertimbangkan faktor personal, sosial, lingkungan, serta finansial. Riset ini juga menggunakan pendekatan mixed methods, meliputi survei, text mining, serta metode partisipatif yang melibatkan pemuda, pemerintah, dan sektor swasta. Selain itu, Agent-Based Modeling (ABM) dimanfaatkan untuk mensimulasikan cara berpikir, pola interaksi sosial, dan proses pengambilan keputusan oleh pemuda dalam lingkungan tertentu.

Melalui simulasi pada Agent-Based Modeling (ABM), peneliti dapat menguji kerangka Relational Well-Being (RWB) secara empiris sekaligus menilai efektivitas berbagai strategi intervensi dengan menerapkan kerangka Relational Well-Being (RWB) yang dikembangkan ke dalam model Agent-Based Modeling (ABM) untuk menggambarkan situasi nyata yang dihadapi pemuda. Melalui model ini, peneliti dapat melihat pengaruh perubahan pada satu faktor, seperti tekanan ekonomi atau lemahnya pengawasan pada tingkat kerentanan pemuda terhadap eksploitasi daring. Dengan pendekatan tersebut, riset ini tidak hanya menjelaskan kondisi yang ada, tetapi juga memprediksi kemungkinan dampak di masa depan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program intervensi yang sesuai serta memberikan kontribusi nyata dalam melindungi generasi muda dari eksploitasi ekonomi daring di era digital.

Dosen Fakultas Psikologi UGM Raih Prestasi Gemilang dalam Hibah EQUITY WCU 2025/2026 untuk Mengembangkan FIMF Scale

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali menerima kabar baik dari ranah hibah perguruan tinggi nasional. Tim yang diketuai oleh Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog, salah satu dosen Fakultas Psikologi, berhasil terpilih sebagai penerima EQUITY WCU 2025/2026. Hibah ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk memperkuat kapasitas serta kualitas riset, inovasi, dan daya saing perguruan tinggi nasional dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia.

Penelitian kolaboratif antara Fakultas Psikologi UGM bersama Center for Life-Span Development melibatkan Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Siti Afifa Choirunissah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A., Ni Nyoman Putri Pradnyandari, S.Psi., M.A., Carissa Azarine Delicia, S.Psi, Aliya Zahra Budiman, S.Psi, Alfia Rahma Permatasari, S.Psi, Adelya Shofa Anisa, S.Psi, I Marannu Andi Khalisha, S.Psi, Irrine Puspa Pertiwi, S.Psi, Muhammad Fathurrahman Al Rantisi sebagai anggota. Melalui dukungan hibah ini, peneliti berkesempatan untuk mengembangkan dan memvalidasi instrumen pengukuran “Skala Flourishing Indonesian Muslim Families” (FIMF Scale). Pengembangan ini dilakukan karena belum ada instrumen yang secara khusus mengukur flourishing pada keluarga Muslim Indonesia dengan mempertimbangkan konteks budaya dan agama. Dalam prosesnya, penelitian dilakukan di 11 wilayah di Indonesia yang terpilih secara acak oleh peneliti, yaitu Denpasar (Bali),  Jambi (Kota Jambi), Jawa Barat (Bandung), Jawa Timur (Surabaya), Kalimantan Timur (Berau), Kalimantan Utara (Tanjung Selor), Maluku Utara (Ternate), Nusa Tenggara Barat (Mataram), Sulwesi Selatan (Enrekang), Sumatera Selatan (Palembang), dan Sumatera Utara (Medan). Adapun pengembangan instrumen ini secara khusus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam memastikan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang melalui peningkatan kesejahteraan mental dan psikososial.

Fakultas Psikologi UGM mengucapkan selamat kepada Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si., Psikolog, dan tim atas pencapaian yang telah diraih. Pengalaman dan pengetahuan yang akan diperoleh diharapkan dapat menjadi landasan yang digunakan dalam konteks penelitian maupun intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga Muslim di Indonesia.

Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada senantiasa mencatat prestasi melalui perolehan hibah internasional. Salah satu capaian terbaru adalah keberhasilan meraih hibah dari UNICEF dengan jumlah pendanaan sebesar 49,965 USD. Tim penelitian ini terdiri dari beberapa akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. selaku dosen Fakultas Psikologi UGM, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Koordinator Center for Life-Span Development (CLSD), serta Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Research Associate di CLSD. Penelitian tersebut mengusung judul “Facilitating harmonisation and trialling of disability screening tools and associated teacher training tools”. 

Penelitian ini dilaksanakan melalui kolaborasi internasional bersama Dr. Alex Robinson dan Ms. Fleur Smith dari Nossal Institute of Public Health, University of Melbourne. Fokus utama dari riset ini adalah mengevaluasi pemahaman terhadap perangkat skrining serta kelayakan penerapannya oleh para pekerja garis depan. Kelompok sasaran tersebut meliputi guru, petugas Unit Layanan Disabilitas (ULD), serta tenaga kesehatan primer di Posyandu dan Puskesmas.

Perolehan hibah dari UNICEF ini menjadi bukti nyata dari komitmen Fakultas Psikologi UGM dalam mendorong pengembangan pendidikan dan layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Pendanaan riset internasional ini juga memperkuat upaya penerapan pendekatan berbasis bukti (evidence-based practice) dalam pengembangan kebijakan dan intervensi. Melalui kolaborasi internasional, penelitian ini diharapkan untuk mempererat kapasitas para tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Indonesia dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Fakultas Psikologi UGM memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Elga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D, Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Denia Farahdian, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dr. Alex Robinson, dan Ms. Fleur Smith atas pencapaian ini. Keberhasilan ini menunjukkan dedikasi Fakultas Psikologi UGM dalam berkontribusi pada isu-isu di tingkat nasional maupun internasional. Hasil penelitian ini diharapkan membawa dampak positif dalam penyusunan kebijakan serta praktik pendidikan inklusif, baik di lingkungan fakultas maupun pada skala nasional.

Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Selasa, 25 Oktober 2025, CLSD sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi”. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga 16.30 WIB. Adapun acara ini diikuti oleh 111 peserta yang merupakan orang tua mahasiswa.

Webinar ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dalam menjaga keharmonisan hubungan secara psikologis dengan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Acara ini dikemas dalam bentuk talk show inspiratif dan interaktif. Acara diawali dengan pemberian sambutan oleh Ibu Aisha Sekar Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai Kepala CLSD sekaligus moderator acara. Kemudian, Bapak Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM turut serta menyampaikan sambutannya. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan talk show dengan kedua pembicara, yaitu Ibu Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D, dosen Fakultas Psikologi UGM, bersama Ibu Alissa Wahid sebagai psikolog keluarga.

Selama berlangsungnya talk show, peserta berkesempatan untuk menelisik lebih jauh pengalaman kedua pembicara dalam membangun hubungan yang sehat secara psikologis dengan anak yang berada di perantauan. Ibu Elga menegaskan bahwa mengatur jarak komunikasi dan jarak emosional penting dilakukan oleh orang tua sehingga kemampuan anak dalam menghadapi masa pendewasaan selama merantau dapat lebih terasah. Adapun membangun jarak yang sehat dengan anak tentu tidak lepas dari tantangan yang muncul. Dalam hal ini, Ibu Alissa turut menceritakan tantangan yang dialaminya dalam menghadapi peralihan kehidupan anak ke masa perantauan. “Tantangan bagi banyak orang tua adalah harapannya anak mau cerita, harapannya kita selalu tahu apa yang terjadi pada anak, kemungkinan tidak akan mudah, tidak akan terpenuhi seperti gambaran kita …” ujar Ibu Alissa Wahid. Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya penyesuaian komunikasi dengan karakter anak dalam menghadapi tantangan tersebut.

Pengalaman yang dibagikan oleh kedua pembicara sontak menggugah rasa penasaran peserta saat sesi tanya jawab. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan didasarkan pada pengalaman pribadi peserta dalam menghadapi proses transisi hubungan antara orang tua dan anak selama masa perkuliahan di perantauan. Melalui sesi tanya jawab, pemahaman dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak di perantauan terbentuk dengan lebih mendalam. 

Webinar “Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi” merupakan wadah untuk berbagi informasi dalam meningkatkan kesadaran dan memupuk pemahaman orang tua terkait proses adaptasi dan transisi relasi antara orang tua dan anak yang menempuh perkuliahan di perantauan. Melalui webinar ini, harapannya peserta dapat memahami dan menerapkan ilmu yang diberikan dalam membangun hubungan yang sehat dan bermakna dengan anak ke depannya.

CLSD Onboarding in Wonderland: Memulai Perjalanan Internship dengan Semangat dan Kreativitas

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Wednesday, 31 December 2025

Pada Jumat, 12 September 2025, Center for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan onboarding interns dengan tema “CLSD Onboarding in Wonderland” yang dilaksanakan di ruang K-203 Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Acara ini dihadiri oleh 45 peserta, terdiri dari para interns,  koordinator divisi, koordinator unit, peneliti, serta asisten CLSD. “CLSD Onboarding in Wonderland” dilaksanakan sebagai langkah awal para interns CLSD untuk mengenal lebih dalam visi, misi, serta dinamika kerja di CLSD.

Rangkaian acara dibuka oleh I Marannu Andi Khalisha, S.Psi selaku asisten CLSD sebagai master of ceremony. Selanjutnya, sesi pengenalan CLSD disampaikan oleh Ibu Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Koordinator CLSD, yang memberikan gambaran umum mengenai struktur keanggotaan, hak dan kewajiban interns, serta pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui program-program di CLSD. Pada sesi ini, para koordinator divisi juga memberikan penjelasan mengenai penugasan di divisi piket serta pengenalan interns yang tergabung di tiap divisi. 

Memasuki materi inti, Rahmita Laily Muhtadini, S.Psi., selaku koordinator Divisi E: Pengembangan Intern memaparkan materi “Day to Day as Intern” yang membahas aktivitas harian para interns selama terlibat di berbagai program dan aktivitas di CLSD. Pemaparan ini kemudian dilengkapi dengan pengenalan sejumlah program CLSD yang sedang berjalan, dengan tujuan memberikan gambaran kepada para intern mengenai berbagai program yang dapat mereka ikuti ke depannya. Pengenalan program disampaikan oleh Debrinna Tryanan Asmaradhani, S.Psi., M.A. serta Siti Afifa Choirunissah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku asisten CLSD. Rangkaian materi ditutup oleh Ibu Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Ph.D., Psikolog, selaku peneliti CLSD, yang menyampaikan materi mengenai value dan work ethics serta menekankan pentingnya menjunjung dan menerapkan CLSD values, meliputi nilai saling menghormati, profesionalisme, keadilan dan kesetaraan, kepedulian, sikap terbuka untuk berkompromi, komunikasi yang efektif, inisiatif, serta berpikir secara terbuka.

Acara ini juga menghadirkan sesi ice breaking sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan antarpeserta. Kebersamaan tersebut juga diperkuat melalui sharing session dari masing-masing divisi untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai fungsi dan aktivitas tiap divisi di CLSD. Selanjutnya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi awarding Kompetisi Buku Cerita Anak CLSD 2025, yaitu ajang yang diselenggarakan oleh CLSD untuk mendorong lahirnya karya cerita anak yang kreatif, imajinatif, dan bermakna, sekaligus dapat menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap literasi pada anak-anak Indonesia sejak usia dini. Dalam kompetisi ini, dipilih enam karya terbaik sebagai pemenang, yakni Debrinna Tryanan Asmaradhani, Regia Zahra Humaira, Khalishah Aulia Izzati, Rahmita Laily Muhtadini, Anindya Reva Tabina, Irrine Puspa Pertiwi. Acara ditutup dengan awarding untuk dresscode terbaik yang dikenakan peserta “CLSD Onboarding in Wonderland”.

Acara ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan onboarding ini diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi para interns untuk berkontribusi secara optimal dan berproses secara profesional selama menjalani program internship di CLSD. Melalui rangkaian kegiatan yang interaktif dan inspiratif, para interns tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang visi, misi, serta nilai-nilai CLSD, tetapi juga membangun ikatan kebersamaan yang kuat antaranggota.

International Course on Public Mental Health 2025 – Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools

ArtikelArtikelArtikel Liputan Kegiatan Monday, 29 December 2025

Registration poster for the International Course on Public Mental Health 2025

In collaboration of the Center for Public Mental Health (CPMH) and the Center for Life-Span Development (CLSD) of the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada, an International Course on Public Mental Health is organised this year. This means that this is the third time CLSD has organised an international course, with the first being held in 2021. In these international courses, excellent lecturers worldwide are invited to bring a lecture, with this year inviting professionals from Universiti Malaya, UNICEF Indonesia, University of Queensland, University of Melbourne, Marmara Üniversitesi, and many more. Taking place online from Monday to Friday, October 27th–31st 2025, the International Course for Public Mental Health 2025 holds the theme, “Bridging Generations: Thriving Youth, Supportive Families, Collaborative Schools”.

This international course aims to bring together insights and strategies to empower families for them to thrive amidst these challenges, fostering resilience, balance, and stronger intergenerational connections for healthier, more supportive societies. Using existing research, evidence-based practices, and real-world practical applications, this course provides a platform for participants to explore various approaches in fostering mental health across generations and contexts, which is connected to fulfilling the Sustainable Development Goals (SDGs), such as Good Health and Wellbeing (3) and Quality Education (4). All of the courses were conducted in English and closed captioning was provided.

Day 2, brought by Tanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. from UNICEF Indonesia, on Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental Health

For this year’s course, we invited 6 international speakers and 6 national speakers from various backgrounds and fields of expertise from all over the world, such as Australia, Malaysia, Turkey, the United Kingdom, and the United States of America. Attended by students, researchers, educators, professionals, and parents alike from 3 different countries, this course started with an opening event brought by 2 of our speakers, Prof. Dr. Süleyman Derin and Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog on October 23rd on Living Room Talks: Diana & Derin, with the topic of “Supportive Family for Youth Mental Health Development”.

“Family is a very strategic place to produce good citizens, good characters, good workers, and good assets for society. But family also only functions well if the society or the nation also helps them too. These two things need to go hand in hand, we can’t leave families alone to carry the burden, it is our collective responsibility to make an enabler factor for the families to function well.” said Mrs. Diana Setiyawati, MHSc., Ph.D., Psikolog, the speaker at our opening event and a lecturer at the Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada.

This course consisted of nine different topics, with each topic commemorating the role of parents, families, educators, communities, schools, inclusive education, advocacy, mental health, and wellbeing for all in strengthening healthier, more resilient families and thriving future generations in this changing world.

DateTime (GMT +7)AgendaSpeakers
Monday, 27 October 202513:00–14:30Parenting Adolescents in a Changing WorldProf. Dr. Fonny Dameaty Hutagalung
Tuesday, 28 October 202516:00–17:30Strengthening Community-Based Support Systems for Youth Mental HealthTanti Kosmiyati Kostaman S. Psi, M.Sc. UNICEF
Wednesday, 29 October 202513:00–14:30Designing Mental Health–Friendly School SystemsHolly Erskine
15:30–17:00Family Interventions for Mental Health PromotionProf. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si
Thursday, 30 October 202512:30–14:00Digital Well-being and Family-School CollaborationTeodora Pavkovic, M.Sc., Clin.Psy.
15:30–17:00Experiences of Youth with DisabilitiesElga Andriana, S.Psi., M.Ed., Ph.D. and Christopher Florensco Raditya Setadewa
20:00–21:30Positive Discipline For EducatorsJoy Marchese
Friday, 31 October 202510:00–11:30Trauma-Informed Approaches in Schools and Families: Care, Connect, CollaborateDr. Annie Gowing
13:00–14:30Families at the Peak of Career Demands: Balancing Work and CareFuad Hamsyah, S.Psi., M.Sc., Ph.D

Day 3, Session 1, brought by Holly Erskine from The University of Queensland, Australia, on Designing Mental Health–Friendly School Systems.

With that, the International Course on Public Mental Health, held from 27–31 October 2025, with a total of 9 sessions, uniting 12 speakers from 7 countries, and 37 participants from 3 countries has come to an end. The organising committee of the International Course on Public Mental Health 2025 expresses our utmost gratitude to the speakers for sharing their valuable knowledge and insights in fostering healthier intergenerational connections among youth, families, communities, and schools. We are also extremely grateful to all participants for their active participation and contributions during this international course. We look forward to welcoming you at our upcoming events in the future!

“Let’s all be people who demystify and help build understanding,” Dr. Annie Gowing

Kolaborasi Antar Pihak untuk Menyelamatkan Hak Anak: Putus Rantai Perkawinan Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 19 November 2025

Oleh: Rahmita Laily Muhtadini | Penyunting: Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi, M.A

Perkawinan anak merupakan salah satu isu serius negara Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih.  Sebab, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbesar mencapai 25,53 juta jiwa (UNICEF, 2023). Berdasarkan data Kemen PPPA (2021) jumlah perempuan indonesia yang menikah sebelum berusia 18 tahun mencapai 10,35%. Artinya, 1 dari 10 perempuan di Indonesia pernah melakukan perkawinan anak. Tingginya angka perkawinan anak ini, menjadi isu yang perlu untuk disorot dan diselesaikan.

Berbagai risiko tinggi dari perkawinan anak dapat mengancam kesehatan, keselamatan, masa depan, dan hak hidup anak. Perkawinan anak dapat meningkatkan kehamilan berisiko tinggi, kelahiran prematur, keguguran, pendarahan hingga kematian pada ibu (Puspasari & Pawitaningtyas, 2020). Selain itu, perkawinan anak akan membuat kesempatan anak melanjutkan pendidikan menjadi terhenti, kehilangan kesempatan bekerja, meningkatkan resiko perceraian dan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta memunculkan kemungkinan hidup di bawah garis kemiskinan (Kemen PPPA, 2021).

Melihat tingginya kasus perkawinan anak di Indonesia dan risiko buruk yang harus dihadapi, maka perlu adanya langkah dan kerja sama berbagai pihak untuk memutus rantai perkawinan anak. Mewujudkan kehidupan anak yang terbebas dari bayangan perkawinan anak, tidak dapat dilakukan hanya dengan berpusat pada pemerintah saja. Namun juga, membutuhkan kolaborasi antar pihak dan seluruh elemen dari lapisan masyarakat. Kolaborasi bisa dilakukan mulai dari orang tua, tokoh masyarakat, pihak sekolah, masyarakat sipil, serta para ahli.

Orang tua berperan penting dalam peningkatan kasus perkawinan anak karena  mereka yang menjadi penentu utama arah kehidupan anak di masa depan. Beberapa motivasi orang tua yang mendasari keputusan menikahkan anak di bawah umur antara lain: adanya kesalah pola pikir yang menganggap menikahkan anak akan membuat mereka terhindar dari pergaulan dan seks bebas, adanya ketakutan orang tua jika anak mendapatkan  label ‘tidak laku’ maupun ‘perawan tua’ karena belum menikah, dan orang tua memutuskan menikahkan anak jika terjadi kehamilan di luar nikah (Syalis & Nurwati, 2020; Desiyanto, Fajar, & Risqi, 2022;  Taher, 2022). Selain itu, terdapat orang tua yang menganggap menikahkan anak sedini mungkin, akan membebaskan mereka dari beban tanggung jawab membesarkan dan membiayai anak (Chae & Ngo, 2017). Pemikiran-pemikiran orang tua yang salah, serta adanya pengaruh budaya di lingkungan sekitar anak, akan memperbesar kemungkinan terjadinya keputusan perkawinan dini (Kemen PPPA, 2021).

Orang tua perlu bijaksana untuk tidak menikahkan anak di usia dini. Mencegah hal tersebut, orang tua perlu mendapatkan dan memberikan edukasi tentang bahaya dan risiko melakukan perkawinan anak, serta edukasi kesehatan reproduksi yang dianggap selama ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan porno oleh budaya setempat (Taher, 2022). Pemberian edukasi ini, sangat diperlukan agar orang tua dapat menjadi tameng bagi anak, serta memberikan kesadaran pada anak untuk mempertimbangkan sendiri risiko negatif dari pernikahan dini.

Selain itu, keberadaan tokoh masyarakat sangat penting dalam mencegah perkawinan anak. Penelitian Mauludi (2023) menemukan para tokoh masyarakat ini dapat memberikan penjelasan tentang syarat-syarat pernikahan menurut agama, serta memberikan edukasi pentingnya mematuhi aturan hukum perkawinan di Indonesia. Tokoh masyarakat juga dapat memberikan pemahaman kepada anak mengutamakan pendidikan dan melakukan pengembangan diri sebelum menikah.

Pihak sekolah juga berkontribusi membentuk cara pikir anak dalam memandang pentingnya meraih pendidikan. Sebagai institusi yang menjadi rumah kedua bagi anak, sekolah perlu memberikan fasilitas agar anak bisa melakukan pengembangan diri, memberikan edukasi kesehatan reproduksi, dan membekali anak dengan hard skill dan soft skill, sehingga anak bisa berdaya dalam menentukan masa depannya. Sekolah juga dapat memberikan pemahaman, agar anak berusaha menyelesaikan pendidikannya, karena pemahaman yang salah meningkatkan kemungkinan anak melakukan perilaku berisiko dan pernikahan dini (Rosyidah & Fajriyah, 2013).

Selanjutnya, masyarakat sekitar perlu untuk mendorong anak agar bisa memaksimalkan potensinya, mencegah anak masuk ke dalam lingkungan yang buruk, dan mematahkan stigma negatif ketika anak tidak segera tentang  pernikahan. Sebab, anak dan remaja selalu hidup berdampingan dengan sistem di sekitarnya, seperti: keluarga, tetangga, sekolah, komunitas, dan juga negara (McWhirter et al, 2017). Apabila lingkungan terdekat anak memegang nilai-nilai yang salah tentang perkawinan, maka segala usaha untuk mencegah perkawinan anak akan sia-sia.

Namun, apabila perkawinan anak telah terjadi, maka perlu memberikan penangan yang sifatnya memperbaiki atau mengembalikan situasi menjadi lebih baik. Ugboha dan Namo (2019) menemukan bahwa pusat konseling, rehabilitasi, dan pelayanan pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu korban perkawinan anak bisa pulih dan belajar menjalani kehidupan bersama masyarakat. Para konselor juga dapat melakukan konseling keluarga untuk memberikan dukungan emosional, mengatasi keluarga yang disharmoni, meminimalisir KDRT, serta mengurangi bercerai pada kasus perkawinan nak (Rohman & Annajih, 2021).

Menyelamatkan hak hidup anak dari perkawinan di usia dini harus dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi ini dibutuhkan agar membentuk lingkungan yang mendukung anak mendapatkan hak-haknya dan memfasilitasi anak agar dapat memaksimalkan potensi dirinya. Sehingga, anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, menjadi generasi penerus bangsa yang bebas dari bayang-bayang perkawinan anak. Sebab, setiap anak memiliki hak untuk bisa menggapai impian dan membuat masa depannya cerah, tanpa harus direnggut kebebasannya dengan menikah sebelum menginjak usia yang matang.

Referensi

Chae, S., & Ngo, T. (2017). The global state of evidence on interventions to prevent child marriage. GIRL Center Research Brief no. 1. New York: Population Council. https://knowledgecommons.popcouncil.org/cgi/viewcontent.cgi?article=1540&context=departments_sbsr-pgy 

Desiyanto, J., Fajar, A., & Risqi, R. (2022). Pendidikan Orang Tua terhadap Pernikahan Dini Akibat Pemalsuan Umur. Progressive of Cognitive and Ability, 1(2), 167-175.https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.41 

Mauludi, S. (2023). Pendidikan Agama sebagai prevensi pernikahan dini: analisis terhadap pemahaman dan praktik agama dalam mengatasi fenomena pernikahan dini di Pekanbaru. Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, Dan Humaniora, 2(1), 13-22. https://doi.org/10.56113/takuana.v2i1.69

McWhirter, J. J., McWhirter, B. T., McWhirter, A. M., & McWhirter, E. H. (1994). High and low-risk characteristics of youth : The five Cs of competency. Elementary School Guidance & Counseling, 28(3), 188-196. https://www.jstor.org/stable/42869153 

Kemen PPPA. (2021). Profil anak indonesia 2018. Jakarta: KPPA. https://dispppa.lampungtengahkab.go.id/upload/dokumen/8ebef-profil-anak-indonesia-2019.pdf 

Puspasari, H. W., & Pawitaningtyas, I. (2020). Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Pada Pernikahan Usia Dini Di Beberapa Etnis Indonesia: Dampak Dan Pencegahannya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 23(4), 275-283. https://doi.org/10.22435/hsr.v23i4.3672  

Rosyidah, I., & Fajriyah, I. M. D. (2013). Menebar Upaya, Mengakhiri Kelanggengan: Problematika Perkawinan Anak di Nusa Tenggara Barat. Harmoni, 12(2), 59-71. https://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/175/149

Syalis, E. R., & Nurwati, N. N. (2020). Analisis dampak pernikahan dini terhadap psikologis remaja. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 3(1), 29-39. https://doi.org/10.24198/focus.v3i1.28192 

Taher, S. L. (2022). Hubungan Antara Budaya, Pengetahuan dan Sosial Ekonomi Dengan Pernikahan Dini. Indonesia. Journal of Midwifery Sciences, 1(3), 100-110. https://doi.org/10.53801/ijms.v1i3.46Ugboha, G. O., & Namo, I. S. (2019). Effect of Early Marriage on Girl-Child’s Further Education in Okpokwu Local Government Area, Nigeria: Implications for Counseling. KIU Journal of Humanities, 4(1), 65-72. https://ijhumas.com/ojs/index.php/niuhums/article/view/461

Mengasah Pengendalian Diri: Sebuah Cara Untuk Hidup Lebih Sehat dan Sejahtera di Usia Dewasa Awal

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 29 October 2025

Oleh: Muhammad Nurrifqi Fuadi | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.

Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi digital terutama internet dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengatur kehidupan sehari-hari. Berbagai platform digital dan perangkat canggih telah menawarkan akses yang lebih luas sehingga kebermanfaatannya bisa dirasakan dengan baik. Namun, di tengah manfaat yang dirasakan, individu di usia dewasa awal yang sedang mencari identitas dan membangun karier menghadapi tantangan baru yaitu sulitnya memiliki pengendalian diri dengan baik (Sheppard dkk., 2020). Self-control atau pengendalian diri menjadi semakin penting khususnya dalam konteks dewasa awal karena kemajuan digital seringkali memperkenalkan godaan dan gangguan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu. Pengembangan kemampuan pengendalian diri perlu dilakukan agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan potensi dampak negatifnya dapat diminimalkan.

Terdapat beberapa dampak negatif penggunakan teknologi pada individu, khususnya di usia dewasa awal. Penelitian menunjukan bahwa peningkatan penggunaan perangkat digital berdampak pada kesehatan mental dengan meningkatkan resiko kecemasan, depresi, dan rendahnya harga diri (Ramadani, 2024). Fasilitas berupa internet dan media sosial membuat individu terjebak pada aktivitas seperti perilaku bermalas-malasan dengan mengakses internet (cyberloafing) di tempat kerja atau di ruang kelas (Duhita & Daellenbach, 2016); munculnya perasaan FoMO (Przybylski dkk., 2013); adiksi penggunaan media sosial (Andreassen dkk., 2017); kelelahan akibat bermedia sosial (Zhang dkk., 2021); perilaku membeli secara impulsif (Verplanken & Sato, 2011); adiksi judi online (Mcquade & Gill, 2012); dan masih banyak lagi. 

Pengendalian diri sangat berperan penting untuk menghadapi berbagai tantangan dan gangguan tersebut. Pentingnya melakukan pengendalian diri terletak pada kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan jangka pendek demi mencapai tujuan jangka panjang. Hal ini sesuai dengan definisi pengendalian diri yang dimaknai sebagai “the ability to subdue immediate desires to achieve long-term goals” (Aronson dkk., 2019). Penelitian longitudinal yang dilakukan Walter Mischel (dalam Lange dkk., 2012) menemukan bahwa partisipan yang memiliki kemampuan pengendalian diri untuk menunda kepuasan (delay gratification) menunjukan kehidupan yang lebih terarah dan sejahtera di masa depan. Hal ini ditunjukkan dengan fungsi kognitif dan sosial yang lebih baik, pendidikan dan kehidupan ekonomi yang lebih baik, tidak rentan mengalami permasalahan kesehatan mental hingga kemungkinan kecil mengalami self-esteem dan self-worth rendah.

Meskipun demikian, pengendalian diri merupakan perilaku yang tidak mudah untuk dicapai.  Menurut Branscombe dan Baron (2023), saat melakukan pengendalian diri, individu sering kali merasa kelelahan sehingga membuat perilaku pengendalian diri berikutnya terasa lebih sulit dan berat. Kondisi ini terjadi karena ego depletion, yaitu penurunan kemampuan pengendalian diri yang dialami oleh individu setelah usaha keras yang telah dilakukan untuk pengendalian diri sebelumnya. Akibatnya, individu cenderung merespons dan bertindak dengan cara yang sama, meskipun menerima pesan persuasif dengan argumen yang kuat maupun lemah. Padahal, idealnya, individu seharusnya dapat mengendalikan diri, memilih pesan persuasif yang memiliki argumen kuat, dan mengabaikan pesan dengan argumen yang lemah.

Lalu apakah pengendalian diri itu bisa dibentuk. Bagaimana proses pembentukan pengendalian diri. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar memiliki pengendalian diri yang baik menurut Branscombe dan Baron (2023): 

  1. Melakukan pelatihan pengaturan diri. Latihan dilakukan dengan meredam godaan dan mempertahankan perilaku penundaan secara adaptif hingga menjadi perilaku yang otomatis dan refleks. 
  2. Jangan lupa berikan jeda waktu untuk istirahat antara tugas pengendalian diri yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya ego depletion.
  3. Pikirkan secara abstrak tujuan yang ingin kita capai. Hal ini membantu untuk mengingat kembali rencana yang sudah kita buat dan menghindari melakukan apa yang tidak direncanakan.

Pembentukan pengendalian diri yang telah dijelaskan sebelumnya memberikan gambaran umum yang perlu diikuti dengan perilaku dan teknik yang lebih spesifik, sesuai dengan fase kehidupan individu. Setiap individu menghadapi tantangan yang berbeda, tergantung pada tugas dan fungsi perkembangannya. Satu hal yang menjadi perhatian bersama adalah kemajuan digital sering kali disertai dengan berbagai gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penerapan pengendalian diri diperlukan di tengah tantangan perkembangan digital sehingga kita dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih terarah, sehat, dan produktif. Langkah ini penting agar kita tidak hanya menghindari godaan, tetapi juga dapat mencapai tujuan dan kesejahteraan yang kita inginkan.

Referensi

Andreassen, C. S., Pallesen, S., & Griffiths, M. D. (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. Addictive Behaviors, 64, 287–293. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006

Aronson, E., Wilson, T. D., & Sommers, S. R. (2019). Social psychology (Tenth Edition). Pearson.

Branscombe, N. R., & Baron, R. A. (2023). Social psychology (Fifteenth Global). Pearson.

Duhita, S., & Daellenbach, U. (2016). “Is loafing at work necessarily detrimental? a study of loafing, job productivity and satisfaction.” Academy of Management Proceedings, 2016(1), 15471. https://doi.org/10.5465/ambpp.2016.15471abstract

Lange, P. A. M. Van, Kruglanski, A. W., & Higgins, E. T. (2012). Handbook of theories of social psychology (Vol. 2). SAGE Publications.

Mcquade, A., & Gill, P. (2012). The role of loneliness and self-control in predicting problem gambling behaviour. Gambling Research: Journal of the National Association for Gambling Studies (Australia)., 24 (1) Gambling Research, 24(1), 18–30. https://vuir.vu.edu.au/30358/

Przybylski, A. K., Murayama, K., Dehaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Ramadani, Refik. (2024). The impact of technology use on young people: A case study of social media and internet usage. Asian Journal of Research in Computer Science 17 (8):13-23. https://doi.org/10.9734/ajrcos/2024/v17i7486.

Sheppard, S., Hood, M., & Creed, P. A. (2020). An identity control theory approach to managing career identity in emerging adults. Emerging Adulthood, 8(5), 361-366. https://doi.org/10.1177/2167696819830484

Verplanken, B., & Sato, A. (2011). The psychology of impulse buying: An integrative self-regulation approach. Journal of Consumer Policy, 34(2), 197–210. https://doi.org/10.1007/s10603-011-9158-5Zhang, S., Shen, Y., Xin, T., Sun, H., Wang, Y., Zhang, X., & Ren, S. (2021). The development and validation of a social media fatigue scale: From a cognitive behavioral- emotional perspective. In PLoS ONE (Vol. 16, Issue 1 January). Public Library of Science. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0245464

Sedang Mengalami Life Crisis? Yuk, Terapkan Strategi Ini!

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 8 September 2025

Oleh: Muhammad Iqbal Fakhrul Firdaus | Penyunting: Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Setiap tahap kehidupan membawa krisis atau tantangan yang khas, yang sering disebut sebagai life crisis. Krisis tersebut bukan sekadar hambatan, tetapi bagian penting dalam perkembangan untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan sosial. Mulai dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut, setiap tahap membutuhkan strategi tertentu agar individu mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna.

Pada masa kanak-kanak, krisis utama yang dihadapi adalah pengembangan rasa trust (kepercayaan) versus mistrust (ketidakpercayaan), seperti yang dikemukakan Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya. Pengasuhan yang penuh kasih membentuk rasa percaya terhadap dunia sekitar. Sebaliknya, pengasuhan yang tidak konsisten dapat menimbulkan ketidakpercayaan yang mempengaruhi hubungan sosial anak di masa depan (Khairani & Maemonah, 2021).

Masa remaja merupakan tahap yang sarat dengan eksplorasi identitas diri, dengan krisis yang dikenal sebagai identity vs role confusion (identitas vs kebingungan peran). Remaja mencari nilai, minat, dan tujuan hidup yang sesuai dengan jati diri mereka. Tantangan dalam tahap tersebut seringkali melibatkan tekanan dari keluarga, teman, dan masyarakat yang mengharuskan mereka menentukan arah hidup. Dukungan dari orang tua dan lingkungan, seperti pengasuhan fleksibel dan suportif sangat penting agar remaja dapat bereksplorasi dengan aman serta menemukan identitas yang stabil (Rageliene, 2016). Para pendidik juga memiliki peran besar dalam memfasilitasi pemahaman akan berbagai pilihan hidup, memberikan ruang untuk diskusi terbuka, dan mendukung minat remaja agar mereka tidak terjebak dalam kebingungan identitas yang berkepanjangan (Sadowski, 2021).

Memasuki masa dewasa awal, krisis yang dihadapi adalah intimacy vs isolation (keintiman vs isolasi), di mana individu berusaha membangun hubungan dekat yang bermakna. Ketakutan akan kegagalan dalam hubungan dapat menyebabkan kesepian. Oleh sebab itu, pengembangan keterampilan komunikasi yang efektif menjadi penting agar individu dapat mengekspresikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan jelas (Rosenberg & Chopra, 2015). Komunikasi yang baik mencakup mendengarkan secara aktif dan berbicara dengan asertif. Selain itu, keterampilan mengelola batas dalam hubungan seperti kemampuan untuk berkata “tidak” ketika dibutuhkan membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kepentingan orang lain. Keterlibatan dalam komunitas suportif juga dapat memberikan jaringan sosial yang penting dan meningkatkan kepercayaan diri individu dalam berinteraksi dengan orang lain (Baldwin, 2015).

Masa paruh baya atau seringkali dikenal sebagai masa untuk berkontribusi atau generativity ditandai dengan kebutuhan untuk merasa produktif melalui peran seperti mentor, pengasuhan, atau kegiatan sosial. Apabila gagal mencapai perasaan produktif tersebut, seseorang dapat mengalami stagnation atau perasaan mandek. Strategi untuk menghadapi krisis tersebut adalah dengan mencari dan mengejar kegiatan bermakna, baik di tempat kerja maupun kehidupan pribadi. Berkontribusi pada masyarakat melalui peran-peran tersebut dapat meningkatkan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologis individu (Klein et al., 2016).

Pada usia lanjut, krisis yang muncul adalah integrity vs despair (integritas vs keputusasaan), yang melibatkan refleksi atas kehidupan. Individu yang merasa telah menjalani hidup dengan bermakna cenderung mencapai rasa integritas, sedangkan mereka yang menyesali hidupnya akan mengalami keputusasaan. Untuk menghadapi krisis tersebut, penting bagi lansia untuk melakukan refleksi mendalam atas pencapaian dan kegagalan, serta menerima apa yang telah mereka lalui. Menjaga hubungan sosial yang positif, tetap aktif dalam kegiatan yang bermakna, dan mengembangkan hobi juga berperan dalam menjaga kesejahteraan di usia lanjut (Rhoades, 2018).

Krisis kehidupan seringkali dianggap sebagai saat-saat sulit, namun sebenarnya dapat menjadi momen penting bagi pertumbuhan diri. Setiap tahap perkembangan menuntut individu untuk menghadapi tantangan tertentu yang apabila berhasil dilalui dapat membawa kematangan emosional dan psikologis yang lebih mendalam. Pemahaman yang baik tentang krisis yang khas di setiap tahap kehidupan dapat membantu individu dan lingkungan sekitar untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Sebagai contoh, pemahaman orang tua tentang krisis identitas remaja memungkinkan mereka untuk memberikan ruang dan bimbingan yang dibutuhkan, sehingga remaja dapat mengeksplorasi identitasnya tanpa tekanan yang berlebihan (Layland et al., 2018).

Lebih jauh lagi, lingkungan sosial yang sehat dan suportif memainkan peran penting dalam membantu individu mengatasi krisis kehidupan. Lingkungan yang inklusif, penuh empati, dan terbuka akan memfasilitasi proses penemuan jati diri serta mendorong pencapaian tujuan hidup yang bermakna. Dengan adanya dukungan dari orang-orang di sekitar seperti keluarga, teman, dan komunitas, individu dapat merasakan kebersamaan yang memperkuat mental serta emosional mereka. Pada akhirnya, dengan strategi dan dukungan yang tepat, krisis yang dihadapi bukan hanya menjadi beban, tetapi peluang untuk tumbuh dan menemukan makna dalam setiap tahapan hidup.

Secara keseluruhan, krisis kehidupan di setiap tahap perkembangan merupakan bagian alami dari perjalanan hidup yang menawarkan kesempatan untuk tumbuh. Meskipun terasa berat, krisis tersebut memungkinkan individu mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan sehat. Dengan dukungan sosial, refleksi diri, dan keterlibatan dalam kegiatan positif, individu dapat mengatasi berbagai tantangan di tiap tahap kehidupan.

Referensi

Baldwin, G. (2015). Volunteer engagement 2.0: Ideas and insights changing the world. John Wiley & Sons.

Layland, E. K., Hill, B. J., & Nelson, L. J. (2018). Freedom to explore the self: How emerging adults use leisure to develop identity. The Journal of Positive Psychology, 13(1), 78-91.

Khairani, & Maemonah. (2021). The nature of psychosocial development in early childhood according to Erik Erikson’s view. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 5(2), 151–161.

Klein, C., Keller, B., Silver, C. F., Hood, R. W., & Streib, H. (2016). Positive adult development and “spirituality”: Psychological well-being, generativity, and emotional stability. In Semantics and psychology of spirituality: A cross-cultural analysis (pp. 401–436). Springer.

Locher, M. A. (2015). “After all, the last thing I wanted to be was rude”: Raising of pragmatic awareness through reflective writing. De Gruyter.

Rageliene, T. (2016). Links of adolescents identity development and relationship with peers: A systematic literature review. Journal of the Canadian Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 25(2), 97.

Rhoades, R. A. (2018). Aging well: Staying younger, smarter, and fit. First Edition Design Publisher.

Rosenberg, M. B., & Chopra, D. (2015). Nonviolent communication: A language of life: Life-changing tools for healthy relationships. PuddleDancer Press.Sadowski, M. (2021). Adolescents at school: Perspectives on youth, identity, and education. Harvard Education Press.

“Mencari Bantuan Bukan Berarti Lemah”: Pentingnya Help-Seeking Behavior pada Masa Remaja

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 4 August 2025

Oleh: Ni Nyoman Putri Pradnyandari | Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron, S.Psi., M.A.

Masa remaja menjadi periode yang cukup menantang mengingat adanya perubahan di berbagai domain perkembangan, yaitu fisik, emosi, dan sosial (Santrock, 2020). Perubahan fisik dan hormon sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan bagi remaja. Perubahan emosi yang intens juga menjadi penanda khas dari periode ini. Selain itu, remaja banyak melakukan eksplorasi identitas diri dan ingin menjadi bagian dari suatu kelompok. Remaja akan lebih sering menghabiskan waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan orang tua. Bagi remaja, penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya adalah sumber penting dari rasa harga diri dan keterikatan sosial, yang erat kaitannya dengan perkembangan psikologis yang sehat (Lin & Guo, 2024).

Perubahan yang kompleks terkadang dapat menimbulkan permasalahan pada kehidupan remaja. Permasalahan yang kerap muncul, yaitu masalah akademik, penilaian diri negatif akibat perbandingan sosial, kebingungan identitas, kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial, masalah hubungan interpersonal seperti konflik dengan orang tua, penolakan dan pengucilan teman sebaya (Lin & Guo, 2024). Remaja yang kurang mampu mengatasi masalah secara efektif cenderung berisiko mengalami masalah kesehatan mental (Sulistiowati dkk., 2022).

Masa remaja menjadi periode kritis untuk timbulnya masalah kesehatan mental. Gangguan emosi seperti depresi dan kecemasan adalah masalah yang paling umum terjadi di kalangan remaja (Merikangas dkk., 2010). Menurut World Health Organization (2021), satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental. Hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental (Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health, 2022). Masalah kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak mengingat pengaruhnya yang besar terhadap kesejahteraan hidup.

Masalah kesehatan mental yang terjadi di kalangan remaja dapat disebabkan oleh rendahnya kesadaran remaja untuk mencari bantuan (Syakarofath & Widyasari, 2023). Sebagian remaja masih merasa enggan mencari bantuan saat mereka kesulitan mengatasi masalah dan merasakan ketidaknyamanan. Remaja lebih memilih memendam perasaan dan masalahnya sendiri daripada bercerita kepada orang lain karena takut dianggap lemah dan dijauhi. Remaja sering kali melakukan penundaan yang cukup lama untuk mencari bantuan.

Menurut Ogden (2023), perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) dalam konteks kesehatan adalah tindakan seseorang untuk mendapatkan bantuan eksternal dalam menangani masalah kesehatan yang dialami. Ajzen (1991) mengemukakan tentang theory of planned behavior yang menjelaskan proses munculnya suatu perilaku. Teori tersebut menunjukkan bahwa help-seeking behavior tidak muncul secara spontan, tetapi didahului oleh proses kognitif. Proses kognitif ini meliputi keyakinan seseorang terhadap konsekuensi dari perilaku mencari bantuan apakah bermanfaat atau tidak, kemudian sejauh mana lingkungan sosial mendukung perilaku seseorang mencari bantuan, serta keyakinan seseorang untuk mampu menerapkan perilaku mencari bantuan. Hal-hal tersebut akan memengaruhi niat seseorang. Semakin kuat niat yang dimiliki seseorang, maka perilaku mencari bantuan pun cenderung terjadi.

Sikap enggan atau menunda mencari bantuan dapat menghalangi remaja mendapatkan penanganan yang tepat. Pinto dkk. (2014) menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental remaja yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan menurunkan kualitas hidup dan menghambat perkembangan seseorang. Hal tersebut juga akan memicu kerentanan remaja terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkotika, konsumsi alkohol, perilaku seksual yang tidak sehat, kriminalitas, self-harm, dan percobaan bunuh diri. Hal-hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini pada remaja.

Menyadari pentingnya perilaku mencari bantuan pada remaja, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk membentuk perilaku mencari bantuan dalam hal kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan oleh remaja yaitu membangun self-awareness (kesadaran diri). Menurut Rickwood dkk. (2005), remaja dengan self-awareness yang tinggi akan mampu mengenali emosi yang dirasakan, lebih menyadari hal yang menjadi kebutuhan mereka untuk merasa lebih baik, dan cenderung lebih mampu menerima kelebihan maupun kekurangan diri. Hal ini akan mendorong remaja untuk lebih terbuka meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya.

Selain itu, lingkungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun guru memiliki peran krusial untuk mendorong remaja secara aktif mencari bantuan (Eigenhuis dkk., 2021). Misalnya, pemberian informasi layanan kesehatan dan edukasi kesehatan dari pihak sekolah untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja. Selain itu, teman sebaya dapat menjadi sumber dukungan emosional untuk remaja agar mencari bantuan ketika sedang merasa tidak baik-baik saja. Orang tua juga dapat menjadi sumber dukungan berharga bagi remaja untuk memulai proses rujukan ke bantuan profesional. Penelitian Hellström dan Beckman (2021) menyatakan bahwa remaja sangat membutuhkan orang dewasa untuk hadir membantu dan mendengar kebutuhan mereka.

Kesadaran akan pentingnya mencari bantuan menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih berdaya. Pencarian bantuan memiliki potensi untuk menurunkan tingkat keparahan, mempercepat proses pemulihan, dan mengurangi risiko timbulnya masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Ketika remaja mau menerapkan perilaku mencari bantuan, maka beban yang selama ini mereka pendam dan tumpuk terlalu lama perlahan akan berkurang. Remaja dapat mencari bantuan dengan mulai berani bercerita ke orang terdekat, bergabung dengan komunitas yang suportif, dan mencari bantuan profesional di unit layanan kesehatan terdekat maupun mengakses aplikasi layanan kesehatan online. Ingatlah bahwa mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Referensi

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50, 179-211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T 

Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Bloomberg Hopkins School of Public Health. (2022). Indonesia—National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan Penelitian. Pusat Kesehatan Reproduksi.

Eigenhuis, E., Waumans, R. C., Muntingh, A. D. T., Westerman, M. J., Van Meijel, M., Batelaan, N. M., & Van Balkom, A. J. L. M. (2021). Facilitating factors and barriers in help-seeking behaviour in adolescents and young adults with depressive symptoms: A qualitative study. PLOS ONE, 16(3), e0247516. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0247516 

Hellström, L., & Beckman, L. (2021). Life challenges and barriers to help seeking: Adolescents’ and young adults’ voices of mental health. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(24), 13101. https://doi.org/10.3390/ijerph182413101 

Lin, J., & Guo, W. (2024). The research on risk factors for adolescents’ mental health. Behavioral Sciences, 14(4), 263. https://doi.org/10.3390/bs14040263 

Merikangas, K. R., He, J., Burstein, M., Swanson, S. A., Avenevoli, S., Cui, L., Benjet, C., Georgiades, K., & Swendsen, J. (2010). Lifetime prevalence of mental disorders in U.S. adolescents: Results from the National Comorbidity Survey Replication–Adolescent Supplement (NCS-A). Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 49(10), 980–989. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2010.05.017 

Ogden, J. (2023). Health psychology: A textbook (7th ed.). McGraw Hill.

Pinto, A. C. S., Luna, I. T., Sivla, A. D. A., Pinheiro, P. N. D. C., Braga, V. A. B., & Souza, Â. M. A. E. (2014). Risk factors associated with mental health issues in adolescents: A integrative review. Revista Da Escola de Enfermagem Da USP, 48(3), 555–564. https://doi.org/10.1590/S0080-623420140000300022 

Rickwood, D., Deane, F. P., Wilson, C. J., & Ciarrochi, J. (2005). Young people’s help-seeking for mental health problems. Australian E-Journal for the Advancement of Mental Health, 4(3), 218–251. https://doi.org/10.5172/jamh.4.3.218 

Santrock, J. W. (2020). A topical approach to life-span development (10th ed.). McGraw-Hill Education.

Sulistiowati, N. M. D., Keliat, B. A., Ismail, R. I., Besral, B., Darsana, I. W., & Triana, I. K. D. L. (2022). Risk factors, protective factors, and mental health well-being among adolescents: A multiple mediator model. International Journal of Health Sciences, 6, 7826–7841. https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS5.11695 

Syakarofath, N. A., & Widyasari, D. C. (2023). The attitude of help-seeking behavior preventing from mental health problems among adolescents living in district of Bondowoso. Jurnal Psikologi Integratif, 11(1), 25-39. World Health Organization. (2021). Mental health of adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

123

Recent Posts

  • Kolaborasi UGM dengan Ghana dan Ekuador dalam Riset STRONG-YOUTH untuk Mengkaji Perlindungan Pemuda dari Risiko Eksploitasi Ekonomi Daring di Kawasan Global South
  • Dosen Fakultas Psikologi UGM Raih Prestasi Gemilang dalam Hibah EQUITY WCU 2025/2026 untuk Mengembangkan FIMF Scale
  • Tim Fakultas Psikologi UGM Raih UNICEF Grant untuk Pengembangan Perangkat Kesehatan dan Pembelajaran Inklusif
  • Webinar Temani dari Jauh, Dukung Sepenuh Hati: Sesi Berbagi
  • CLSD Onboarding in Wonderland: Memulai Perjalanan Internship dengan Semangat dan Kreativitas
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY