
Universitas Gadjah Mada bersama University of Ghana, Ghana dan Universidad Técnica de Manabí, Ekuador, melaksanakan riset yang bertajuk “STRONG-YOUTH: Socio-Technical Responses to Online Neglect and Global Youth Economic Exploitation”, yakni sebuah proyek kolaboratif lintas negara yang berfokus pada perlindungan pemuda dari eksploitasi ekonomi daring di kawasan Global South. Riset ini dilaksanakan sebagai respons atas percepatan digitalisasi di negara-negara Global South yang tidak selalu diiringi dengan sistem perlindungan memadai bagi pemuda. Perkembangan platform digital membuka peluang ekonomi, namun juga menghadirkan risiko berupa penipuan dan perjudian online, praktik predatory lending (pemberian pinjaman secara tidak adil, menipu, atau bersifat memaksa), serta kurangnya pengawasan terhadap aktivitas digital pemuda. Dampak eksploitasi tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan sosial individu.
Riset ini dilaksanakan oleh tim lintas fakultas di Universitas Gadjah Mada, terdiri dari Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Teknik diwakilkan oleh Ir. Yun Prihantina Mulyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, Ir. Fitri Trapsilawati, S.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, serta Ir. Ardiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM. Fakultas Psikologi diwakilkan oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. dan Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sementara itu, Fakultas MIPA diwakilkan oleh Arif Nurwidyantoro, S.Kom., M.Cs., Ph.D. Selain Indonesia, Ghana dan Ekuador menjadi mitra utama dalam proyek ini, yakni University of Ghana dan Universidad Técnica de Manabí yang masing-masing diwakilkan oleh Mahmood Brobbey Oppong dan Dr. Lucia Rivadeneira sebagai partner principal investigator. Proyek ini didanai melalui hibah dari u’GOOD The National Research Foundation (NRF), Afrika Selatan, dengan pembagian pendanaan sebesar 25 persen untuk Ekuador, 25 persen untuk Ghana, dan 50 persen untuk Indonesia.
Untuk mengisi celah kajian yang selama ini cenderung berfokus pada literasi digital semata, riset ini menghadirkan pendekatan yang bersifat inklusif dan holistik dengan mengintegrasikan subjek, cara berpikir, dan praktik kerja yang bersifat relasional ke dalam kerangka Relational Well-Being (RWB). Kerangka ini dirancang untuk memahami kesejahteraan dengan mempertimbangkan faktor personal, sosial, lingkungan, serta finansial. Riset ini juga menggunakan pendekatan mixed methods, meliputi survei, text mining, serta metode partisipatif yang melibatkan pemuda, pemerintah, dan sektor swasta. Selain itu, Agent-Based Modeling (ABM) dimanfaatkan untuk mensimulasikan cara berpikir, pola interaksi sosial, dan proses pengambilan keputusan oleh pemuda dalam lingkungan tertentu.
Melalui simulasi pada Agent-Based Modeling (ABM), peneliti dapat menguji kerangka Relational Well-Being (RWB) secara empiris sekaligus menilai efektivitas berbagai strategi intervensi dengan menerapkan kerangka Relational Well-Being (RWB) yang dikembangkan ke dalam model Agent-Based Modeling (ABM) untuk menggambarkan situasi nyata yang dihadapi pemuda. Melalui model ini, peneliti dapat melihat pengaruh perubahan pada satu faktor, seperti tekanan ekonomi atau lemahnya pengawasan pada tingkat kerentanan pemuda terhadap eksploitasi daring. Dengan pendekatan tersebut, riset ini tidak hanya menjelaskan kondisi yang ada, tetapi juga memprediksi kemungkinan dampak di masa depan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan dan program intervensi yang sesuai serta memberikan kontribusi nyata dalam melindungi generasi muda dari eksploitasi ekonomi daring di era digital.











