Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Faculty of Psychology
Center for Life-Span Development (CLSD)
  • Home
  • About Us
    • Managing Team
    • Researchers
    • Interns
    • Associates
  • Articles
  • Courses
  • Activities
    • Pendidikan dan Pengajaran
    • CLSD Reader’s Club
    • Summer Course
    • Photovoice
    • SAELA
    • Community Service
  • [Update 2026] Publikasi
  • Beranda
  • Artikel
  • Artikel
  • page. 4
Arsip:

Artikel

Mengenali Technoference pada Orang Tua: Waspada Risiko Orang Tua Asyik dengan Smartphone Saat Mengasuh Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Thursday, 7 March 2024

Penulis: Kurnia Farwati

Penyunting: Raden Roro Anisa Anggi Dinda

Perkembangan media digital salah satunya smartphone dirasakan manfaatnya untuk semua kalangan, tidak terkecuali orang tua. Smartphone dapat dibawa ke mana pun dan dapat digunakan kapan saja karena bentuk smartphone yang cenderung kecil dan ringan di tangan. Dengan demikian, orang tua dapat menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak mereka dan dalam waktu yang bersamaan juga dapat bertukar pesan dengan teman atau mitra profesional saat melakukan aktivitas pekerjaan secara jarak jauh, atau bahkan dapat menikmati berbagai hiburan yang ada di smartphone miliknya. read more

Generasi Baru, Kebutuhan Baru: Membimbing Pembelajaran Anak Digital Native di Tengah Pengaruh Gadget

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Wednesday, 7 February 2024

Di era yang dipenuhi dengan gemerlap teknologi, anak-anak masa kini tumbuh dalam realitas yang berbeda. Marc Prensky, seorang konsultan pendidikan, menyebut mereka dengan istilah ‘digital native’, yang merujuk pada generasi yang lahir dan tumbuh dengan paparan teknologi, sehingga mereka dianggap sebagai pengguna bahasa digital yang fasih (Prensky, 2001). Generasi ini dimulai dari generasi milenial, yaitu yang lahir pada kisaran tahun 1980 sampai 2000-an, hingga ke generasi-generasi setelahnya (Moran, 2016). Sedangkan, generasi-generasi sebelumnya dikenal dengan istilah ‘digital immigrant’, yaitu generasi yang tidak lahir pada era digital, sehingga baru berkesempatan untuk belajar dan beradaptasi pada teknologi setelah dewasa. read more

Dampak Gadget Terhadap Perkembangan Anak: Memahami Efek Positif dan Negatif

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Thursday, 23 November 2023

Penulis: Vivaldhi Aurel Ramadhan

Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron

Penggunaan gadget telah merevolusi cara kita berinteraksi, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di era digital, anak-anak tumbuh dengan kemudahan dalam mengakses gadget, seperti smartphone, tablet, dan laptop yang telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Gadget dapat menyediakan akses tak terbatas pada informasi, hiburan, dan komunikasi. Namun, perdebatan tentang efek sebenarnya dari penggunaan gadget terus berlanjut, terutama terkait dampaknya pada perkembangan individu dan masyarakat. Saat membahas mengenai dampak gadget terhadap individu dan masyarakat, terdapat dua sisi: efek positif dan negatif. Artikel ini akan berfokus pada dampak gadget terhadap perkembangan anak. read more

Dilema Penggunaan Gawai pada Perkembangan Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Thursday, 23 November 2023

Penulis: Athanasia Dianri Susetiya Putri

Penyunting: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron

Di era digital saat ini, gawai telah menjadi bagian penting dalam kehidupan. Bahkan, gawai tak hanya digunakan oleh orang dewasa, tapi juga kanak-kanak usia dini (Siregar & Yaswinda, 2022). Ya, melihat anak-anak yang lihai bermain gawai tampaknya sudah bukan fenomena yang asing lagi. Lalu, apakah hal ini merupakan hal yang baik atau buruk? Seperti yang kita tahu, usia 6 tahun pertama sering disebut sebagai “masa peka”, yaitu masa kritis dalam perkembangan sehingga stimulus yang diberikan lebih mudah ditangkap oleh anak. Dapat dikatakan anak sangat sensitif atau peka terhadap apa yang ia alami. Periode ini biasanya ditandai dengan tingginya rasa keingintahuan anak yang tampak dari seringnya anak menanyakan hal yang dilihatnya (Hamidah & Purnamasari, 2018; Pebriana, 2017). Dengan begitu, penggunaan gawai tentu memengaruhi perkembangan anak (Siregar & Yaswinda, 2022). Nah, kira-kira apa saja ya dampaknya? Dan apa yang sebaiknya orangtua lakukan agar perkembangan anak dapat optimal di era digital ini? Yuk, simak ulasannya berikut! read more

Mengenal Emosi Anak: Strategi Orang Tua dalam Menangani Anak Temper Tantrum

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Tuesday, 20 June 2023

Penulis: Hanifah Sholihah

Temper tantrum pada umumnya dianggap sebagai fenomena normal yang secara alami pasti terjadi pada anak-anak. Sejalan dengan ini, tantrum ditandai dengan gejala awal dari masalah perilaku yang mengganggu dan terlibat dalam perkembangan gangguan perilaku dan mood anak (Van den akker et al., 2022). Temper tantrum diartikan sebagai munculnya episode kemarahan dan frustasi yang sangat ekstrem (Daniels et al., 2012). Temper tantrum adalah suatu ledakan amarah yang sering terjadi pada anak yang sedang menunjukkan sikap negativistik atau penolakan (Izzaty, 2005). Gangguan perilaku bermasalah temper tantrum paling umum terjadi pada anak-anak sekitar usia 18 bulan hingga 4 tahun (Watson et al., 2010). Lebih lanjut Zuhroh & Kamilah (2020) menjelaskan bahwa anak usia prasekolah yang berusia antara 3 sampai 6 tahun biasanya berperilaku temper tantrum. Perilaku temper tantrum memberikan ruang yang unik bagi anak-anak untuk mengekspresikan frustasi mereka dengan permasalahan yang mereka hadapi dalam menyelesaikan tugas perkembangan. read more

Pentingnya Pemahaman Orang Tua terhadap Pola Asuh Anak

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Tuesday, 20 June 2023

Sumber gambar: freepik.com

Penulis: Hilman Dwi Himawan

Penyunting: Reswara Dyah Prastuty

Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui bahwa salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak. Beragam cara diterapkan orang tua dalam mendidik anak, seperti mendidik dengan memberikan aturan-aturan yang ketat, bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan aturan, mengabaikan hak-hak anak seperti kasih sayang, pendidikan, dan sebagainya, serta memberikan aturan sekaligus kebebasan kepada anak. Bervariasinya pola asuh ini dimungkinkan bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor budaya di mana orang tua berada, kepribadian orang tua, dan sebagainya.  read more

Sibling Rivalry: Jangan Biarkan Anak Bersaing dengan Saudara Sendiri

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 19 June 2023

Penulis: Nur Nisrina Hanif Rifda

Penyunting: Sukmo Bayu Suryo Buwono

Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk ingin diakui dan diterima oleh sekelilingnya. Adanya kebutuhan untuk diakui membuat manusia berusaha untuk melakukan pemenuhan terhadap tujuan tersebut. Meski demikian, upaya pemenuhan yang dilakukan tidak selalu positif, bahkan terkadang dapat memunculkan adanya persaingan antarmanusia. read more

Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram Mengenai Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 19 June 2023

Photo credit: Kompasiana (https://www.kompasiana.com/farouqalghoribi5681/6365a2e94addee0df119d913/biografi-ki-ageng-suryomentaram-k-a-s) read more

Memutus “Lingkaran Setan” Gaya Pengasuhan Authoritarian pada Asian Parents

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Thursday, 15 June 2023

Photo credit: pikwizard.com

Penulis: Maura Olivia Situmorang
Penyunting: Diah Dinar Utami

Melihat realita yang ada, banyak orang tua menjadikan anak sebagai miniatur mereka. Anak diharap bisa menjadi sosok yang diinginkan orang tua meskipun seringkali bertolak belakang dengan keinginan anak. Ambisi ini membuat anak terkesan seperti robot yang bebas diperintah. Gaya pengasuhan seperti ini disebut authoritarian dan pada dasarnya terdapat pada berbagai budaya, tetapi lebih sering dijumpai pada Asian parents. Li dkk. (2010) melaporkan bahwa anak Asia menerima gaya pengasuhan authoritarian yang lebih tinggi dibanding anak Amerika dan Eropa. Gaya pengasuhan ini dicirikan dengan kehangatan emosional yang rendah, kontrol orang tua yang berlebihan, kepatuhan dan rasa hormat yang tinggi pada orang tua, serta komunikasi dua arah yang kurang (Mousavi dkk., 2016).

Cole (2016) mengatakan bahwa selama masa kanak-kanak, Asian parents cenderung mendorong anak untuk menyimpan emosi daripada meminta anak mengekspresikan emosi. Rothbaum & Trommsdorff (2007) menjelaskan, pada budaya Jepang, orang tua berusaha mencegah anak mengalami emosi negatif, sedangkan orang tua pada budaya Barat lebih sering merespon setelah anak tertekan dan membantu anak mengatasi emosinya.

Gaya pengasuhan tersebut berkontribusi pada perkembangan kehidupan dan kesehatan mental anak. Pada masa remaja, anak yang diasuh dengan gaya authoritarian menunjukkan harga diri, kepercayaan diri, self-efficacy, dan kemampuan hubungan interpersonal yang rendah (Ang & Goh, 2006). Pada masa dewasa, mereka menunjukkan kemampuan regulasi diri yang rendah (Shen dkk., 2018). Di samping itu, adanya batasan ketat dan komunikasi buruk menyebabkan stres pada anak meningkat dan akhirnya berimbas pada kesehatan mental.

Melihat adanya dampak buruk gaya pengasuhan authoritarian, orang tua perlu mengevaluasi gaya pengasuhan yang selama ini diterapkan. Umumnya, pola asuh ini diturunkan dari generasi ke generasi. Orang tua yang memiliki trauma masa kecil akibat pengasuhan authoritarian biasanya menerapkan hal serupa pada anaknya. Orang tua perlu memilih dan mempertimbangkan gaya pengasuhan yang terbaik dan berdampak positif bagi perkembangan anak.

Orang tua bisa menerapkan gaya pengasuhan authoritarian dan authoritative secara bersamaan. Di satu sisi, pengasuhan authoritarian diperlukan untuk menghindarkan anak dari perilaku yang destruktif, tetapi di sisi lain bisa menjadi boomerang yang berdampak buruk bagi perkembangan anak. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua:

1. Tidak menekan emosi anak
Orang tua perlu membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya. Ketika anak merasakan emosi negatif, orang tua perlu membimbing anak untuk mengatasi emosi tersebut dengan baik ketimbang menghakimi ataupun meminta anak menahan emosi.

2. Ketahuilah bahwa anak merupakan pribadi yang otentik
Orang tua tidak perlu memaksa segala pilihan anak. Beri mereka otonomi untuk memilih dan melakukan semua yang diinginkan selama hal tersebut positif. Cara ini akan membantu meningkatkan kemandirian pada anak.

3. Memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapat dan mendengarkan
segala keluh kesah mereka

Komunikasi merupakan kunci keharmonisan hubungan anak dan orang tua. Dengan adanya komunikasi yang efektif, anak akan merasa lebih dihargai, meningkatkan kepercayaan diri anak, dan membantu membangun hubungan interpersonal yang lebih baik. read more

Menyoal n-Po generation: Akankah Indonesia mengalami hal yang sama?

ArtikelArtikelArtikel Ilmiah Populer Monday, 5 June 2023

Penulis: Muhammad Ikbal Wahyu Sukron

Penyunting: Diah Dinar Utami

Istilah “n-Po generation” mungkin masih asing terdengar di telinga. Tetapi, bagi kamu yang pernah menonton serial drama korea bertajuk “My Liberation Notes”, tentu familiar dengan permasalahan yang dihadapi oleh individu yang memasuki usia dewasa. Generasi n-Po (n-Posedae) atau numerous giving-up generation merupakan istilah untuk menggambarkan fenomena generasi muda Korea Selatan yang menyerah pada sejumlah poin penting dalam hidup, seperti kehidupan percintaan, pernikahan, menunda memiliki anak, mencari pekerjaan, dan tempat tinggal. Banyak faktor yang menyebabkan generasi muda memilih untuk menyerah, seperti tekanan ekonomi, kenaikan harga, dan kurangnya lapangan pekerjaan, . read more

123456

Recent Posts

  • Highlighting Child and Adolescent Development in the Digital Age, CLSD International Summer Course 2026 Brings Together 144 Participants from 14 Countries
  • Soroti Perkembangan Anak dan Remaja di Era Digital, CLSD International Summer Course 2026 Diikuti 144 Peserta dari 14 Negara
  • CLSD UGM Merefleksikan Prestasi Melalui CLSD End of Year Party 2025: Festival Dangdut Pantura
  • Rahasia Bahagia Lansia: Senior School Ungkap Caranya!
  • Semarak The Reading Buddies: On the Go, Tanam Minat Literasi sejak Usia Dini
Universitas Gadjah Mada

Center for Life-Span Development (CLSD)
D-602, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada
Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia 55281
clsd.psikologi@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY